InspirasiOpini

Ilham Akbar: Noda Besar di Bulan Ramadhan Itu Bernama Hoax

Oleh: Ilham Akbar

biem.co “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga” (HR. Ath Thobroniy). Kutipan hadits di atas membuktikan bahwa memang ibadah puasa kita terkadang hanya mendapatkan haus dan lapar saja. Maka dari itu, seringkali kita memberikan perspektif sempit mengenai puasa, padahal puasa bukan hanya sekadar menahan keduanya.

Berpuasa yang baik adalah puasa yang bisa menahan amarah, hawa nafsu, bisa menahan diri untuk tidak berbuat buruk, dan menjaga diri untuk tidak menyebarkan kebencian. Itulah makna sebenarnya dari puasa. Akan tetapi, nampaknya mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa diri kita ini sangat sulit untuk melakukan perbuatan yang bermanfaat. Kognitif manusia cenderung terdisonansi dengan hal-hal yang justru akan merugikan ibadah puasanya. Misalnya, ketika di satu sisi ibadah puasa kita berjalan dengan lancar, tetapi di sisi yang lainnya, ibadah puasa kita juga diwarnai dengan perilaku buruk dengan mengomentari kehidupan orang lain, dan menganggap diri kita adalah yang paling benar.

Buktinya, pada saat ini kita seringkali melihat perbuatan yang benar-benar jauh dari etika. Manusia cenderung berorientasi terhadap kebutuhan dirinya sendiri, dan tidak memikirkan orang lain. Misalnya saja di media sosial, semua orang bebas berpendapat tanpa memikirkan terlebih dahulu apa yang akan ia sampaikan. Oleh karenanya pada saat ini, manusia cenderung kurang menerapkan etika dalam berkomunikasi.

Devito A. Joseph, dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Antar Manusia, menerangkan bahwa landasan etika komunikasi sendiri adalah gagasan kebebasan memilih (notion of choice) serta asumsi bahwa setiap orang mempunyai hak untuk menentukan pilihannya sendiri. Komunikasi dikatakan etis bila menjamin kebebasan memilih seseorang dengan memberikan kepada orang tersebut dasar pemilihan yang akurat. Komunikasi dikatakan tidak etis bila mengganggu kebebasan memilih seseorang dengan menghalangi orang tersebut untuk mendapatkan informasi yang relevan dalam menentukan pilihan.

Tanpa kita pungkiri, di era digital seperti ini kita seringkali memaksakan orang lain untuk berpikiran sama dengan diri kita, padahal tidak semua yang ada di dalam diri kita menunjukkan kebenaran. Seperti misalnya, polarisasi pendukung Prabowo dan Jokowi telah memasuki babak baru, padahal kedua tokoh tersebut telah berdamai, tetapi tetap saja pendukung dari kedua tokoh tersebut tidak pernah akur dalam berdialektika di media sosial. Pada akhirnya, berita hoax pun terus berkembang, bahkan sampai saat ini penyebar berita hoax selalu mengatasnamakan bagian dari keduanya.

Penyebar berita hoax memang tidak mengenal siapapun itu. Orang yang mempunyai pendidikan yang tinggi juga terkadang ikut serta dalam menyebarkan berita hoax. Yang baru saja terjadi adalah seorang dosen yang menulis status di Facebooknya, dan menjelaskan bahwa tragedi Bom di Surabaya merupakan bentuk dari pengalihan isu yang sangat hebat. Menurutnya, isu tersebut adalah isu yang berafiliasi dengan pemilihan Presiden tahun 2019. Setelah diketahui, dosen tersebut telah menyebarkan berita hoax.

Berita hoax pun tidak berhenti begitu saja. Sampai saat ini, berita hoax nampaknya sudah merajalela di media sosial. Nahasnya lagi, hoax kini berkembang di bulan Ramadhan. Pada tanggal 24 Mei 2018 kemarin, masyarakat sempat dihebohkan dengan kupon gratis dari McDonald’s Indonesia, walaupun sebenarnya di dalam berita hoax tersebut sudah jelas tidak ada pernyataan resmi dari McDonald’s Indonesia terkait dengan kupon gratis tersebut. Tetapi pada akhirnya, masyarakat mudah sekali untuk tertipu dengan suatu hal yang sangat picisan. Terlebih lagi berita hoax tersebut juga disebarkan melalui pesan pribadi di aplikasi WhatsApp. Sangat disayangkan memang jika Ramadhan tahun ini diwarnai oleh karut marut berita hoax yang sangat sulit untuk dibendung.

Oleh karenanya, sebelum selesai membaca tulisan ini, ijinkan saya untuk mengutip ayat suci Al-Qur’an dari surat AN-Nur ayat 16, yang di mana Allah SWT berfirman bahwa: “Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, maha suci engkau (ya tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.” Sudah seharusnya masyarakat mempunyai kesadaran agar tidak terhasut oleh kebodohan yang seringkali beredar di media sosial. Maka dari itu, berpuasa bukan hanya sekadar menahan haus dan lapar saja, sangat sia-sia jika berpuasa, tetapi justru menyebarkan berita yang tidak benar. (red)


Ilham Akbar, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Serang Raya (Unsera).


Rubrik ini diasuh oleh Fikri Habibi.

Editor: Yulia

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Back to top button