KabarTerkini

Indonesia Food Bank: Bijak dalam Mengonsumsi Makanan

JAKARTA, biem.co – Relawan Indonesia Food Bank (IFB), baru-baru ini diundang sebagai pembicara dalam acara Fourth Indonesia bertajuk “Food Waste Campaign for Our Earth”, di London School of Public Relation (LSPR), Jakarta. Diketahui, acara tersebut merupakan salah satu bagian dari rangkaian acara Mini Festival of International Relations – Batch XIX yang diselenggarakan oleh LSPR pada 16-18 Januari 2018.

Firza Muhammad Firdaus selaku Koordinator Serang Food Bank yang didaulat menjadi pembicara menyebutkan, dalam diskusi tersebut IFB berbagi soal beberapa hal, terkait profil organisasi, gerakan-gerakan yang dilakukan, serta bagaimana bentuk kerjasama IFB dengan pemerintah dan berbagai perusahaan. Selain itu, IFB juga angkat bicara soal food waste dan bagaimana dampaknya terhadap lingkungan.

Firza mengatakan, pada umumnya food waste atau sampah makanan ini kebanyakan berasal dari produk-produk pertanian seperti sayuran atau buah-buahan. Di mana ketika sampah tersebut menumpuk, maka akan menimbulkan bau yang sangat luar biasa, juga akan menghasilkan gas metana.

“Gas metana ini adalah yang bisa merusak efek rumah kaca, bahkan lebih buruk dibandingkan CO2. Ini yang nantinya bisa berdampak pada perubahan iklim. Air dan tanah di sekitarnya pun akan rusak, sehingga tidak bisa ditanami tanaman lagi,” ungkap Firza saat diwawancarai oleh biem.co.

Untuk mengatasi hal tersebut, lanjutnya, IFB memiliki keinginan untuk bekerjasama dengan retail-retail atau restoran-restoran. Di mana biasanya pihak-pihak tersebut akan mengembalikan kembali produk-produk makanan yang dua bulan lagi akan kadaluarsa kepada perusahaan. Yang kemudian produk itu akan dimusnahkan. Padahal, produk tersebut masih layak makan, meski sudah tidak layak jual.

“Nah, Indonesia Food Bank ambil peran di situ. Daripada dibuang, lebih baik makanan-makanan dari retail atau restoran yang masih layak makan tersebut disalurkan ke kita, biar kita bisa salurkan lagi kepada yang membutuhkan. Karena di sisi lain, masih banyak orang di luar sana yang kelaparan,” imbuhnya.

Selain itu, tambah Firza, pihaknya juga turut melakukan kampanye di media sosial tentang pentingnya gizi seimbang dalam pemenuhan kalori yang sesuai kebutuhan. Di mana, pihaknya mengajak setiap orang untuk tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan atau mengupayakan mengambil makanan secukupnya agar tidak terjadi sisa.

“Kita harus tau juga 10 gizi seimbang, seperti melihat nutrisinya, gizinya, kalorinya dalam setiap makanan. Masalahnya, di Indonesia ini punya sugesti kuat soal ‘kalau belum makan nasi artinya belum makan’, padahal dia sudah makan ini itu yang sebenarnya kalorinya sudah mencukupi. Sehingga bisa menimbulkan kekenyangan sebelum makanan itu habis, dan kemudian sisanya dibuang. Makanya, kita mau mengampanyekan kepada semua orang untuk bijak dalam mengonsumsi makanan,” terang mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten ini.

Berdasarkan data yang ada, kata Firza, diprediksi pada tahun 2050 mendatang akan terjadi kenaikan populasi hingga mencapai 35%, sedangkan lahan untuk pemenuhan pangan semakin sedikit. Sementara itu, sampah makanan setiap tahunnya terus meningkat. Maka menurutnya akan terjadi ketidakseimbangan. Untuk itu, pihaknya mendukung untuk melakukan kampanye food waste ini.

“Buat temen-temen dan masyarakat supaya lebih bijak lagi dalam mengonsumsi makanan, karena kita juga tau bahwa di belahan dunia lain, di pelosok negeri lain, masih banyak yang kelaparan. Maka dari itu jangan membuang-buang makanan. Makan secukupnya, penuhi kalori yang ada,” pungkasnya. (HH)

Editor : Esih Yuliasari
Tags

Artikel Terkait

Berikan Komentar