Cerpen

Cerpen Siti Hajar: Warman si Pencuri Ikan

biem.co — Warman adalah seorang kuli serabutan di sebuah desa kecil di pinggir kota. Dia tinggal bersama seorang istri dan dua orang anaknya di sebuah gubuk kecil berdinding bambu dan berlantai kayu. Hanya ada tiga ruangan di rumah panggung tersebut. Satu ruang tengah, kemudian ruang tidur, dan sisanya dapur. Tidak ada kamar mandi. Ketika malam tiba, udara desa yang dingin masuk ke dalam celah-celah kecil dinding bambu. Jika tengah malam ingin buang hajat, Warman pergi ke kebun belakang rumah.

Setiap hari Warman mengambil air untuk kebutuhan memasak dari sungai yang jauhnya hampir satu KM dari rumah. Bersama anak sulungnya yang mulai beranjak bujang, Warman menaiki dan menuruni bukit kecil dengan membawa dua ember Falcon besar. Ia lakukan ini dua kali sehari pagi dan sore. Bagi warman musim hujan adalah sebuah berkah, karena tidak harus mengambil air ke sungai. Akan tetapi terkadang membuat sepi pekerjaanya. Dalam hidup semuanya selalu ada untung dan ruginya. Jadi, dia selalu bersyukur dalam keadaan apapun.

Warman tidak pernah mengenyam pendidikan. Oleh karenanya dia tidak bisa membaca ataupun menulis. Bekerja hanya mengandalkan kekuatan fisik, Warman tidak pernah mengeluh. Rasa lelah mendera, baginya sudah terbayar dengan senyuman Ikhsan dan Lina, anak-anaknya.

Warman sering disuruh penduduk desa untuk bermacam-macam pekerjaan, seperti kuli bangunan kalau ada yang bangun rumah, membereskan rumput liar, mencangkul kebun palawija dan terkadang kalau musim panen jadi kuli angkat gabah. Bayarannya hanya seikhlasnya orang memberi. Terkadang ada penduduk desa yang sangat pelit, memberi upah hanya dengan makanan sisa atau simpanan yang sudah hampir busuk. Tapi terkadang ada juga penduduk yang baik hati memberinya uang dan beras. Dia tidak pernah mematok harga, ada yang menyuruhnya saja sudah syukur baginya.

Beberapa bulan ini Warman sepi pekerjaan. Tidak ada yang menyuruhnya, bahkan hanya untuk membetulkan genteng yang bocor pun tidak ada. Konaah, sang istri, sudah berhutang ke sana kemari, pada tetangga dan warung langganan. Apalagi bulan ini adalah bulan Ramadan. Tidak tega rasanya jika melihat anak-anaknya kelaparan. Terutama Lina yang usianya masih lima tahun.

Bulan Ramadan yang katanya bulan penuh berkah itu tidak berlaku bagi keluarga Warman. Hari demi hari terasa sangat sulit baginya. Sampai ketika dua hari menjelang Lebaran, tidak sepeser pun uang ia kantongi. Ia mulai putus asa mendengar rengekan Lina minta opor ayam. Belum lagi Ikhsan yang walaupun sudah kelas 4SD tetap merajuk meminta baju Koko.

Di tengah rasa putus asa, munculah ide busuknya untuk mencuri ikan di kolam ikan penduduk desanya. Sejak pagi, ia mengatur rencana. Sudah ia putuskan akan melakukannya malam ini. Ia pamit kepada istrinya untuk bekerja di rumah Pak Harun, seorang kakek tua yang sering dipanggilnya Abah. Abah adalah orang yang sangat baik dan bijaksana di desa. Abah tidak terlalu kaya, tapi termasuk cukup.

“Nyai, Akang pergi dulu ke rumah Abah,” Warman hanya asal bilang pada istrinya agar tidak curiga.

“Semoga hari ini dapat rezeki ya, Kang,” doa istrinya seraya mencium tangan suaminya.

Hari mulai gelap, Warman terus berjalan cepat membawa jaring ikan dan sebuah karung bekas menuju kolam ikan. Ada banyak kolam ikan penduduk desa, namun Warman memutuskan mengambil ikan di kolam Pak Tarmidzi yang kaya raya. Karena ia pikir, ketika mengambil beberapa ekor tidak akan kelihatan. Lagi pula ikan Pak Tarmidzi sangat melimpah dan ia juga terkenal pelit di desa.

Ketika malam sudah larut, nyanyian katak dan desiran angin malam menjadi teman Warman menjala ikan Pak Tarmidzi satu per satu. Memang benar apa yang sering dikatakan penduduk desa, kolam Pak Tarmidzi ikannya sangat berlimpah dan besar-besar. Rasa senang dan keasyikan menjala ikan, membuat Warman terlarut. Sudah hampir satu karung ikan yang ia tangkap.

Namun malam itu, nasib baik tidak berpihak padanya. Dari kejauhan tiba-tiba Pak Tarmidzi sudah berdiri atas tebing memperhatikan kolam ikanya yang sedang di jarah Warman. Tidak biasanya ia pergi ke empang larut malam. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba memeriksa kolam ikanya, apakah itu firasatnya atau hanya kesialan Warman. Hanya Tuhan yang tahu. Tuhan yang merencanakan.

Pak Tarmidzi turun dengan lampu patromak di tangan kanannya. Ia nampak marah besar. Warman yang keasyikan, tidak sadar bahwa pemilik sudah berdiri di tepi kolam ikannya. Warman kaget dan terbata, ia mulai mencari-cari alasan namun tidak menemukannya. Ia gelagapan

“Pak Tarmidzi, saya….. saya….”

“Dasar kau sampah masyakarat! Beraninya mengambil ikan milikku. Keluar dari kolamku!“

Walaupun di kegelapan malam, Warman tahu raut muka dan matanya yang memerah menahan marah. Warman gemetar, entah karena kedinginan atau ketakutan, Warman tidak meyakininya. Segera ia keluar dari kolam lalu segera bersujud di kaki Pak Tarmidzi. Dengan badan yang basah kuyup dan angin malam yang kian menusuk, Warman meminta belas kasihan.

Pak Tarmidzi memalingkan muka bengisnya, dan lekas meninggalkannya sambil berkata “Aku akan segera melaporkan kepada Pak RW. Lekaslah bersiap-siap untuk menerima semua balasan apa yang sudah kamu perbuat.”

Warman terduduk lesu. Tidak ada lagi yang ia pikirkan. Ia pulang ke rumah, membawa sekarung ikan hasil curiannya dengan perasaan campur aduk. Karung ikan ia geletakan di depan rumah begitu saja. Ketika Warman mengetuk pintu, Konaah kaget karena suaminya basah kuyup dan baru pulang selarut ini.

“Kang kenapa bajumu basah semua, dan kenapa jam segini baru pulang?”

Warman hanya diam. Segera ia mengganti baju dan tidur di kamar, mengabaikan semua pertanyaan istrinya yang penasaran. Tidak ada hal yang bisa ia lakukan. Kabur dari rumah tidak akan bisa. Kemana ia harus pergi. Ia hanya akan menunggu, keputusan apa yang akan diambil Pak RW besok. Malam yang hanya tinggal seperempat lagi, terasa sangat panjang baginya. Ia sangat gelisah memikirkan hari esok.

Menjelang siang, berita pencurian ikan Pak Tarmidzi sudah menyebar luas. Tidak heran karena istri Pak Tarmidzi senang bergosip. Beberapa penduduk kampung ada yang tidak percaya. Namun ada juga yang menambah-nambah cerita menjadi berlebihan. Hal ini membuat para pemuda kampung yang sering menamakan diri mereka Karang Taruna mendesak Pak RW untuk melakukan sesuatu pada Warman, si pencuri ikan.

Warman yang sedari malam hanya berdiam diri, bangkit dari kamarnya. Suara riuh di luar membuatnya terpaksa keluar. Di depan rumah kecil itu, semua penduduk kampung berkumpul dan mencaci maki dirinya. Orang-orang yang sudah sepuh, sesungguhnya lebih banyak bersimpati pada Warman. Namun, para pemuda yang darahnya panas mengutuk Warman habis-habisan dengan kata-kata yang menyakitkan. Warman hanya pasrah tak berkata apapun. Ia tertunduk lemas dengan muka merah saking malunya.

Warman diarak sampai ke desa tetangga dengan berkalung ikan. Hampir semua penduduk kampung, ikut barisan di belakang untuk mengarak Warman. Iring-iringan ini tampak seperti barisan saat akan merayakan tujuh belas Agustus. Beberapa orang yang sudah tua menangis dan tidak tega melihatnya. Namun mereka tidak punya kekuatan untuk menyelamatkan Warman.

Istri Warman yang segera tahu apa yang terjadi, menangis sesenggukan melihat sang suami dipermalukan. Beberapa orang merangkulnya dan menguatkannya. Sedangkan anak-anak yang tidak tahu apa-apa hanya ikut berlari ke sana kemari, kebingungan melihat banyak orang. Lina dan Ikhsan menerka-nerka, apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. Namun ketika melihat ibu mereka menangis, mereka dapat menyimpulkan bahwa sesuatu yang tidak baik sedang terjadi.

Setelah seharian diarak keliling kampung, Warman pulang ke rumah dengan perasaan hancur dan lebih banyak rasa sakit yang ia rasakan. Ikan sekarung hasil curianya, dibawa para pemuda untuk berpesta menyambut lebaran. Sedangkan ia hanya di sisakan empat ekor ikan emas.

Bedug dan takbir lebaran berkumandang di mana-mana. Rumah Warman sepi, pahit dan menyesakkan. Tidak ada yang berbicara termasuk Lina yang masih kecil. Ia tampak begitu mengerti apa yang terjadi pada keluarganya. Ikhsan juga membisu. Konaah yang tidak berhenti menangis dari semalam, memaksakan diri memasak beras pemberian Pak Harun tadi pagi. Ikan emas pembawa petaka itu akhirnya ia masak juga. Tidak ada yang makan. Semua hanya terdiam. Nasi dan ikan hanya teronggok di meja. Warman menatap kosong, tak ada hal apapun yang bisa ia lakukan untuk keluar dari penyiksaan itu.

Tiba-tiba pintu diketuk, terlihat Pak Harun dan istrinya membawa ketupat dan opor. Konaah segera mempersilahkan masuk tamu pertamanya dan mungkin hanya mereka satu-satunya tamu yang mau mengetuk pintu gubuk kecil itu. Tidak ada satu penduduk yang mau mengunjunginya. Warman terisolasi dan bahkan dikucilkan penduduk desa.

Pak Harun menepuk pundak Warman dengan penuh simpati.

“Ada hal-hal yang menyakitkan di dunia ini. Terkadang kita hanya perlu merasakanya tanpa harus melawan atau mencoba melupakannya. Semuanya pasti terlewati, Warman”.

Air mata Warman menetes. Setelah dua hari menahan semuanya, akhirnya pecah juga tangisnya itu. Walaupun ia lelaki dan seorang ayah yang harus selalu tampak kuat, menangis adalah satu-satunya cara untuk menumpahkan semua rasa sedih dan luka yang menganga di dadanya. Konaah juga mulai menangis lagi, sedangkan anak-anak hanya terdiam membisu.

Seminggu setelah kejadian itu. Warman dan keluarganya pergi meninggalkan kampung. Tidak ada yang tahu dia kemana, bahkan tidak banyak yang menyadari kepergiannya, Kecuali Pak Harun dan istrinya. Orang-orang desa tidak ada yang peduli dia masih hidup atau tidak.

Warman si kuli serabutan itu, tidak ada lagi di desa itu. Hanya sepenggal kisah hidupnya yang tragis yang sering jadi buah bibir. Lambat laun keluarga Warman hilang dari ingatan penduduk desa dan pada akhirnya cerita tentang si pencuri ikan juga tak terdengar lagi. (*)


Siti Hajar. Ia dapat dihubungi melalui email [email protected]

Editor : Happy Hawra
Tags

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button