BANTEN, biem.co – Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) kembali menegaskan komitmennya dalam bidang riset dan inovasi berkelanjutan dengan menyelenggarakan The Second International Conference Global Summit on Sustainable InTechnology (GS-SIGRET 2025) di ruang multimedia Lt. 1 Gedung Rektorat Kampus Untirta Sindangsari, Serang, Banten. Kegiatan internasional ini berlangsung secara hybrid (luring dan daring) dan diikuti oleh peserta dari berbagai universitas dan lembaga riset di Indonesia, Jepang, Malaysia, serta Afrika Selatan. Mengangkat tema “Innovating for a Sustainable Future: Integrating Technology, Green Finance, and Circular Economy,” konferensi ini membahas isu-isu internasional seputar keberlanjutan (sustainability) dengan fokus pada tantangan perubahan iklim, kesenjangan ekonomi, dan revolusi industri hijau.
Kegiatan turut mendapat dukungan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Menteri Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D. diwakili oleh Prof. apt. I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D., selaku Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Dikti Ristek. Hadir dalam kegiatan ini Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Prof. Dr. H. Fatah Sulaiman, S.T., M.T., dan dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, Ir. Dr. Rusmana, M.P., Wakil Rektor I Bidang Akademik, Dr. H. Agus Sjafari, M.Si., Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Alfirano, S.T., M.T., Ph.D., Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Sistem Informasi, Prof. Dr. Meutia, S.E., M.P., Kepala LPPM Untirta beserta jajaran, Prof. Dr. Aan Asphianto, S.Si., SH., MH., Direktur Pascasarjana Untirta beserta jajaran. Turut hadir pula para dekan, dosen, peneliti, mahasiswa, serta perwakilan universitas mitra dari dalam dan luar negeri.
Kegiatan diawali dengan Laporan Ketua GS-SIGRET 2025. Ketua GS-SIGRET 2025, Yeni Januarsi, SE., Ak., M.Sc., CA., Ph.D., melaporkan bahwa konferensi ini berhasil menarik minat luas dari peneliti dan akademisi global. “Konferensi ini diikuti oleh sekitar 220 peserta aktif dari berbagai negara. Kami berterima kasih atas kehadiran seluruh akademisi dan peneliti yang berpartisipasi dalam forum ini,” ungkapnya. Yeni menegaskan bahwa GS-SIGRET 2025 menjadi wadah penting untuk memperkuat kolaborasi riset internasional dalam teknologi hijau, green finance, dan ekonomi sirkular. “Melalui GS-SIGRET, kami ingin memperkuat jejaring internasional dan mendorong pertukaran ide lintas disiplin demi menghadirkan kontribusi positif bagi masa depan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Kepala LPPM Untirta, Prof. Dr. Meutia, S.E., M.P., menegaskan bahwa konferensi ini sejalan dengan visi Untirta dalam memperkuat riset dan pengabdian kepada masyarakat berbasis keberlanjutan. “Kami berkomitmen untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam setiap aspek riset dan pengabdian. GS-SIGRET menjadi langkah penting dalam memperluas jejaring dan menciptakan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Sebagai co-host kegiatan, Prof. Dr. Aan Asphianto, S.Si., SH., MH., selaku Direktur Pascasarjana Untirta, menyampaikan bahwa GS-SIGRET menjadi wadah strategis untuk memperkuat kolaborasi riset internasional. “Kegiatan ini adalah platform yang mempertemukan para ahli dan praktisi global untuk membahas solusi inovatif dalam menghadapi tantangan keberlanjutan,” katanya. Prof. Aan berharap kerja sama ini akan berlanjut dan menghasilkan riset kolaboratif di masa depan.
Dalam pidatonya, Prof. Ketut menegaskan pentingnya investasi berkelanjutan di bidang riset, pendidikan, dan inovasi teknologi hijau. “Kita harus memperkuat sinergi antara industri, akademisi, dan pemerintah untuk menciptakan ekosistem riset yang mampu menghadirkan solusi nyata terhadap krisis iklim dan ketimpangan ekonomi,” tegasnya. Beliau juga mendorong universitas-universitas di Indonesia untuk aktif berperan dalam hilirisasi riset dan membangun budaya inovasi yang berdampak bagi masyarakat.
Acara dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Prof. Dr. H. Fatah Sulaiman, S.T., M.T., yang menegaskan bahwa GS-SIGRET merupakan bukti nyata komitmen Untirta dalam menghadirkan riset berkelas dunia. “Melalui forum ini, Untirta memperkuat perannya sebagai universitas berbasis riset dan inovasi yang berkontribusi untuk kemajuan bangsa dan keberlanjutan global,” tegasnya. “Untirta berkomitmen memperkuat peranannya sebagai Healthy, Integrated, Smart, and Green University yang berorientasi pada riset dan inovasi global. Melalui GS-SIGRET, kita tidak hanya berbagi ilmu, tetapi juga membangun masa depan berkelanjutan,” ujarnya. Beliau juga mengapresiasi seluruh peserta, narasumber, dan penyelenggara yang telah berkontribusi dalam menyukseskan konferensi internasional ini. “Kolaborasi lintas negara seperti ini adalah kunci menuju dunia akademik yang adaptif terhadap tantangan global dan perubahan iklim,” tambahnya.
Kegiatan turut dimeriahkan dengan penampilan Tari Tradisional “Topeng 9” persembahan dari Untirta yang menggambarkan kekayaan budaya Banten dan semangat kolaborasi global. Acara dilanjutkan dengan pemberian Penghargaan Dosen Berprestasi 2025 kepada dosen dan peneliti Untirta yang berprestasi di bidang penelitian, pengabdian, dan inovasi.
Pada kegiatan inti, konferensi ini di Moderator ooleh Dr. Evan Johan menghadirkan empat pembicara internasional yang membahas perspektif lintas disiplin terkait inovasi berkelanjutan.
- Prof. Dr. Betania Kartika Muflih – International Islamic University Malaysia (Malaysia), dengan judul “The Role of Maqasid Al-Shariah in the Sustainability of Islamic Economy with a Focus on the Halal Industry.” Dr. Betania menyoroti peran Maqasid Al-Shariah dalam membangun ekonomi halal yang beretika, adil, dan ramah lingkungan.
- Lindelani E. Mnguni, Ph.D. – University of Pretoria (South Africa), dengan judul “Future-Proofing STEM Education in the Era of Artificial Intelligence.” Ia menekankan pentingnya transformasi pendidikan STEM untuk menghadapi era kecerdasan buatan dan perubahan global.
- Dr. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo – Chiba University (Japan), dengan judul “Establishment of an Interdisciplinary Hub for AI Disaster Mitigation and Sustainability.” Prof. Josaphat menyoroti pentingnya riset lintas disiplin berbasis teknologi AI dan satelit untuk mitigasi bencana dan pelestarian lingkungan.
- Ir. Agus Pramono, S.T., M.T., Ph.D., Tech. – Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Indonesia), dengan judul “Innovation in Transforming Bone Waste into Advanced Composite Materials: Repetitive Press-Roll Forming vs. Self-Propagating Intermediate Temperature Synthesis.” Prof. Agus memperkenalkan inovasi pemanfaatan limbah tulang ikan bandeng menjadi material komposit berteknologi tinggi yang mendukung konsep ekonomi sirkular dan green manufacturing.
Kegiatan ditutup dengan diskusi interaktif melalui sesi tanya jawab (Q&A) yang diikuti dengan parallel session dari berbagai bidang riset. Melalui pelaksanaan GS-SIGRET 2025, Untirta mempertegas perannya sebagai universitas riset global yang berkomitmen pada kolaborasi internasional, inovasi hijau, dan kontribusi nyata terhadap pembangunan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045. (Red)








