CerpenInspirasiTerkini

Rongga-Rongga Yang Tak Dido’akan

Oleh: Erna Surya

KLATEN, biem.co – Panut mulai bicara dengan giginya sendiri semenjak istrinya, Wagini, meninggal dan anak-anaknya pulang hanya pada musim panen. Ia bukan dukun, bukan pula orang gila. Tapi ketika gigi geraham kirinya retak dan bernanah, ia merasa ada yang merasuki tubuhnya—bukan setan, melainkan kenangan buruk yang memendam dendam.

“Lubang di gigi ini,” katanya suatu malam kepada seekor cicak yang sedang menempel di langit-langit rumah, “lebih menyeramkan dari lubang kuburan Wagini. Setidaknya Wagini sudah tenang di bawah sana. Sementara lubang ini, menyimpan peluru yang bisa meledakkan jantungku kapan saja.”

Cicak itu jatuh, mati, seolah menyetujui kutukannya.

Sejak itu, Panut tak lagi ke ladang. Ia lebih sering duduk di amben bambu sambil memegangi pipinya yang bengkak seperti benjolan nasi basi. Ia menolak ke dokter, bukan karena takut, tapi karena ia percaya: semua penyakit bisa diusir dengan doa dan sabar. Tapi lubang di giginya tak percaya pada doa. Lubang itu, seperti anak haram yang menuntut pengakuan, terus membesar, terus berbisik dalam bahasa yang hanya bisa didengar oleh jantungnya.

“Beri aku tempat, maka aku akan menjemput kematianmu secara perlahan. Lubang di gigimu adalah lubang waktu. Dan waktu itu, berlendir.”

Setiap malam, ia bicara dengan lubang itu. Kadang menyanyi pelan, kadang menyumpahinya. Suatu malam, ia mengiris sedikit daun sirih dan menyumpalnya ke gigi yang bolong, berharap getirnya bisa mengusir suara-suara itu. Tapi suara makin kencang. Kadang menyebut nama-nama: nama anaknya yang sudah lama tak menelepon, nama teman lama yang dulu pernah berutang dan tak pernah kembali, nama adiknya yang mengambil sawah warisan.

“Lubang ini bukan sekadar luka,” ia bergumam. “Ini museum dendam yang tak pernah kau kelola.”

Panut tinggal di desa yang tak tercatat dalam peta. Jalan menuju desanya dikelilingi pohon sengon yang selalu berbisik ketika angin datang. Orang-orang bilang sengon-sengon itu dulunya adalah gigi-gigi para petani yang dicabut paksa oleh penjajah Jepang. Konon, tentara Jepang mencabut gigi mereka untuk mengganti peluru yang habis—dan peluru itu lebih mematikan dari timah panas: ia membawa luka sampai ke sumsum.

Warga percaya, siapa pun yang mengalami sakit gigi parah akan mendengar bisikan dari pohon-pohon sengon itu. Bisikan yang bunyinya seperti doa yang dilafalkan terbalik. Dan Panut? Ia mendengarnya hampir setiap malam.

“Gigi bukan hanya tulang, Panut,” begitu suara itu terdengar, “ia adalah alat pencatat kebohongan. Setiap dusta, setiap gigitan sembarangan, setiap janji yang tak ditepati, semuanya tercetak di email dan dentinmu. Maka jangan heran jika Tuhan mengirim kematian melalui lubang yang kau anggap remeh.”

Dulu Panut dikenal sebagai orang yang tertib dan bersih. Setiap pagi ia menyapu halaman, mengganti air kendi, bahkan mengecek tali jemuran agar tak terlalu kendur. Tapi sejak istrinya tiada dan anak-anaknya lebih sibuk di kota, Panut menjadi pelupa. Pernah ia menyeduh kopi, lalu lupa meminumnya. Kadang ia bicara sendiri sambil memeluk radio tua yang sudah tak bisa menyala. Pernah juga ia tertidur di kebun pisang, lalu bermimpi giginya tumbuh akar dan mencengkeram lidahnya sendiri.

Suatu hari, seorang dokter muda datang ke desa. Ia bukan dokter biasa. Ia punya nama aneh: drg. Salamun Prawiroatmaja bin Budi Iblis. Wajahnya halus, tapi tatapannya seperti sendok logam yang baru dicelupkan ke air mendidih.

“Siapa yang punya gigi busuk, kemarilah!” serunya sambil membawa kursi besi dan lampu kepala seperti penambang. “Aku datang bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk memperlambat kematian kalian. Karena sejatinya, tak ada yang bisa sembuh dari lubang.”

Warga takut. Tapi Panut mendatangi dokter itu. Ia buka mulutnya lebar-lebar, dan dokter itu melihat lubang-lubang yang berdesakan seperti bayi-bayi kelaparan.

“Ini bukan infeksi biasa, Pak,” kata dokter. “Ini adalah semacam gerbang. Ke ruang dada, ke bilik jantung, ke tempat di mana doa-doa yang tak pernah selesai berkumpul. Kalau tidak ditutup, lubang ini bisa menelan tubuhmu. Perlahan. Dan diam-diam.”

Panut menangis. Ia ingat satu hal: bahwa ia pernah bersumpah di depan jenazah Wagini untuk menjaga diri, menjaga anak-anak, menjaga mulutnya dari kebohongan. Tapi setelah itu, ia justru banyak berkata palsu. Ia bilang pada anak-anaknya, “Bapak sehat-sehat saja,” padahal tiap malam jantungnya berdetak seperti mesin cuci rusak. Ia bilang pada tetangganya, “Tak ada apa-apa,” padahal dalam mulutnya tumbuh jamur berwujud janin.

Malamnya, ia menulis surat. Bukan untuk dikirim, hanya untuk dibaca lubang giginya.

“Maafkan aku, Wagini. Mulutku tak selamanya jujur. Dan setiap kali aku berbohong, lubang ini menelan sebagian tubuhku. Kini aku hampir habis.”

Pada hari ke-66 sejak giginya mulai membusuk, Panut rebah di tikar pandan. Di sekelilingnya, warga berdiri, tapi tak ada yang berani menyentuhnya. Sebab dari mulutnya keluar suara aneh: suara gerinda, suara lonceng, dan kadang—suara anak kecil memanggil “Bapak… Bapak…”

Seekor tikus mati di bawah ranjangnya, mulutnya berlubang. Istri Pak RT mendadak mimisan ketika menyentuh bibir Panut. Anak pertama Panut datang terlambat, hanya membawa sikat gigi dan pasta herbal yang sudah kering. Dan Panut?

Ia menghembuskan napas terakhirnya dalam diam, tapi lubang di giginya tetap terbuka. Dokter Salamun berkata, “Ia tak mati karena sakit. Ia mati karena terlalu banyak menyimpan kata yang tak pernah diucapkan.”

Seminggu kemudian, seekor anjing menggali kubur Panut. Di dalam peti, jasadnya masih utuh. Tapi mulutnya menganga. Dari lubang-lubang giginya, tumbuh rumput liar.

Warga menamai rumput itu Rumput Penyesalan. Katanya, jika dikunyah, rumput itu bisa menyembuhkan batuk—tapi akan membuat si pemakan kehilangan satu gigi dalam semalam.

Anak-anak mulai berhenti berbohong. Para bapak mulai belajar menelan amarah sebelum bicara. Dan pohon-pohon sengon mulai menggugurkan daunnya. Karena tahu: satu lubang telah menelan satu jiwa. Dan ribuan lubang lain sedang menunggu giliran.

Tiga bulan setelah pemakaman Panut, puskesmas desa menerima kiriman aneh: sebuah paket tanpa pengirim, dibungkus daun jati kering dan diikat dengan rambut manusia. Isinya bukan obat, bukan surat, melainkan sebaris gigi—tiga buah, lengkap dengan akar dan sisa-sisa darah yang sudah menghitam. Di dalamnya ada catatan kecil dengan tulisan tangan rapi: “Ini bukan gigi Panut. Ini gigi orang yang meminjam ajalnya.”

Warga geger. Pak Lurah memanggil kiai, bidan, dan babinsa. Tapi tak satu pun dari mereka bisa menjelaskan. Dokter Salamun sudah lama pergi, menghilang tanpa jejak, dan kursi besi tempatnya memeriksa kini ditumbuhi jamur berbentuk rahang. Di malam keempat setelah paket itu tiba, terdengar suara ketukan dari dalam tanah di kuburan Panut—tiga ketukan, jeda panjang, lalu satu ketukan yang seperti minta bicara.

Anak bungsu Panut, yang tinggal di Jakarta, pulang dengan wajah cemas. Ia mendatangi makam bapaknya dan menggali sebatas dada. Tapi petinya kosong. Hanya ada cermin kecil, seperti cermin dokter gigi, dan di tengahnya tercetak pantulan wajah sang anak—dengan mulut penuh gigi yang bukan miliknya.

Sejak malam itu, desa tak pernah sama. Bayi-bayi lahir dengan barisan gigi lengkap, dewasa, dan bercelah. Setiap yang bermimpi buruk akan bangun dengan rasa ngilu di gusi. Dan angin dari arah barat selalu membawa suara-suara berdesis, seolah gigi-gigi lama Panut sedang menghitung siapa yang selanjutnya menampung ajal melalui rongga mulutnya. (Red)

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button