Puisi

Sajak-Sajak Joe Hasan

Sajak-Sajak Joe Hasan

Lelaki dan Bayangan

bayangan-bayangan dari neraka
setidaknya begitulah katanya
yang menari-nari indah di atas air
sehabis mandi
lelaki itu berdendang sendiri saja
suaranya dibuat gelombang
hingga kubingung membedakan
mana petir mana getar
aku tetap mencari bayangan itu
agar tidak seterusnya di neraka
ia sedang bertengkar
pada malam hari
dan aku selalu tak lupa bertanya
mengapa nanah menjadi begitu nikmat
sejak mencintai pertengkaran

lelaki itu masih bernyanyi
layaknya pantun
meski hanya ribut dibuatnya
ideku untuk sebuah cerita tak tuntas-tuntas
ia hanya memberi kode
tapi tak mau berhenti
kecoa mati ditangan plastik
aku berserah saja
mencari-cari nama
diudara yang mulai biru
ternyata
lelaki itu adalah bayangan

(Surabaya, 6 Desember 2019)

 

Menunggu

kemarin
di ruang sempit
kita hanya berdua
menunggu hujan
dari kelopak mata
artinya telah hilang
kita masih berdiam
lalu kabar buruk keluar
seperti masa lalu
kau tak peduli
tapi kau masih berpikir
penjelasan demi penjelasan
tergambar di meja
tanganmu menari-nari
kataku mencari tiang pegangan

kita sudah dimana?
jauh dari tempat awal
senyummu pahit
tersisa kabar duka
aku masih duduk menunggu
proses keluar zona aman
kau ceritakan pengalaman
mataku lelah
kau mengantarku pulang
dan bertanya
apakah cerita kita sudah tamat?

(Surabaya, 28 November 2019)

 

Puisi Merana

saban hari
puisi merana
aku hanya punya ini
melayang-layang
melintaspada kandang landak
pada waktu yang sunyi
sama mencari puas
nyatanya aku adalah kekosongan
dia belum pulang
kalimantan masih terlalu jauh
semua mulut adalah tentangnya

aku kembali membawa sesal
di rumah berpetak
lantai dua
kotoran menempel dimana-mana
baunya menguar di dinding-dinding
dan aku tak bisa tidur dahulu
dimana obatnya?
jadilah merana puisi itu malam ini
sekali lagi aku hanya punya ini
lunak sudah kata-katanya
sampai bertemu lagi di sapaan berikutnya

(Surabaya, 13 November 2019)

 

Teras Plaza

di teras plaza lonteku menanti karma
pandangnya jauh menusuk lampu
air matanya jatuh tetes demi tetes
bersumpah demi tuhan
bibirnya yang terang oleh gincu
polesan bedak yang pandai merrayu
siapa yang tak terpanah
aku kehilangan akal menyambutnya
baru saja ia tersenyum nakal dengan lelaki muda
berkacamata tipis
aku betanya siapa dia
“aku makhluk tuhan yang datang untuk menjemput matinya.” katanya
jangan sekarang. utangnya belum lunas
nanti kalau utangnya sudah lunas, aku akan menyuruhnya untuk mati sendiri

langit telah mendung
debu menutup cerita kita
orang lalu lalang tak peduli
masih dengan umpatan anak manusia
aku menusuknya dalam

rupa-rupanya tak perlu waktu lama untuk menjadi kejam
kejam yang lahir sebab kebaikan yang tersakiti
malam ini masih dengan anak manusia
pulang dengan sekantong amarah
tepat pukul dua belas
kuketuk rumah om
“sekarang saja.” katanya pelan
lalau pelan-pelan
kita meraba malam
membaca bunyi
lewat tangis perempuan
yang masih di teras plaza

(Surabaya, 8 Oktober 2019)

 

Kembali Pada Puisi

kembali pada puisi
yang sebelumnya terkantuk tiada tara
beralun-alun musik di radio
tidak ada yang menyuruhnya
satu malam sudah lewat
tidur berdampingan

semalam aku tidak pulang
terperangkap di rumah perawan
disuguhkan segelas janji
seketika aku lupa pada yang menungguku
puisi yang kehilangan kaki
kini gentayangan di kepala para pendemo
tak ada yang cocok
ia pulang ke kamar
melihatku sudah bersama landak
jantan dan betina
pelan ia ikut merebahkan diri
meraba
menelanjangiku
dan secepat kilat
pagi itu
aku kembali pada puisi 

(Surabaya, 27 September 2019)


            Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Kini Berdomisili di Surabaya, Jawa Timur.  Beberapa puisinya juga pernah dimuat di Buanakata, Majalah Simalaba, Medan Pos, Cakra Bangsa, Flores Sastra, Analisa, Radar Cirebon, Rakyat Sumbar, Bangka Pos, Radar Malang, Warta Lambar, Radar Mojokerto, Radar Tasikmalaya, Koran Merapi, Riau Pos, Banjarmasin Post, Bali Post, Rakyat Sultra, Fajar Makassar,  Kabar Madura, Pojokpim.com, Linikini, Palembang Ekspres, Jurnal Asia, Lampung Post, Nusantaranews, Berita Pagi, Takanta.id.

 

Editor : Irwan Yusdiansyah
Tags

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ragam Tulisan Lainnya
Close
Back to top button