Kabar

Pemerintah Tak Acuh, Warga Padarincang Terus Lakukan Istigasah Tolak PLTPB

KABUPATEN SERANG, biem.co — Masyarakat Padarincang kerap melakukan istigasah setiap minggu agar proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) tidak kembali berfungsi.

Istigasah tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian masyarakat yang beberapa kali lakukan audiensi kepada pemerintah agar proyek geothermal tersebut tidak diizinkan beroperasi.

Hal tersebut disampaikan Eha, seorang ibu-ibu penggerak penolakan keras yang tergabung dalam Syarekat Perjuangan Rakyat (Sapar).

“Saya sangat jengkel terhadap beredarnya isu geothermal yang ingin beroperasi kembali. Padahal kita ketahui, proyek tersebut tidak diizinkan oleh masyarakat setempat, karena itu sangat merusak alam ciptaan Tuhan,” tegas Eha, Selasa (09/04/2019).

Dengan dilakukannya kegiatan istigasah, Eha berharap Allah akan membantu masyarakat Padarincang, lantaran menurutnya, Pemerintah sudah tak lagi peduli dan memperhatikan kenyamanan warga.

“Kami sebagai petani sangat terancam dengan adanya geothermal ini, karena semenjak 2 tahun ke belakang, petani gagal karena terus banjir akibat dampak dari proyek tersebut,” ujarnya.

Baca Juga

Warga Padarincang Tolak Keras Kembali Dibukanya PLTPB

Selain itu, menurutnya masih banyak efek yang dirasakan oleh masyarakat, diantaranya persoalan hutan, tanaman menjadi rusak dan tak elok untuk di pandang.

“Ada 4 kecamatan yang terancam, diantaranya Padarincang, Cinangka, Pabuaran, Ciomas. Ini sangat terancam. Kami merasakan kekecewaan terhadap pemerintah, maka kami terus lakukan aksi dengan tidak anarkis. Kami sebelumnya mematuhi aturan dengan tidak anarkis, namun tetap saja pemerintah tidak mau merespons dengan cepat,” tandas Eha.

Eha mengatakan, jika alam ini tidak dijaga, maka NKRI akan hancur. Namun jika sebaliknya, lanjut Eha, maka akan aman, damai, dan sejahtera.

“Kami berharap kepada Pemerintah Daerah agar bisa segera menyelesaikan masalah ini dengan tidak memandang bulu. Jangan sampai tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Tolong pemerintah pro terhadap rakyat, karena kami tidak meminta apa-apa, hanya ingin proyek ini dihentikan agar kami bisa menjaga alam lestari demi generasi cucu kita kedepan,” harapnya.

“Tolong ini jangan diabaikan, karena yang merasakan efek sampingnya bukan pemerintah, tapi masyarakat. Tolong dengarkan jeritan rakyat,” pungkasnya. (juanda/red)

Editor : Happy Hawra

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar