INSPIRASI, biem.co – Geopark Ujung Kulon berada pada titik krusial sejarah kebijakan lingkungan Indonesia. Kawasan ini tidak hanya menyimpan narasi alam yang luar biasa, tetapi juga memikul tanggung jawab strategis sebagai etalon pengelolaan geopark nasional menuju standar global. Jika tidak dikelola dengan visi jangka panjang, keberadaan Geopark Ujung Kulon berisiko berhenti sebagai label administratif—indah secara deklaratif, tetapi lemah secara kinerja konservasi, edukasi, dan dampak sosial ekonomi.
Pemerintah daerah, pengelola taman nasional, akademisi, komunitas, dan masyarakat internasional kini menatap Ujung Kulon sebagai studi kasus penting pengelolaan geopark modern. Pada saat yang sama, kawasan ini memiliki beban ganda: menjaga geodiversitas kelas dunia yang terkait langsung dengan Jejak Tsunami Krakatau dan melindungi biodiversitas kritis, termasuk Badak Jawa sebagai spesies ikonik yang ikut menentukan reputasi konservasi Indonesia di mata global.
Karena itu, orientasi kebijakan tidak boleh sektoral, emosional, atau simbolik. Geopark Ujung Kulon harus diletakkan sebagai agenda strategis nasional—berbasis ilmu pengetahuan, konservasi yang disiplin, penguatan ekonomi masyarakat lokal, serta peningkatan daya saing internasional. Pertanyaannya bukan hanya bagaimana menjadikan Ujung Kulon sebagai destinasi wisata, tetapi bagaimana memastikan kawasan ini menjadi pusat pembelajaran dunia, motor kesejahteraan warga, dan benteng ekologis yang kokoh.
Reputasi Dunia
Saat ini, Geopark Ujung Kulon berada pada fase penting transisi kebijakan. Belajar dari Kebumen dan Belitung yang pada 2025 berhasil memperoleh pengakuan UNESCO, Ujung Kulon tidak boleh berhenti pada status nasional. Status nasional bukan tujuan akhir, melainkan titik awal menuju pengakuan global yang lebih strategis.
Ujung Kulon memiliki modal objektif yang sangat kuat. Kawasan ini menyimpan narasi geologi kelas dunia tentang Jejak Tsunami Krakatau, mewakili keunikan proses geovulkanik, relasi tektonik, dan dinamika geomorfologi yang memiliki implikasi global. Namun modal objektif saja tidak cukup. Ujung Kulon membutuhkan percepatan tata kelola yang efektif, penguatan fasilitas edukasi berstandar internasional, serta peningkatan branding global yang sepadan dengan kapasitas ilmiahnya.
Transformasi ini menuntut langkah yang konsisten, terukur, dan berbasis kerangka kerja yang jelas. Standar pengelolaan harus mengacu pada tiga pilar utama UNESCO: konservasi yang ketat, edukasi publik yang efektif, dan pengembangan ekonomi lokal yang berkeadilan. Visibilitas internasional tidak cukup hanya dibangun melalui promosi wisata, tetapi melalui reposisi ilmiah sebagai kawasan rujukan dunia untuk studi geologi, mitigasi bencana, dan perubahan lingkungan. Pada saat yang sama, jejaring riset global harus diperkuat agar Ujung Kulon tidak hanya dikunjungi wisatawan, tetapi juga menjadi destinasi ilmuwan dunia dalam riset geodiversitas, oseanografi, dan kebencanaan.
Karena itu, diperlukan tata kelola yang disiplin, kepemimpinan kebijakan yang tegas, serta keberanian untuk keluar dari zona aman administratif. Ujung Kulon harus berpindah dari “gelar status” menuju “kinerja standar global”. Ini berarti memastikan kualitas dokumentasi ilmiah yang kuat, pengelolaan kawasan yang akuntabel, engagement masyarakat lokal yang produktif, dan keberlanjutan yang terukur.
Dengan arah kebijakan yang jelas, manajemen yang profesional, serta strategi yang terintegrasi antara pemerintah pusat, daerah, pengelola taman nasional, akademisi, komunitas, dan mitra internasional, Geopark Ujung Kulon dapat naik kelas dari sekadar simbol kebijakan menjadi entitas geopark global yang kredibel, berwibawa, relevan, dan diperhitungkan dalam percakapan geopark dunia.
Ruang Edukasi Geopark
Pusat Informasi Geologi (PIG) yang dibangun pada 2024 memiliki posisi strategis sebagai pusat edukasi kebumian dan kebencanaan di Geopark Ujung Kulon. Namun, tanpa arah kurasi pengetahuan yang jelas, PIG berisiko berhenti sebagai fasilitas administratif dan ruang pajang data yang formal. Ini bukan hanya masalah teknis, tetapi masalah desain kebijakan dan orientasi fungsi. Banyak pusat edukasi di Indonesia mengalami stagnasi karena terjebak pada model penyajian informasi yang kaku, dominasi statistik, dan pendekatan komunikasi yang tidak ramah publik. Jika pola yang sama terjadi pada PIG Ujung Kulon, maka peluang strategis untuk membangun literasi geologi nasional akan hilang.
Arah kebijakan yang dibutuhkan adalah optimalisasi substantif PIG sebagai pusat pembelajaran modern yang relevan secara akademik, edukatif bagi publik, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. PIG harus ditransformasikan menjadi pusat digital storytelling yang menghubungkan data geologi dengan sejarah kejadian tsunami, sistem mitigasi bencana, serta konservasi Badak Jawa sebagai simbol biodiversitas. Integrasi ini penting agar masyarakat memahami bahwa geopark bukan hanya tentang batuan atau situs fisik, tetapi tentang relasi ilmiah antara geodiversitas, risiko bencana, dan tanggung jawab manusia dalam menjaga ekosistem.
Pada saat yang sama, PIG perlu menghadirkan pendekatan pembelajaran yang partisipatif. Penyediaan laboratorium pembelajaran tsunami yang interaktif, ruang simulasi bencana, kurikulum edukasi publik berbasis multimedia, hingga visitor learning system berbasis platform digital adalah kebutuhan yang bersifat strategis, bukan aksesoris. Dengan pendekatan ini, PIG akan berfungsi sebagai pusat literasi kebencanaan yang efektif, membangun kesadaran kritis bahwa Ujung Kulon bukan hanya objek wisata, tetapi kawasan dengan dimensi risiko, nilai sejarah, dan tanggung jawab konservasi.
Jika dikelola secara profesional, PIG akan menjadi jantung edukasi Geopark Ujung Kulon. Bukan hanya tempat informasi, tetapi pusat pembentukan kesadaran publik, penguatan kapasitas masyarakat, dan instrumen peningkatan reputasi ilmiah Indonesia di mata dunia.
Ekologi Seimbang
Banyak pengelolaan geopark di dunia jatuh pada kesalahan strategis: fokus berlebihan pada geosite, tetapi mengabaikan biodiversitas. Ujung Kulon tidak boleh mengulangi pola ini, karena kawasan ini memegang tanggung jawab konservasi Badak Jawa, salah satu spesies paling langka di dunia. Orientasi pengelolaan geosite yang terlalu turistik akan meningkatkan risiko gangguan habitat jika intensitas kunjungan tidak dikendalikan secara profesional.
Dalam konteks Geopark Ujung Kulon, sinkronisasi antara geodiversitas dan biodiversitas bukan pilihan tambahan, tetapi keharusan kebijakan. Pengembangan 14 geosite termasuk Tanjung Layar dan Karang Copong harus berbasis konsep low-impact tourism yang disiplin. Pendekatan ini menuntut adanya penetapan zonasi yang ketat, pengaturan carrying capacity wisatawan, pembatasan aktivitas berbasis risiko, serta mekanisme real-time monitoring terhadap potensi gangguan ekosistem.
Pada saat yang sama, pengawasan konservasi harus diperkuat dengan instrumen modern dan tata kelola yang akuntabel. Teknologi pengawasan satwa, sistem pelaporan terpadu, keterlibatan komunitas, serta kolaborasi ilmiah internasional perlu diposisikan sebagai instrumen utama perlindungan biodiversitas.
Dengan kerangka seperti ini, geodiversitas dan biodiversitas berjalan selaras—bukan saling mengorbankan, melainkan saling menguatkan sebagai satu kesatuan ekologi strategis.
Jika pendekatan ini dijalankan secara konsisten, Geopark Ujung Kulon tidak hanya berhasil menjaga reputasi geologinya, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang mampu menyeimbangkan konservasi warisan bumi dan perlindungan kehidupan.
Kedaulatan Komunitas
Geopark akan gagal jika hanya berhenti sebagai konsep elit pemerintahan. Geopark hanya bermakna jika memberi dampak nyata bagi masyarakat. Itu adalah indikator utama keberhasilan. Realitas hari ini menunjukkan bahwa dampak ekonomi belum dirasakan secara merata dan pemuda belum diberdayakan secara maksimal dalam arsitektur pengelolaan Geopark Ujung Kulon. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut karena akan menggerus legitimasi sosial geopark itu sendiri.
Ke depan, penguatan peran masyarakat—terutama generasi muda—harus diletakkan sebagai pilar strategis. Forum pemuda geopark yang terstruktur diperlukan sebagai ruang kaderisasi, kepemimpinan, dan inovasi lokal. Program edukasi seperti Geopark EduCamp perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum muatan lokal agar geopark tidak hanya dipahami sebagai objek geografis, tetapi sebagai identitas intelektual generasi baru Pandeglang. Sertifikasi pemandu geowisata, peningkatan kapasitas pelaku lokal, serta penguatan homestay berbasis community ownership harus diposisikan sebagai strategi ekonomi nyata, bukan hanya proyek seremonial semata.
Pada saat yang sama, penerapan ekonomi sirkular menjadi instrumen penting untuk memastikan keberlanjutan. Produk lokal, jasa wisata berbasis komunitas, dan keterlibatan UMKM harus masuk ke dalam ekosistem geopark secara terencana.
Dengan demikian, pemuda bukan lagi penonton, tetapi penggerak. Masyarakat bukan lagi penerima dampak, tetapi pelaku utama.
Jika paradigma ini diterapkan secara konsisten, Geopark Ujung Kulon akan memiliki legitimasi sosial yang kuat, daya tahan ekonomi yang stabil, dan keberlanjutan yang terjaga. Ini bukan hanya mandat kebijakan, tetapi syarat mutlak agar Ujung Kulon diakui tidak hanya sebagai situs geologis kelas dunia, tetapi juga sebagai model people-centered geopark yang dihormati di tingkat nasional dan internasional.
Konektivitas Berkelanjutan
Rencana pembangunan jalan Sumur–Ujungjaya harus dibaca sebagai peluang besar sekaligus risiko strategis bagi masa depan Geopark Ujung Kulon. Infrastruktur konektivitas memang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan pariwisata, mempercepat mobilitas ekonomi, memperluas akses layanan publik, dan meningkatkan keterhubungan kawasan. Namun akses yang terlalu mudah tanpa kerangka pengawasan yang disiplin berpotensi memicu eksploitasi kawasan, meningkatkan risiko perburuan liar, dan membuka peluang alih fungsi lahan secara ilegal. Di sinilah letak tantangan utamanya: membangun jalan tanpa merusak masa depan.
Kebijakan pembangunan infrastruktur di kawasan geopark harus bertumpu pada prinsip green infrastructure. Setiap desain jalan, sistem drainase, material konstruksi, hingga pola penggunaan ruang harus memastikan bahwa gangguan ekologis berada pada tingkat minimal. Pada saat yang sama, pengawasan kawasan wajib diperkuat melalui teknologi modern seperti pemantauan satelit, sensor wilayah konservasi, dan sistem pelaporan berbasis masyarakat. Hal ini penting untuk memastikan bahwa akses tidak berubah menjadi ancaman, dan mobilitas tidak menjelma sebagai pintu kerusakan.
Dimensi keselamatan publik juga tidak boleh diabaikan. Kawasan Ujung Kulon adalah wilayah dengan sejarah kebencanaan yang kuat, sehingga integrasi rute evakuasi tsunami, titik aman, dan sistem peringatan dini harus menjadi bagian dari desain infrastruktur, bukan tambahan belakangan. Infrastruktur harus melayani kebutuhan wisata dan ekonomi, tetapi juga menjamin keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan.
Pada akhirnya, tugas pemerintah bukan hanya membuka jalan, melainkan memastikan bahwa setiap kilometer infrastruktur membawa manfaat yang seimbang bagi manusia, ekosistem, dan masa depan kawasan. Konektivitas hanya bernilai ketika selaras dengan konservasi.
Legacy of Resilience
Jejak sejarah Tsunami Krakatau selama ini sering dipersepsikan semata sebagai trauma. Cara pandang seperti itu perlu dikoreksi. Narasi kebencanaan tidak boleh berhenti pada memori ketakutan. Ia harus dikembangkan menjadi kerangka pengetahuan, pembelajaran ilmiah, dan basis penguatan ketahanan manusia serta ekosistem. Ujung Kulon memiliki peluang strategis untuk menjadi pusat pembuktian bahwa wilayah yang pernah menjadi ruang bencana dapat menjelma menjadi pusat ilmu pengetahuan, mitigasi modern, dan ketahanan ekologis.
Pendekatan kebijakan ke depan harus menempatkan bencana sebagai sumber pembelajaran global. Ujung Kulon perlu dirancang sebagai laboratorium dunia untuk memahami hubungan antara dinamika tektonik, aktivitas vulkanik, perubahan geomorfologi, dan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Narasi ilmiah yang kuat perlu dibangun. Bukan narasi ketakutan, tetapi narasi ketangguhan (resilience), sains, kesiapsiagaan, dan kepemimpinan ekologis. Dengan orientasi tersebut, Ujung Kulon tidak hanya berfungsi sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai pusat studi ketahanan lingkungan, kebencanaan, dan tata kelola ekosistem global.
Mandat Peradaban
Pada tahun 2025, Geopark Ujung Kulon berada pada persimpangan strategis: tetap menjadi label administratif atau naik kelas sebagai motor konservasi, pusat edukasi publik, serta pengungkit kesejahteraan masyarakat lokal. Masa depannya ditentukan oleh keseriusan melakukan rebranding ilmiah dan global, transformasi ekonomi yang berkelanjutan, penguatan posisi masyarakat sebagai subjek utama, pembangunan infrastruktur yang cerdas dan aman, sinergi tata kelola multisektor, serta digitalisasi edukasi dan promosi lingkungan.
Ukuran keberhasilan bukan pada besarnya gedung, ramainya seremoni, atau banyaknya slogan. Ukuran keberhasilan ditentukan oleh dua indikator esensial: pertama, seberapa kuat masyarakat lokal merasa memiliki Ujung Kulon; kedua, seberapa terjaga ekosistemnya bagi generasi mendatang. Jika keduanya tercapai, maka Ujung Kulon tidak hanya tercatat sebagai destinasi, tetapi berdiri sebagai agenda strategis masa depan peradaban, ketahanan lingkungan, dan martabat ekologis Indonesia di mata dunia. (Red)
BUNG EKO SUPRIATNO, penulis adalah Dosen FISIP Universitas Mathla’ul Anwar.








