Puisi

Sajak-sajak Muhammad Irsyad

Jika kau Berhenti Menjadi Kesunyian

Seorang perempuan berjalan melewati kesedihannya di bangku taman
Angin melahap-lahap deru air matanya
Seperti seorang nelayan yang membawa perahu sampan ke tengah samudra
Kemudian kesunyian makin pucat
Begitulah getar dirimu, begitulah getar itu sampai padamu
Jika kau berhenti menjadi kesunyian

Trenggalek, 2019

 

Kekasihku Telah Mati

Kekasihku telah mati, kukubur dia di pemakaman
disebelah kastil tua yang lama aku jumpa

Suatu saat ia akan bangkit dari kuburnya di sana
tapi saat ini biar dia bersama suasana kesenyapan
Mata senja memanjang ke tanah kuburan

Dari jalan-jalan sampai perempatan seberang kota
nama kekasihku selalu terngiang-ngiang setiap jam dua belas malam, dini hari

Aku kubur kekasihku untuk membayar utang kesedihan
Sebiji kesunyian aku tanamkan di kuburnya
Bukan kebencian, nyanyian atau kehilangan
Aku yakin kau pasti tumbuh setiap musim senja mulai berkedip

Trenggalek, 2019

 

Puisi Laut
: Trenggalek

Sepertinya, laut menjadikan kita sepasang kekasih yang kesepian.
Pesisir pantai menderu dan malu-malu membawa ombak-masa lalu
serta cahaya kerlip bintang berkilauan.

Hujan menggelantung di langit utara terbawa awan hitam
yang kusebut badai. Anak-anak kecil bersorak ria menyambut
pasang air laut.

Kita adalah sepasang daun bimbang yang tak ingin bersua.
Rasanya, hari ini seperti seutas puisi. Hanya ada kelabu sendiri.
Kami seorang anak yang merindukan kabut. Ia seorang gadis perempuan
patah hati dihujam kekasihnya.

Kita tak lihat bau baju tidurnya. Air liurnya bersyahadat pada
tepian ombak laut. Lagu yang dalam,
membawa menembus keheningan.

Trenggalek, 21 Oktober 2019

Berusaha Kupahami

: Alisa
Masih kita rayakan cinta, ketika tubuh terbawa gemulung ombak
yang terdampar di bibir pantai.
Segenggam naskah tak terbaca, berusaha kupahami sutasoma
tetapi kepahaman membuatku terus menangis.

Tanganku didera lekukkan matamu yang membawa surat keputusasaan.
dari pintu tua yang pernah kita genggam bersama,
disitulah aku mencium lebat rambutmu saat malam telah usai.

Berusaha kupahami angin laut.
Kulafadzkan satu sajak yang
kau terima di akhir suara.

Trenggalek, 22 Oktober 2019


Muhammad Irsyad Hambali lahir di Kediri, 11 Maret 2001 dan sekarang tinggal di Trenggalek. Tahun 2019, ia telah menyelesaikan jenjang pendidikan atas di MAN 2 Trenggalek. Hobi membaca, menulis, membuat puisi, cerpen dll. Ia pernah bergabung di QLC Trenggalek, QLC cabang Panggul, Studi Kerohanian Islam, Ikatan Pelajar Muhammadiyah dan COMPETER (Komunitas Pena Terbang). Kegiatannya sekarang bekerja sebagai internet marketing. Buku puisi antologinya sedang diproses penerbitan. Akun media sosial FB: Muhammad irsyad, IG: irsyad fraya.

Editor : Happy Hawra

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ragam Tulisan Lainnya
Close
Back to top button