Cerpen

Cerpen Firda Rastia: Anak Laki-Laki dan Musim Dingin di Kepalanya

Musim dingin yang tua dan menyedihkan itu berusaha mengetuk pintu. Musim dingin sepertinya ingin duduk di sebelah kompor … ,”tapi jika kau hanya akan mengacaukan rumah orang lain seperti ini, lebih baik jangan pernah datang kembali.” 

biem.co — Anak lelaki itu menutup bukunya dan untuk sesaat memfokuskan matanya pada satu titik ke arah tiang lampu baca di depannya. Ia sedang membayangkan seperti apa musim dingin itu. Apakah musim dingin itu adalah segala hal yang berwana putih, seperti pada serial film “The Chronicles of Narnia” yang ia simak di layar televisi. Bahkan, seusai menonton film tersebut, ia membayangkan bahwa musim dingin berarti semuanya menjadi putih dengan kepungan salju-salju. 

Denting waktu berbunyi 12 kali. Hari sudah memasuki waktu yang baru. Anak lelaki yang masih memikirkan musim dingin itu merebahkan dirinya di atas kasur lantai yang tidak seberapa empuk dan menarik selimut tipis sampai menutupi sebagian wajahnya dan hanya menyisakan matanya. Matanya yang hitam dan alis tebal yang menegaskan bagian atas wajahnya itu tidak langsung terpejam. Ia masih memutar imajinasi di kepalanya. Musim dingin. Musim dingin. Begitulah pikirannya menggerutu sampai kantuk menyergapnya perlahan dan pasti. Sampai anak lelaki itu tidur dengan membawa “musim dingin” di kepalanya. 

***

Seekor rusa menatapnya dari jarak tidak sampai dua meter. Di mulutnya terkunyah dedaunan kering yang dingin karena angin musim dingin. Di kejauhan malam, suara-suara binatang malam tak kalah mengejutkan. Dari arah hutan, terdengar krasak-krusuk seperti seseorang yang berjalan menginjak reranting tua dan daun-daun kering. Malam pekat. Dingin melekat, menusuk-nusuk. Anak lelaki itu tersesat. Tidak tahu apa yang mesti diperbuat. 

Rusa yang yang menatapnya tadi perlahan pergi ke arah hutan yang gelap. Sambil mengeluarkan suara yang aneh, seperti tangisan anak kecil. Setidaknya satu kecemasan lewat dan memberikan sedikit waktu bagi anak lelaki itu untuk bernapas lega. 

Ia tersesat. Tentu saja. Dalam hutan yang pekat dan dingin udara yang melekat, ia kembali membayangkan: inikah musim dingin? 

Anak lelaki itu melihat sekelilingnya. Ada begitu banyak pepohonan. Apa nama pohon itu? Cemara? Dedalu? Yang mana pohon maple? Semua pohon tampak sama. Hitam. Beberapa di antaranya tidak berdaun, hanya terdiri atas batang dan reranting. Anak lelaki itu berkata sekali lagi, “Inikah musim dingin?” 

Ia tidak tahu bagaimana dirinya bisa berada di tempat yang asing itu. Namun, jantungnya berdegup hebat. Iramanya tak beraturan. Ini mengingatkanya pada sebuah frasa dalam sebuah novel yang pernah dibacanya “degup jantung paling agung”. Seperti itulah degup jantungnya saat ini. Anak lelaki itu merasakan sesuatu yang memicu adrenalinnya. Barangkali, dalam hidupnya, ini adalah momen paling mendebarkan yang pernah ia rasakan. 

Tidak mau melewatkan momen langka sekaligus aneh, anak lelaki itu mulai menyusuri tempat yang mungkin bernama “Hutan Bersalju”. Ia merasakan dirinya begitu ringan, padahal suhu ditempat itu mungkin saja di bawah nol derajat. Ia tidak memedulikannya. Ia hanya ingin menikmatinya. 

Di tempat ia menemukan sang rusa tadi, di hadapannya ada jalan setapak. Jalan itu berwarna cokelat dan dikelilingi warna-warna putih. Meski waktu mungkin memasuki tengah malam, warna putih yang dingin itu begitu nyata. Ia merasakan basah pada bagian bawah celana dan sarung tangannya. Sarung tangan? Tunggu dulu! Sesaat, anak lelaki itu meraba seluruh tubuhnya, dari kepala sampai kaki. Oho! Kepalanya ditutupi sebuah benda, seperti sebuah topi yang dirajut. Hangat. Badannya terbalut mantel berbulu tebal dan tangannya terbungkus sarung yang hangat. Kakinya tertanam dalam sepasang sepatu musim dingin. Musim dingin! 

“Musim dingin!” anak laki-laki itu berkata girang. “Musim dingin! Musim dingin!” 

Tidak salah. Ia yang melompat-lompat kegirangan menyambut suatu hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tahu ini serasa mimpi. Kalaupun mimpi, ia tidak ingin segera bangun dari tidurnya. Kalaupun mimpi, ia segera melupakan kalau itu mimpi. Ia, anak lelaki yang membayangkan datangnya musim dingin tiap malam itu, benar-benar berada di musim dingin. 

Ia berjalan sepanjang jalan setapak yang membentang di penglihatannya. Ia mengikuti alurnya. Hingga pada suatu tempat, ia berhenti dan terlihat olehnya pantulan cahaya yang sedemikian terang sehingga tubuhnya terlompat dan sebelah punggung tangannya menutupi wajahnya. Cahaya yang dilihatnya begitu terang. Cukup membuat pupil mata mengecil dan sebagian pandangan tampak kabur. 

“Wah,” gumamnya. 

Anak lelaki itu, teringat akan sebuah adegan dan karakter dalam sebuah film. Semacam “Peri Musim Dingin” yang tubuhnya begitu putih dan tampak menyilaukan. Demikianlah, ia menggambarkan benda atau sosok yang bercahaya itu. 

“Peri Musim Dinginkah itu?” 

Tidak ada suara-suara selain suara malam yang menyahut pertanyaan konyol anak lelaki itu. Sia-sia. Malam makin dingin dan angin tidak lagi memberikan kompromi. Sementara itu, bintang-bintang dan cahaya rembulan sudah tertutup awan. Entah sejak kapan. Hanya sebuah atau sesosok sinar terang itulah yang menjadi sumber cahaya. 

Anak lelaki berusaha mendekat. Jantungnya kembali berdegup. Degupan dahsyat yang memompa adrenalin. Kuriositasnya bekerja. Anak lelaki itu tanpa membuang waktu mendatangi cahaya di depannya. Sepasang mata dan seutas senyum di bibir tergambar pada sebuah sketsa melalui pantulan cahaya. Sebuah ekspresi yang sulit tergambarkan dan cukup membuat tubuh anak lelaki itu sejenak membeku. Ada suatu perasaan yang aneh dan degup  jantungnya berantakan sekejap berirama teratur, tetapi menakutkan. Ia tertangkap, tetapi pada apa, ia tidak tahu. 

Semakin mendekati cahaya, semakin ia merasakan suatu perasaan yang aneh. Ada semacam kebahagiaan sekaligus ketakutan. Kebahagian macam apa? Ia tidak yakin. Barangkali semacam  kebahagiaan paling agung yang pernah ia rasakan. Lalu, ketakutan seperti apa yang ia rasakan juga tidak terdeskripsikan. Sekali lagi ia berkata pada benda kecil kelabu di kepalanya, “Inikah … Inikah … Ah! Ini musim dingin!” Sejalan dengan ketegasan kata-katanya, ia tak ragu mendekati sesosok cahaya yang masih ia yakin sebagai Peri Musim Dingin. 

Anak laki-laki itu dengan segenap kebahagiaan sekaligus ketakutan dan perasaan-perasaan aneh lainnya berlari ke arah cahaya. Ia berlari, berlari, dan berlari seolah tidak mau kehilangan jejak musim dingin di depannya. 

Namun, tepat saat hampir bisa menangkap cahaya itu, ia tersuruk. Tubuhnya terguling dan terpelating ke dasar sebuah jurang yang dalam. Jurang yang tak berdasar, dingin, dan lembap. Sesaat, anak laki-laki itu seperti dijungkirbalikkan di atas sebuah roller coaster. Dugup jantungnya yang mahadahsyat itu kembali mengeluarkan irama tak beraturan. Ingin sekali berteriak, tetapi pita suaranya seakan terjepit. Kemudian, pada sebuah puncak ketakutannya, anak laki-laki itu mengangkat sebelah tangannya dan sebelah tangannya lagi ia letakkan di dadanya. Seperti ingin meraih sesuatu semacam ranting atau apa pun itu yang dapat menyelamatkannya dari ketakutan yang terkutuk itu dan samar-samar dari mulutnya ia berkata, “Ah, musim dinginkah ini?” 

*** 

Anak lelaki itu terbangun dari petualangan panjangnya. Di keheningan pagi, ia mendengar suara napasnya memburu. Keringat dingin membasahi keningnya. Desir angin pagi menusuk lembut tubuhnya. Ia masih merasakan degup jantungnya yang dahsyat. Ia melihat ke sekelilingnya dan memastikan bahwa ia berada di tempat yang semestinya: di kamarnya.

Anak laki-laki itu kemudian merasa haus. Tenggorokannya kering. Apakah tadi ia berteriak dalam mimpi? Ia tidak ingat. Ia pergi ke dapur untuk mengambil dan menegak segelas air. Samar-samar, ia mendengar suara yang begitu diingatnya. Suara air yang mengucur dari keran. Suara teko air panas yang dirajang di atas kompor. Suara percikan minyak di atas penggorengan dan suara seorang perempuan yang tidak asing: Suara ibunya. Anak laki-laki itu mempercepat langkahnya menuju dapur. Jantungnya kembali berdegup kencang. Ia yakin itu adalah ibunya. Ibunya telah kembali. Ia akan memeluk ibunya dari belakang. 

“Ibu? Sudah kembali rupanya?” seru anak laki-laki itu, “Ibu dari mana saja?” 

Namun, idak ada jawaban.  

Tidak ada siapa pun. 

Tidak ada apa pun. 

Seseorang yang disebut ibu itu hanyalah sebuah kekosongan.  Seseorang yang ia sebut ibu itu tidak ada. Tidak ada di dapur. Tidak ada di kamar mandi. Tidak ada di kamarnya. Tidak ada di mana-mana. Tidak  ada apa-apa. Tidak terjadi apa pun di dapur, di rumah itu. Sekali lagi, yang ia dengar hanya suara pagi yang sepi dan dimgin menusuk lembut tubuh anak laki-laki itu dan ia sekali lagi berkata, “Ah, inikah musim dingin?” (*)

Serang, 1 Agustus 2020 


Tentang Penulis:

Penulis bernama lengkap Firda Rastia. Masih tinggal di kota yang sempit dan panas: Serang. Penulis masih menjadi pembaca setia Murakami dan Agatha Christie. 

Editor : Happy Hawra
Tags

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button