Opini

Agus Sutisna: Pers dan Kekuasaan

Catatan Muhibah untuk Sahabat biem.co

biem.co — Orang sering mengatakan bahwa pers, atau istilah yang lebih representatif adalah media, merupakan pilar keempat demokrasi. Tiga pilar lainnya adalah legislatif, eksekutif dan yudikatif. Demikian pentingkah posisi media dalam tradisi masyarakat demokrasi? Lantas di sisi mana saja arti penting keberadaan media dalam kehidupan berdemokrasi itu?

Pertama, lebih dari sekadar sarana informasi dan pemberitaan, media dapat menjadi jembatan penghubung, media komunikasi antara negara dengan rakyat sedemikian rupa sehingga kebutuhan negara terhadap respon memadai masyarakat menyangkut pelbagai kebijakan dapat dipenuhi.

Pada saat yang sama, sebaliknya, media juga bisa menjadi kanal strategis bagi masyarakat untuk mengartikulasikan pelbagai aspirasi dan kebutuhan terhadap negara. Dengan demikian, terjadi proses interaksi yang berimbang antara negara dengan rakyat menyangkut kebutuhan masing-masing pihak.

Kedua, secara umum masyarakat tidak semua literate (melek, cerdas) secara politik. Padahal untuk mewujudkan masyarakat yang demokratis diperlukan warga negara yang bukan saja baik (good) tetapi juga cerdas (smart) secara politik. Smart and good citizen itu semacam conditio sine qua non untuk menumbuhkan dan mengembangkan demokrasi.

Baca Juga

biem.co: Dapur Anak Muda Memasak Mimpinya

Tanpa kehadiran warga yang baik sekaligus cerdas, demokrasi hanya akan menjadi alat para penguasa produk elektoral untuk bertindak sakarep dewek karena merasa sudah dipilih dan mendapat mandat politik melalui pemilu. Dalam situasi ini, media dapat hadir sebagai komponen pencerah, elemen pencerdas bagi masyarakat.

Ketiga, kekuasaan itu sejatinya egois. Kurang lebih seperti yang pernah dikemukakan Lord Acton (1834-1902): “Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely”. Kekuasaan itu cenderung korup, kekuasaan yang absolut pasti korupnya. Atau seperti diungkapkan juga oleh Hans Morgenthau, bahwa motif tindakan politik itu selalu bertumpu pada tiga hal dasar; mempertahankan kekuasaan, menambah kekuasaan, dan menunjukkan kedigdayaan kekuasaan.

Untuk mencegah kekuasaan bergerak ke arah yang absolut dan sewenang-wenang, maka diperlukan kontrol yang kuat dari elemen masyarakat sipil. Dalam posisi inilah media bisa hadir mengambil peran sebagai alat kontrol bagi kekuasaan.

Di Mana Posisi biem.co?

Sependek yang saya tahu, biem.co hadir sebagai media dengan platform online (virtual) yang (mulanya ?) didesain oleh founder dan para punggawa yang menggawanginya sebagai media yang membidik segmen kalangan muda, khususnya di Banten sebagai pembaca.

Ini tentu merupakan pilihan sikap yang tegas dan memang dibutuhkan dalam membangun positioning di tengah menjamurnya bisnis portal media online. Dengan cara demikian, biem tampil dengan ciri yang khas: milenialis. Ragam konten yang dieksplor dan disajikan serba milenial, demikian juga racikan dan gaya artikulasinya.

Saat ini, lagi-lagi sependek yang saya cermati, biem tampaknya sudah berubah, bermetamorfosa. Setidaknya bergeser ke area segmentasi yang lebih luas. Gejala ini, setidaknya tampak dari konten berita maupun artikel yang semakin merambah ke isu-isu yang jauh lebih umum, termasuk di dalamnya isu-isu politik, ekonomi, hukum dan isu lain yang lebih “berat”. Namun tetap dengan ciri khas gaya artikulasinya yang milenialis. Hemat saya, ini juga merupakan pilihan sikap yang bijak dan reasonable.

Bukan karena pertimbangan aspek bisnisnya terutama, melainkan karena alasan idealisme jurnalistik (ini semacam hipotesa sekaligus harapan saya sih). Maksudnya, dengan pembaca yang semakin melimpah, yang tampaknya tetap didominasi oleh segmen anak-anak muda, kehadiran biem akan jauh lebih berarti jika tampil sebagai media yang tidak hanya “ngurusin dunianya” anak-anak muda: hiburan (musik, film), lifestyle, sosialita, gadget baru, dan sejenisnya.

Harapan yang demikian bukan tanpa alasan tentu saja. Paling tidak dalam konteks tulisan ini misalnya, penting disadari bahwa proporsi kalangan muda (kalau dalam bahasa elektoral: pemilih pemula) dalam konteks pemilu sangat besar. Mereka potensial, bukan hanya sebagai voter, melainkan juga sebagai calon-calon pemimpin masa depan di berbagai ranah dan level kepemimpinan. Nah, sebagian dari mereka pastinya adalah pembaca biem.

Sebagai orang yang concern dengan isu-isu kepemimpinan, politik dan demokrasi, saya sering membayangkan hadirnya sebuah media dengan segmen utama pembacanya kalangan muda, yang fokus atau setidaknya memberikan porsi yang lebih memadai atau proporsional (tanpa meminggirkan pilihan minat dan kebutuhan keseharian anak-anak muda) terhadap isu-isu kepemimpinan, politik dan demokrasi negeri ini.

Dengan cara demikian, media yang saya bayangkan itu kongkret mengambil peran dalam ikhtiar edukasi, pencerahan dan perkaderan kepemimpinan bangsa. Hemat saya, biem memiliki potensi besar untuk mengambil peran itu.

Proficiat kawan-kawan muda biem. Selamat ber-harijadi. Tetap semangat, terus berkarya, dan menginspirasi anak-anak muda. (*)


Penulis adalah Komisioner KPU Banten.

Editor : Happy Hawra

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button