InspirasiSosok

Sebastian Advent Membidik Ruang Publik Lewat Fotografi

biem.co — Tak hanya lagi sebagai hobi dan profesi, fotografi kini telah mendarah daging dalam diri seorang lelaki bernama Sebastian Advent. Bukan tak mungkin, sifat fotografi yang mampu merekam momen dan waktu dalam setiap lini kehidupan, nyatanya membuat Pengpeng—panggilan akrabnya— tertarik untuk menyelami dunia fotografi lebih dalam.

Ketertarikan Pengpeng terhadap fotografi dimulai sejak tahun 2006. Saat itu, Nikon FE menjadi kamera pertama yang dimilikinya dari hasil menyicil. Kesukaannya tersebut yang kemudian membuat Pengpeng memilih masuk ke jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) dengan mengambil konsentrasi Jurnalistik.

Lewat kegemarannya akan fotografi, ia bersama teman-temannya membentuk Komunitas Fotografi Fisip (KFF), yang saat ini masih terus berkembang. Ia juga sempat aktif bergiat di Banten Exposure.

“Komunitas-komunitas itu yang akhirnya mendorong saya untuk terus konsentrasi sama fotografi,” ucapnya.

Lantaran sudah menganggap fotografi sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam hidupnya, ia lalu memutuskan untuk menggali lebih dalam lagi dengan mengambil S-2 di Institut Seni Indonesia jurusan Fotografi.

Menurutnya, fotografi menjadi titik puncak sebuah momen dan waktu, yang mana bukan lagi sekadar sebagai administratif, tetapi juga sebagai dokumen dan arsip.

“Fotografi bisa berbicara lebih banyak ketimbang kita berbicara lewat mulut. Karena foto juga bisa membekukan waktu, dia juga meminjamkan waktu kemarin, hari ini, esok, dan seterusnya. Jadi di setiap lini kehidupan manusia, fotografi ada di tengah-tengah itu,” ungkapnya.

Berangkat dari street photography, Pengpeng mengaku tertarik terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan ruang publik.  Baginya, bicara ruang publik adalah bicara tentang berbagai persoalan.

“Di ruang publik, kita bisa bicara ekonomi, kelas sosial, politik, kita bicara tentang perilaku manusia. Itulah kenapa saya tertarik dengan ruang publik, karena kita nggak akan selesai untuk mempelajari itu,” jelas pria kelahiran Serang, 15 Desember 1990 ini.

Karya-karya Pengpeng sendiri telah banyak dinikmati di berbagai pameran, baik dalam skala lokal maupun nasional. Di tahun 2013, ia berhasil terpilih mewakili mahasiswa Indonesia dalam “Pameran Seni Rupa Nalar Sensasi Seni” yang menampilkan karya-karya mahasiswa se-Asia di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Ia pun kerap mengikuti beberapa pameran street photography dan ruang publik di Yogyakarta. Pernah pula, ia memamerkan karyanya dalam “Pameran Rupa Banten 2014”. Bahkan, beberapa karyanya sempat terbang ke negeri ginseng, Korea Selatan. Pengpeng, telah diakui secara internasional.

Tentu, dalam 12 tahun perjalanannya sebagai seorang fotografer, khususnya sebagai street photographer, ada sosok-sosok yang ia jadikan motivasi dan inspirasi dalam berkarya. Ada Henri Cartier-Bresson, Man Ray, Alfred Stieglitz, dan Robert Capa di kepalanya. Ia juga banyak belajar dari fotografer-fotografer Indonesia seperti Erik Prasetya, Roe, Tompi, dan juga Benny Asrul.

“Mereka punya ketertarikan yang sama. Saya tertarik terhadap apa yang mereka potret. Saya juga tertarik terhadap apa yang mereka pikirkan tentang fotografi. Mungkin melihat karyanya, sih, nomor sekian, tapi alasan kenapa mereka ingin motret, itu yang diserap,” katanya.

Jika dahulu ia hanya memiliki kamera Nikon FE, saat ini koleksi kamera yang dimiliki Pengpeng telah banyak bertambah. Diketahui, ia memiliki beberapa kamera, di antaranya Yasicha Electro 35, Mamiya RB67 Pro, Pocket Olympus, Mirrorless Fuji X100, dan DSLR Canon EOS 50D.

“Paling suka pake Mirrorless Fuji X100 dan Mamiya RB67 Pro. Itu paling favorit,” ungkapnya.

Masih soal fotografi, saat ini Pengpeng tengah menyelesaikan beberapa proyek pribadi, salah satunya membuat buku yang berkaitan dengan hal serupa. Dari sana, ia berharap bisa menyumbangkan ide dan gagasan dalam bidang fotografi dan sosial politik di ruang publik.

“Saya juga pengen keliling dunia. Pengen banget ke Kuba, ke New York, untuk tau ruang publik di sana. Karena beberapa referensi saya itu, lebih kompleks lagi ruang publiknya. Itu, sih, impian saya,” pungkas Pengpeng.

Di tengah kesibukannya saat ini, Pengpeng juga membagi waktunya untuk menjadi Dosen Fotografi di Akademi Indonesia Kreatif, sebuah program beasiswa yang diinisiasi oleh biem.co. (HH)

Editor : Redaksi

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar