Eko SupriatnoKolom

Eko Supriatno: Jalan Panjang Narasi

KOLOM, biem.co – Sejak kecil, hidup Eko Supriatno bergerak dalam sebuah gelombang sunyi yang kelak menjelma menjadi narasi panjang seorang intelektual: membaca, menulis, nyantri, mengajar, meneliti, lalu bersuara bagi publik.

Di Subang, 4 November 1983, bocah itu tumbuh dalam rumah sederhana milik pasangan Edi Suharno—yang kini telah wafat—dan Teti Tejaningsih, dua sosok yang menjadi guru teladan dalam diam maupun tindakan.

Dari mereka, Eko belajar tentang keteguhan, kesabaran, dan harga diri. Rumah itu memang hanya menyimpan beberapa buku, tetapi justru dari situlah ia menemukan pintu pertama menuju semesta: pengetahuan. Kedua orang tuanya mengajarkan bahwa belajar bukan tentang mengejar gelar, melainkan tentang membesarkan jiwa.

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Di Pondok Pesantren Sabilul Huda, Kasomalang—di bawah bimbingan kakeknya, Kiai Sabili Achmad Suriadji, dan KH. Ridwanul Bari—Eko belajar bahwa ilmu bukan untuk memamerkan kecerdasan, melainkan untuk menjaga martabat manusia.

Serambi kitab yang menguning mengajarinya disiplin, kepekaan sosial, dan etos kerja. “Pengetahuan adalah cahaya yang bisa menerangi jalan perubahan,” begitu keyakinan yang ia bawa hingga hari ini.

Ketika meninggalkan pesantren dan memasuki perguruan tinggi, dahaga belajar itu tidak pernah padam. Eko menyerap teori, metode penelitian, kritik sosial, dan filsafat, seolah mengejar sesuatu yang belum selesai sejak masa kecilnya.

Kini, ia menjadi dosen di Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) Banten. Di ruang kelas yang sederhana, ia mengajak mahasiswa menembus batas buku ajar: mengurai fenomena sosial, menimbang kebijakan publik, dan memproses data menjadi pengetahuan kritis. Kuliah baginya bukan ritual, melainkan ruang pencarian makna.

Di luar kampus, Eko bergerak luwes sebagai aktivis politik, konsultan kebijakan publik, analis data, dan penggerak literasi. Ia terlibat dalam penyusunan kajian strategis Bappeda dan data prioritas pembangunan Banten–Pandeglang (2023).

Bagi Eko, ilmu tidak boleh berhenti pada halaman jurnal. Ia harus turun ke desa, ke kebijakan, ke denyut masyarakat.

Dimensinya tidak berhenti pada akademik. Eko juga seorang seniman. November 2023, ia menggelar pameran lukisan di Bale Budaya Pandeglang. Ada “Perang Israel–Palestina”, “King Maker”, “Tiga Penari Sufi”, “Beban Petani” – empat rupa keresahan yang ia tuangkan dengan warna, garis, dan intuisi.

Dari gurunya, Gebar Sasmita, Eko belajar bahwa seni adalah cara lain untuk mengucapkan hal-hal yang tidak mampu dijelaskan oleh data dan teori.

Ledakan paling besar dalam hidup intelektualnya adalah menulis. Hingga 2025, Eko telah menghasilkan 49 buku lintas disiplin: politik, tata kelola pemerintahan, kebudayaan, ekologi, spiritualitas, sastra, hingga pendidikan.

Tahun 2023 menjadi tonggak: dua belas buku terbit hampir bersamaan—Dari Banten Melihat Indonesia, Kampung Hijau, Menulis Merdeka, Inklusivisme Mathla’ul Anwar, Simpul Cinta Bagi Semesta, dan lainnya. Karyanya Politik Sambalado (2015) pernah menjadi rujukan dalam membaca kritik sosial gaya akar rumput.

Disusul Smart Governance (2024), Politik Matahari Kembar (2025), serta deretan biografi: Gubernur Andra Soni, Kepemimpinan Irna Dimyati, hingga mahakarya Biografi Kiai Embay Mulya Syarief (2025)—yang dibedah dua belas profesor dari berbagai bidang.

Buku terakhir ini mendapat sambutan luas: tajam, empatik, dan berhasil menangkap denyut kepemimpinan dari perspektif budaya Banten.

Jejak ilmiahnya tersebar di jurnal nasional dan internasional. Ia menulis tentang demokrasi lokal, pemberdayaan masyarakat desa, politik media sosial, dan tata kelola pemerintahan.

Pendekatannya khas: analitis, berbasis data, tetapi tidak pernah meninggalkan suara-suara kecil di kampung—ruang sosial yang membentuk nalar publik Banten.

Aktivismenya hidup di banyak tempat: gerakan lingkungan, advokasi transparansi, kritik korupsi, hingga literasi kewarganegaraan. Ia menggagas Gerakan Kampung Hijau, membina komunitas penulis muda, dan menggerakkan diskusi publik tentang demokrasi setelah runtuhnya Dinasti Atut.

Di media massa, opininya hadir sebagai pengingat bahwa demokrasi tidak selalu tumbuh dari gedung tinggi, tetapi sering dari suara orang-orang yang kerap dianggap tidak penting.

“Menulis adalah cara saya merdeka, membangun kebebasan untuk maju,” ujarnya. Kalimat itu bukan slogan—melainkan cermin seluruh perjalanannya.

Dari pesantren di Subang hingga ruang-ruang diskusi di Banten, dari buku-buku yang lahir hampir setiap tahun hingga riset kebijakan yang memengaruhi pengambil keputusan, Eko membuktikan bahwa intelektualitas bukan sekadar profesi, tetapi laku hidup.

Inilah Eko Supriatno: akademisi, penulis, seniman, analis kebijakan, dan penggerak literasi yang menulis bukan untuk dikenal, melainkan untuk menerangi jalan.

Jalan panjang narasi yang ia bangun—dengan tinta, pikiran, dan keberanian—terus bergerak. Dan mungkin akan terus bergerak selama masih ada yang perlu diperjuangkan melalui kata-kata. (Red)

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button