Opini

Ikeu Isrianingsih: Menabung Emas dan Rindu Baitullah

biem.co — Hak anak untuk hidup, harus kita lindungi. Ayo kita jaga anak-anak agar tetap di rumah. Main di rumah, belajar di rumah. Karena risiko terkena virus, sakit, bahkan sampai meninggal itu masih besar kemungkinannya. Kita menjaga serius, tapi jika di sekitar kita tidak serius pun tetap berisiko bukan?

Berhenti untuk menganalisis masalah Covid-19 ini ke arah konspirasi atau kepentingan-kepentingan lain, fokus ke penyelamatan nyawa. Beberapa pelonggaran-pelonggaran di zona merah memungkinkan virus kembali mudah menyambung mata rantai. Ini artinya apa? Kita harus lebih waspada, bukan lebih santai.

Pemerintah wajib membuat sistem agar semua warganya aman dan nyaman terkendali. Baik dari sisi pemenuhan kebutuhan pokok, maupun sarana-prasana penunjang kebutuhan sekundernya.

Namun, saat ini anak-anak sudah rindu kehidupan normal. Bermain di luar hingga keringat kering di badannya. Mereka rindu sekolah yang lebih banyak mengajarkan berteman, bersosial, dan bersabar. Mereka rindu jajan di kantin dengan uang saku terbatas yang mereka harus atur sendiri. Mereka rindu bepergian dan belajar banyak dari kehidupan di tempat lain di luar kebiasaan mereka.

Kami orang dewasa pun banyak merindukan hal-hal yang dulu kami lakukan dengan bebas dan suka cita. Bebas menghirup udara tanpa masker. Rindu berlama-lama di pasar karena bingung mau berbelanja apa. Rindu rumah kosong dan mudah dibersihkan karena anak-anak ke sekolah. Rindu mengotak-atik jadwal karena ingin cuti untuk berlibur.

Sempat terkaget, toko sepeda di beberapa kota penuh sesak dan stok terbatas, padahal harganya juga pada naik. Tidak relevan dong dengan jumlah PHK yang signifikan meningkat, inflasi karena masa pandemi ini?

Tapi ini membuktikan bahwa rezeki itu urusannya Allah. Urusan kita hanya mengikuti maunya Allah aaja. Kalau secara logika sih, se-bete apa pun karena PSBB, dari pada beli sepeda, lebih baik berhemat, kan? Tapi tidak juga, pemilik toko sepeda kebanjiran orderan karena kebosanan masyarakat. Termasuk urusan ketahan pangan keluarga kami. Saya banyak belajar dari ketahanan pangan dari rumah Kakeknya Ibam. Lele jumbo, 3 ekor lele yang menghasilkan satu mangkuk besar. Tadi pagi menggoreng pisang kepok super besar dari sumber yang sama, bahkan bumbu-bumbunya pun tinggal petik dari halaman.

Saya bangga pada orang tua zaman dahulu, sesulit apa pun jarang mengeluh. Mereka bekerja dengan segala sumber daya yang ada di sekitarnya. Sejak kecil bersyukur kebutuhan protein kami selalu terpenuhi dengan baik. Ayam, bebek dan telur ready stock di kandang. Ikan, setiap pagi Bapak selalu membawa hasil dari bubu (perangkap ikan yang disimpan di aliran Sungai Cikatapis, samping kebun rumah kami).

Berbeda dengan kondisi hari ini. Kita cenderung ingin instan, tapi tak berdaya juga di ekonomi. Kalau kata orang tua saya, zaman sekarang kebanyakan gengsi. Maunya berhutang, tapi bingung untuk bayarnya. Kebanyakan ingin beli ini itu, sampai uang halal atau haramnya tak pernah dicek dahulu.

Tulisan ini sebagai pengingat saya yang hidup dan berproses di zaman yang serba konsumtif dan hedonisme ini. Semoga kita semua bisa menjadi manusia yang pandai bersyukur dan selalu menjalankan semua perintah Allah SWT.

Rindu. Saya merasa selalu ditolong Allah. Padahal catatan kesalehan bisa dibilang tidak punya deposit. Bahkan, khilaf sudah seperti detik jam. Berbuat selalu, dan sering telat dalam bertaubat. Namun, yang paling saya rindukan adalah; pergi ke Baitullah… Labaik Allahuma Labaik.

Saya sedang berusaha mendahulukan urusan Allah. Ingin dan ingin. Walaupun sering tidak konsisten. Karena impian besar saya adalah bertamu ke rumah Allah bersama keluarga besar. Entahlah, beberapa kali merencanakan belum jua berhasil. Ada saja hal lain di luar rencana manusia. Di sanalah ujiannya. Pernah juga menangis dan berkata, “Apakah Allah tidak mau dikunjungi saya ya, hingga setiap rencana-rencana tersebut selalu terhempas di tengah jalan?”.

Mulai beberapa bulan lalu, saya azamkan mengajak serta semua kenalan, kerabat, keluarga untuk menabung emas. Rumus investasi ini dijadikan poin syiar saya sekarang. Kalau dulu, rumus tersebut saya simpan sendiri. Ya, mungkin karena pelit berbagi tips investasi inilah yang membuat beberapa hal kandas di tengah jalan. Semoga Allah mengampuni saya.

Mari teman, kita selamatkan aset umat dengan berinvestasi emas. Saya ingat betul ketika akan menikah yang super cepat, nenek dan ibu saya tidak mengkhawatirkan biaya pernikahan. Calon saya ketika itu pun belum mapan. Beberapa tabungan emas saya jual untuk membantu biaya tersebut.

Orang tua saya pun memberikan emas sebagai kado pernikahan. Ketika anak pertama lahir pun mereka kembali menghadiahi emas. Bahkan untuk membeli mobil, rumah, dan lain-lain pun kami membelinya dengan menjual emas bukan via bank.

Alhamdulillah, doktrin ibu saya tentang investasi emas kini menurun ke anak-anak saya. Kakak Lala sudah memulai sejak 2 tahun lalu. Bahkan Abang Athan pun uang THR tahun ini sudah siap dia investasikan ke emas dengan kesadarannya sendiri.

Saya hanya ingin bilang, bahwa gaya hidup hedonisme saat ini membuat hampir semua orang berlomba-lomba untuk hidup serba matrealistis. Uang berapa pun jumlahnya kita habiskan demi kepuasan gaya hidup semata. Nol investasi. Konsumtif merajai pola pikir kita. Dengan emas, kita bisa mengembalikan kejayaan ummat dalam kepemilikan berbagai aset penting di negeri ini, bahkan di dunia. Karena nilai emas stabil, sedangkan nilai mata uang cenderung semakin melemah.

Jika para suami tidak menginginkan istrinya terlalu mandiri, masih bermanja-manja ria, maka buatlah ia terpenuhi segala kebutuhannya, baik lahir maupun batin. Kalau ada istilah sudah menikah, yang dibutuhkan adalah uang bukan lagi cinta, maka bersiaplah kemarau kasih dalam rumah tangga Anda akan berkepanjangan. Sebab cintalah yang membuat aliran damai itu memenuhi seisi rumah kita. Cintalah yang membuat hati seluruh keluarga terpaut pada Sang Khalik. Cintalah yang membuat para malaikat turut mendoakan keluarga kita agar sakinah mawaddah wa rohmah.

Jangan dibalik ya, [ara suami menuntut para istri bermanja-manja, padahal kehidupan keluarganyalah yang mengharuskan ia menjadi perempuan berkeringat dan berpeluh. Kehidupan keluarganyalah yang mengharuskan ia terlelap di jam tengah malam, dan terbangun di saat semua mungkin masih tertidur pulas. Senyum istri Anda mungkin sudah tak lagi semanis dulu saat Anda baru meminangnya. Bukan karena ia malas, namun karena konektivitas bibir, otak, dan hatinya sudah kurang baik. Sebab lelahnya terlalu mendominasi. Kepercayaan dirinya untuk bertahan hidup terlalu kuat, sehingga mungkin Anda para suami menjadi gerah dan tak bergairah lagi.

Kita kadang memaksa Allah untuk keinginan kita, kesukaan kita. Tapi jarang memaksa diri untuk menuruti keinginan Allah, kesukaan Allah.

Bismillah, tak ada yang tidak mungkin bukan. Walaupun semuanya harus saya kembalikan kepada Allah atas rencana-rencana ini. Ayo kita menabung emas, dari nilai terkecil sekali pun. Semoga menginspirasi. Tidak bermaksud sama sekali untuk berbangga diri. Wallahu’alam. (red)


Ikeu Isrianingsih, S.I.Kom, Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga DPW PKS Lebak.

Editor : Happy Hawra
Tags

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button