Puisi

Sajak-sajak Dhery Ane

Tiga Catatan dari Hujan yang Resah

/1/
Di awal hujan yang resah
Aku dengan sisa-sisa luka bertandang ke tungku api;
Menikmati kopi dengan aroma lapang
Dan merasakan kau yang berdebar
Melupakanku pelan-pelan.

/2/
Di awal hujan yang resah
Asap dapur yang alpa dalam ingatan
Hingga menyiksakan aroma sepi dalam bilik hati
Dari mulut seorang lelaki yang kehilangan diri
Kurapalkan doa-doaku yang tulus
Agar bening matamu dan hangat aliran darahmu
Senantiasa memendam cerita kita.

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

/3/
Adalah sukacita duduk di tungku api untuk mematangkan segala harapan
Karena mengasihimu jauh lebih nikmat
Dari seteguk kopi hangat,
Demikian kulesapkan segala rindu ini
Demi tubuhnya kau sebagai benih jagung paling unggul
Di awal hujan yang resah.

Kupang, 2019

Menunggumu di Padang

/1/
Menunggumu di padang tempat dimana kau lesapkan senyummu yang gamang. Angin senja berhembus menenggelamkan liang luka di dadaku. Dan kesetiaan adalah mawar terahkir yang tumbuh dalam dirimu meski kutahu di taman hatimu tumbuh pohon-pohon lontar dan lumut yang di ujung rongganya selalu lupa kaubersihkan

Tapi. Aku tak akan diremas kesedihan karena jiwaku yang sudah tuntas menggembara telah singgah di terminal hatimu. Selamanya. Selamanya

/2/
Maka dari arah barat. Matahari belum mengusap matanya dan merenggangkan tubuhnya. Dari balik padang kau muncul bermahkotahkan senyum dan tawa. Di ujung saku bajumu kau sisipkan Alkitab sebagai peluru paling jitu yang kau pakai untuk menaklukan Ular dan tipu daya beelszebul dan kau pun berlari lalu memeluk tubuhku yang pasrah berulang kali. Maka, di dada ini kupaham: pertemuan membuat kita begitu terperangkap di luar badai, hujan, cuaca, dan amarah

Kupang, 2019

Eden, Suatu Malam

Di lembah Eden yang hijau
Tuhan meniduriku dengan aroma udara malam yang dingin
Diambilnya seluruh sepi dari tulangku
Dan ditiupkannya rindu ke dalam dadamu

Di balik pohon pengetahuan
Tuhan mengampuni deru separuh dosaku
Dan ke dalam bening sungai Tigris
Tuhan menghanyutkan segala sesal dari binar matamu
Di antara kabut malam yang gamang
Tuhan berkata
“semua baik adanya”

Kupang, 2019


Tentang Penulis:

Dhery Ane bernama lengkap Aloysius Hesronius Dhery. Lahir di Seon, Malaka, Ntt pada 15 Apri 1998. Ia merupakan alumni SMA Seminari Lalian Atambua. Sekarang, ia mengenyam pendidikan  sebagai mahasiswa semester IV di Fakultas Filsafat Universitas Katolik  Widya Mandira Kupang. Ia menyukai sastra, musik, dan sering tampil dalam berbagai acara sebagai master of ceremony.

Ia bergabung dalam komunitas sastra filokalia, dan aktif menulis cerpen, opini, dan puisi di sejumlah media darling. Karya puisinya diterbitkan dalam buku antologi Ide Ide Cerdas (2018) Jawara Hati (2018), oleh penerbit Antero Literasi Indonesia, Tirai Warna (2019) oleh penerbit Mandala, dan Menenun Rinai Hujan (2019) bersama Eyang Sapardi Djoko Damono. Ia dapat dihubungi melalui @dhery.98.

Editor: Yulia

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button