Cerpen

Cerpen Sulaiman Djaya: Kenangan Penyair

Kenangan Penyair
Cerpen Sulaiman Djaya

           Di Dago, Bandung bulan Juni, di sebuah keriuhan malam, ia pernah begitu akrab dengan cahaya lampu-lampu jalan, lampu-lampu kota, cahaya lampu-lampu yang telah ia tinggalkan di antara pepohonan jalan dan trotoar, bertahun-tahun silam ketika ia teringat kembali peristiwa itu di saat ia kembali datang di kota yang sama.

Bersama detik-detik dan menit-menit yang tak terasa ketika itu, ia teringat kembali bagaimana ia dan perempuannya tak peduli pada cuaca dingin yang menyusup ke sela-sela benang baju, ke pori-pori kulit tubuh. Sebab mereka hanya tahu bahwa mereka sama-sama ingin bertemu untuk sebuah alasan yang anehnya mereka rahasiakan dalam diri mereka masing-masing. Sebuah pengkhianatan, di saat ia tak memiliki alasan yang meyakinkan untuk marah, hingga ia hanya bisa menerimanya dan memang tak menemukan alasan untuk membantahnya.

Saat itu mereka memutuskan untuk berjalan kaki saja dari rumah si perempuan di kawasan Kompleks Perumahan Sarijadi, karena menurut mereka dengan apa yang mereka putuskan itu mereka bisa saling mengenal kembali setelah selama satu tahun tak bertemu, selepas pertemuan dan perkenalan pertama mereka di kampusnya, yang begitu akrab dan tanpa beban, meski pertemuan dan perbincangan itu memang bersifat kebetulan saja di sela-sela acara diskusi yang diselenggarakan oleh kampusnya dan kampus si perempuan.

Mereka pun akhirnya bisa kembali memiliki kesempatan untuk saling menerka dan memahami diri mereka masing-masing selama berjalan kaki bersama itu, sebab hubungan mereka sebelumnya hanya melalui pertukaran kata-kata yang mereka tuliskan di lembar-lembar kertas. Kadang-kadang mereka saling bertukar puisi meski hanya sekali dua kali. Dan menurut pengakuan si perempuan, ia pun sesekali menuliskan apa yang dirasakan dan dialaminya menjadi sebuah puisi.

Sebenarnya ia tak menyangka bahwa ia sangat menyukai puisi yang ia tulis yang ia beri judul ‘Kepada Sri’ dan yang ia kirim untuk si perempuan selama mereka hanya bisa berhubungan lewat pertukaran kata-kata di lembar-lembar kertas.

Mereka berjalan kaki pelan saja dan memang kembali mendapatkan keakraban seperti saat pertama kali mereka berkenalan dan berbincang di salah satu sudut taman kampus si perempuan. Entah atas alasan dan dorongan apa, mereka bersepakat untuk berkunjung ke rumah si perempuan dan meneruskan perbincangan mereka di rumah si perempuan hingga menjelang magrib. Bahkan ia sempat berkenalan dengan ibunya dan adik perempuannya.

Cuaca yang agak mendung dan menyembunyikan matahari di hari itu sangat mendukung apa yang mereka lakukan. Apalagi si perempuan mengenakan kemeja dan kerudung biru yang tentu saja menambah keindahan suasana sentimental selama mereka berjalan dan berbincang menuju jalan umum untuk menaiki angkutan umum yang akan membawa mereka ke Dago dari Sarijadi itu, di mereka telah bersepakat untuk menghabiskan waktu demi memenuhi keinginan mereka untuk bisa kembali akrab di hari Minggu itu.

Si perempuan memaksanya untuk turun bersama dari angkutan sebelum sampai di tempat yang hendak mereka tuju. Ketika ia bertanya kenapa mesti turun di saat tempat yang akan mereka tuju masih jauh sekitar ratusan meter lagi, si perempuan hanya menjawab bahwa ia merasa tak nyaman berada di dalam angkutan dan lebih baik berjalan kaki lagi saja agar bisa lebih santai dan bisa berbincang-bincang seperti pada saat mereka berangkat dari rumahnya.

Ia menggandeng dan menggenggam tangannya ketika mereka akhirnya berjalan kaki lagi sesuai dengan keputusan dan kehendak si perempuan. Dan memang ia sendiri merasa lebih nyaman dengan berjalan kaki lagi daripada merasakan kegerahan akibat cuaca mendung yang malah membuat tubuh mereka merasa panas karena keringat orang-orang yang duduk bersama mereka di dalam angkutan yang berdesakan-desakan.

Selama mereka berjalan kaki untuk yang kedua kalinya itu, lampu-lampu jalan kota mulai menyala. Baginya sepanjang trotoar dan pepohonan itu adalah pengalamannya yang paling akrab dengan seorang perempuan yang usianya lebih muda satu tahun dari usianya, hingga mereka lebih merasa sebagai sepasang bocah berlainan jenis kelamin yang asik bercanda tanpa canggung dan merasakan kebebasan yang sebenarnya.

Kejadian-kejadian yang telah berlalu bertahun-tahun itu tiba-tiba menemukan kembali detil-detilnya di dalam benak dan kepalanya saat ia tak menemukan tema dan isu lain untuk menulis. Mereka sempat duduk berdua dan saling bertukar kata yang keluar dari mulut mereka di trotoar untuk beberapa menit sembari memandangi lalu-lalang dan laju lalu-lintas sebelum mereka berjalan kaki lagi.

Mereka menyandarkan punggung mereka masing-masing di sebaris pagar taman, di bawah lampu-lampu yang menyala dengan terang. Mereka melakukan itu karena menurut si perempuan film di cinema di Bandung Indah Plaza yang hendak mereka datangi baru akan diputar sekitar satu jam lagi, jadi mereka tak perlu terburu-buru.

Ia masih ingat ketika pada akhirnya mereka  tak sempat menonton sebuah film yang mereka rencanakan untuk mereka tonton itu. Mereka malah lebih asik bercanda di sebuah kafe yang terletak agak ke sudut di pusat hiburan itu setelah mereka berkeliling di antara rak-rak sebuah toko buku. Si perempuan membeli sebuah novel Sampek Engtay, sementara ia sendiri membeli Aeneid-nya Publius Vergilius Maro terbitan Everyman Books.

Di meja yang agak menyudut ke arah dinding itu si perempuan terus saja berbicara dengan riang, sementara ia sendiri hanya bisa mendengarkan setiap kata yang meluncur dari mulut dan kedua bibirnya yang tipis dan indah.

Sebenarnya ia tak sepenuhnya hanya mendengarkan setiap kata yang diucapkan si perempuan, ia lebih terpesona dengan kelembutan sepasang matanya yang agak sendu. Seakan-akan ia tengah membaca larik-larik sebuah puisi yang memberikan kedamaian dan ketentraman bathin saat ia terus memandangi sepasang matanya sambil berusaha menyimak apa yang dikatakannya dari satu tema ke tema lainnya saat itu.

Di sela-sela perbincangan itu, mungkin agar ia tak merasa diacuhkan, si perempuan memintanya untuk membacakan sebuah puisi yang mungkin masih ia hapal, meski permintaannya tak ia penuhi secara halus dengan mengatakan padanya bahwa tak ada satu pun puisi yang ia hapal. Tapi si perempuan malah menggodanya untuk membuat puisi seketika itu juga. Tentu saja ia hanya bisa mengatakan bahwa puisi yang dimaksud si perempuan itu telah ada ada di depannya, sebuah puisi yang tak lain sepasang mata si perempuan yang indah dan agak sendu, yang memberinya sebuah pandangan yang menenangkan dan memberinya rasa damai.

Si perempuan hanya tersenyum dan sedikit tertawa gembira ketika mendengarkan apa yang ia ucapkan itu. Si perempuan tentu saja merasa istimewa dengan apa yang ia katakan itu, sebab si perempuan tampak sedikit tersipu akibat ulahnya itu, hingga si perempuan mencubit lengannya dengan lembut. Setelah itu si perempuan kembali menyeruput minumannya melalui sedotan dan kembali bercerita tentang apa saja yang ia lakukan selama mereka tak bertemu. Dan lagi-lagi ia hanya bisa mendengarkannya saja karena memang ia tak memiliki tema yang bisa ia ceritakan kepada si perempuan, mungkin karena ia lelah, rasa lelah yang terobati karena kebahagiaan.

Rasa-rasanya momen-momen itu merupakan sebuah peristiwa paling riang dalam hidup si perempuan. Momen paling ceria dibanding pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya. Hingga rasa lelahnya akibat perjalanan dari Jakarta ke Bandung seakan-akan hilang begitu saja, berubah menjelma rasa senang yang dihadirkan si perempuan. Dan sepertinya si perempuan tahu bagaimana agar ia bisa mendapatkan sesuatu yang setimpal untuk mengobati keletihannya demi bertemu kembali dengan si perempuan.

Di kafe itu mereka menghabiskan waktu beberapa jam sejak mereka berbincang selepas adzan magrib berkumandang. Si perempuan mencegahnya ketika ia hendak membayar minuman yang mereka pesan karena si perempuan ingin mentraktirnya dari uang lomba karya ilmiah yang ia menangkan. Setelah itu mereka pun beranjak meninggalkan meja tempat mereka bercengkerama dan bercanda selama berjam-jam itu, meninggalkannya dan berjalan keluar melewat pintu depan kafe.

Ingatan detil-detil peristiwa itu muncul kembali di benaknya ketika ia berada di kota yang sama. Kenangan tentang kegembiraan dan kebahagiaan.


Sulaiman Djaya lahir di Serang, Banten. Menulis esai dan fiksi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak,  Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa Antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012)), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, dan lain-lain.

Editor : Irwan Yusdiansyah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *