BOGOR, biem.co – Karbohidrat adalah salah satu zat gizi utama yang diperlukan oleh tubuh manusia sebagai sumber energi untuk melakukan aktivitas. Beberapa contoh bahan makanan yang mengandung karbohidrat antara lain nasi, mie, roti, dan sebagainya. Zat gizi seperti karbohidrat dapat diperoleh dari berbagai macam jenis pangan seperti biji-bijian, kacang-kacangan, buah-buahan, ataupun umbi-umbian.
Indonesia sebagai negara agraris dikenal dengan sumber daya alam yang melimpah terutama di sektor pertanian. Berbagai jenis pangan yang dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat tersebut tersedia dalam jumlah besar di Indonesia. Meskipun memiliki banyak kekayaan alam di sektor hasil pertanian yang dapat diolah sebagai sumber karbohidrat, masyarakat Indonesia lebih cenderung menjadikan mie seperti mie instan untuk dikonsumsi.
Data pada tahun 2024 menurut Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi mie instan perkapita selama seminggu di seluruh kabupaten/kota Indonesia berkisar antara 0,7-1,0 kg. Berbeda dengan mie instan, Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2024 rata-rata konsumsi umbi-umbian perkapita selama seminggu di seluruh kabupaten/kota Indonesia jauh berada di bawah 1,0 kg atau sekitar 0,05 kg.
Kekayaan alam yang sangat potensial di Indonesia seringkali tidak dimanfaatkan dengan baik, terutama dalam pengolahan pangan sebagai sumber karbohidrat. Umbi-umbian termasuk salah satu contoh hasil pertanian yang sangat potensial untuk dijadikan sebagai sumber karbohidrat karena tidak hanya memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, tetapi tersedia dalam jumlah yang melimpah dan mudah ditemukan di wilayah Indonesia.
Keanekaragaman pangan lokal seperti umbi-umbian dapat dimanfaatkan sebagai solusi untuk mengatasi ketergantungan pada satu jenis makanan pokok seperti mie instan. Gembili (Dioscorea esculenta L.) termasuk jenis umbi yang potensial untuk dijadikan sebagai sumber karbohirat. Kementerian Pertanian Republik Indonesia (2025) menyatakan bahwa setiap 100gram gembili mengandung 27-37% karbohidrat dan sisanya berupa zat gizi lain seperti protein, vitamin ataupun mineral.
Selain memiliki kandungan gizi yang memberikan manfaat bagi tubuh, gembili merupakan tanaman yang dapat tumbuh di daerah beriklim tropis seperti Indonesia. Gembili sangat cocok untuk dijadikan alternatif pangan karena mudah dibudidayakan, mudah dikonsumsi, dan dapat diolah menjadi berbagai produk olahan. Meskipun memiliki banyak keunggulan, pemanfaatan gembili untuk konsumsi pangan masih sangat terbatas.
Mengingat populasi penduduk Indonesia terus meningkat, diperlukan diversifikasi pangan guna meningkatkan ketersediaan dan konsumsi pangan yang beragam, bergizi, dan seimbang melalui pemanfaatan potensi pangan lokal seperti umbi.
Era modernisasi mendorong terjadinya perubahan terhadap pola konsumsi masyarakat Indonesia yang cenderung menginginkan sesuatu dengan cara praktis. Makanan praktis seperti mie instan menjadi alternatif pangan yang disukai oleh masyarakat Indonesia karena relatif murah dan mengenyangkan. Satu bungkus kemasan mie instan mengandung berbagai macam zat gizi berupa karbohidrat, protein, lemak, garam ataupun mineral lain.
Berdasarkan data World Instant Noodles Association (WINA) pada tahun 2020, Indonesia adalah salah satu negara dengan konsumsi mie instan terbesar di dunia. Nilai kandungan gizi pada umbi-umbian seperti gembili pada dasarnya jauh lebih baik dibandingkan mie instan. Amanat UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan membahas mengenai konsumsi pangan bergizi agar kebutuhan gizi tubuh terpenuhi.
Mengonsumsi mie instan tidak dikategorikan sebagai hal yang dilarang, akan tetapi kebutuhan gizi tubuh menjadi kurang terpenuhi meskipun memberikan rasa yang mengenyangkan. Keadaan seperti ini apabila dibiarkan terus menerus akan mengakibatkan masyarakat Indonesia mengalami kenyang perut, tetapi lapar gizi di negeri dengan kondisi pangan berlimpah.
Sebagai calon ahli ilmu pangan, saya ingin memberikan kontribusi kepada negara melalui pemanfaatan gembili untuk dijadikan sebagai pangan lokal yang potensial dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat Indonesia dengan pendekatan STEAM.
Penerapan pendekatan STEAM di bidang ilmu pangan ditujukan untuk menciptakan kerangka berpikir yang kreatif dalam menghasilan produk inovatif melalui science, technology, engineering, arts, dan mathematics.
Science ditujukan untuk menganalisis kandungan gizi karbohidrat pada gembili seperti inulin yang dapat dijadikan sebagai pangan fungsional karena berfungsi sebagai prebiotik, sehingga dapat memperlancar proses pencernaan dan memberikan dampak positif bagi kesehatan.
Technology berperan dalam pengolahan seperti modifikasi pati untuk menghasilkan produk gembili yang berkualitas dan memperbaiki sifat fungsional, sebagai contoh apabila gembili akan dimanfaatkan dalam pembuatan mie.
Engineering ditujukan untuk merancang cara kerja ataupun tahapan pengolahan seperti menentukan suhu dan waktu ekstraksi inulin yang optimal agar menghasilkan produk gembili yang berkualitas dengan proses yang efisien.
Arts berperan dalam meningkatkan daya tarik produk mulai dari profil atribut sensori produk gembili yang dihasilkan atau dengan mempertimbangkan penggunaan kemasan, sehingga tidak hanya meghasilkan produk yang berkualitas tetapi juga mendorong penerimaan konsumen.
Mathematics berperan dalam menganalisis perhitungan dari setiap proses pengolahan gembili, seperti menggunakan analisis cost benefit ratio untuk mengetahui apakah produksi pangan fungsional dengan bahan baku gembili layak secara ekonomi untuk dikembangkan menjadi sebuah program inovasi di masa akan datang.
Melalui pendekatan STEAM, gembili tidak hanya dijadikan sebagai sumber karbohidrat tetapi dapat diolah sebagai pangan lokal yang memberikan manfaat terhadap kesehatan tubuh. Penerapan pendekatan STEAM pada gembili mengintegrasikan sains dan teknologi untuk mengoptimalkan kandungan karbohidrat dari inulin, rekayasa proses untuk efiseinsi produksi, seni untuk menciptakan desain produk yang menarik, serta matematika untuk analisis dan prediksi pasar.
Sebagai calon ahli ilmu pangan, melalui pendekatan STEAM yang digunakan, gembili diharapkan dapat menjadi solusi dari keadaan kenyang perut, tetapi lapar gizi di negeri dengan pangan berlimpah. (Red)

Junanda Auditya Onasis, penulis adalah Mahasiswa Sekolah Pascasarjana Program Studi Ilmu Pangan, IPB University.
DAFTAR PUSTAKA
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2024. Rata-rata konsumsi perkapita seminggu menurut kelompok bahan makanan lainnya per kabupaten/kota (satuan komoditas). Jakarta: Badan Pusat Statistik. [BPS] Badan Pusat Statistik. 2024. Rata-rata konsumsi perkapita seminggu menurut kelompok umbi-umbian per kabupaten/kota (kg/kapita/minggu). Jakarta: Badan Pusat Statistik.Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2025. Info Teknologi: Gembili, Bahan Pangan Alternatif Potensial. https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/info-literasi/info-teknologi-gembili-bahan-pangan-alternatif-potensial
[PRI] Pemerintah Republik Indonesia. 2012. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Jakarta: Sekretariat Negara.World Instant Noodles Association (WINA). 2024. Annual Report 2024. Tokyo (JP): WINA.






