OpiniTerkini

Kebebasan, Martabat, dan Solidaritas: Jalan Sosialisme

Oleh: T.H. Hari Sucahyo

OPINI. biem.co – Kata “sosialisme” sering kali membuat orang mengernyitkan dahi. Ada yang langsung membayangkan diktator yang menindas rakyatnya, ada yang mengira sosialisme berarti semua orang harus hidup sama rata tanpa perbedaan, dan ada juga yang menganggapnya ide kuno yang sudah gagal di masa lalu. Tapi di balik semua kebingungan itu, ada makna yang jauh lebih dalam dan lebih relevan untuk dunia sekarang.

Sosialisme, kalau dipahami dengan benar, bukan tentang kontrol negara yang kaku, bukan tentang menyeragamkan hidup orang, apalagi menghapus kebebasan. Intinya sederhana: sosialisme adalah tentang demokrasi, bukan hanya di bilik suara, tapi juga di tempat kerja, di pasar, dan dalam kehidupan ekonomi kita sehari-hari.

Banyak percakapan tentang sosialisme biasanya dimulai dengan satu klaim klasik: “ketimpangan itu alami.” Dari sini biasanya mengalir argumen bahwa sosialisme bertentangan dengan kodrat manusia. Katanya, manusia itu memang egois, kompetitif, dan hanya bisa berkembang kalau dibiarkan bersaing.

Tapi kalau kita berhenti sejenak dan berpikir lebih jauh, sebenarnya pandangan itu lahir dari sejarah dan sistem yang kita jalani sekarang, bukan dari sifat manusia yang sejati. Apa yang kita anggap “alami” sering kali hanyalah sesuatu yang sudah lama kita biasakan.

Kalau kita menengok jauh ke belakang, ke masa ketika manusia hidup dalam kelompok kecil pemburu dan pengumpul, kita akan menemukan gambaran yang sangat berbeda. Di banyak komunitas awal manusia, tidak ada yang disebut “orang kaya” atau “orang miskin.” Hasil buruan dan sumber makanan dibagi bersama, karena kelangsungan hidup kelompok bergantung pada kerja sama, bukan kompetisi.

Kalau ada seseorang yang menimbun makanan atau menyombongkan diri, kelompoknya justru akan menegur atau menertawakan dia. Dalam masyarakat seperti itu, solidaritas adalah hal yang wajar. Artinya, bekerja sama dan saling membantu juga bagian dari kodrat manusia, sama “alaminya” dengan bersaing.

Ketimpangan yang kita kenal hari ini muncul jauh belakangan, ketika manusia mulai mengenal pertanian, kepemilikan tanah, dan sistem ekonomi yang berpusat pada keuntungan. Dari situlah lahir kelas sosial: ada yang punya tanah dan alat produksi, ada yang tidak. Ketimpangan lalu dilembagakan lewat hukum, politik, dan budaya, sampai akhirnya terasa seperti sesuatu yang “normal”.

Padahal, kalau dilihat dari sejarah panjang manusia, justru masyarakat tanpa kelaslah yang lebih lama bertahan. Jadi ketika ada yang bilang ketimpangan itu alami, sebenarnya mereka sedang mengulang kebiasaan sosial yang sudah begitu lama dianggap wajar, bukan menyebut fakta biologis.

Sosialisme muncul sebagai kritik terhadap kebiasaan itulah. Ia bertanya hal yang sederhana tapi mendasar: kenapa sebagian kecil orang bisa memiliki dan mengendalikan sumber daya yang dibutuhkan semua orang untuk hidup? Kenapa keputusan ekonomi yang memengaruhi jutaan orang bisa ditentukan oleh segelintir pemilik modal yang hanya mengejar keuntungan? Sosialisme ingin menggantikan sistem seperti itu dengan sistem yang lebih demokratis, di mana orang-orang yang terlibat dalam kerja ekonomi punya suara dalam menentukan arah dan hasilnya.

Demokrasi, dalam pandangan sosialisme, tidak boleh berhenti di politik. Apa gunanya kita bebas memilih pemimpin setiap lima tahun, kalau di tempat kerja, tempat kita menghabiskan sebagian besar hidup, kalau kita tidak punya suara sama sekali? Kebanyakan orang bekerja di bawah sistem yang sangat hierarkis.

Keputusan penting datang dari atas, dari bos besar atau pemegang saham, sementara para pekerja hanya bisa ikut aturan. Sosialisme ingin mengubah itu: tempat kerja seharusnya dijalankan secara demokratis, seperti koperasi, di mana pekerja adalah pemilik dan pengambil keputusan bersama.

Tentu banyak yang skeptis. Mereka bilang sistem seperti itu tidak akan jalan karena manusia pada dasarnya egois dan malas. Kalau tidak ada persaingan, siapa yang mau bekerja keras? Tapi pandangan seperti itu muncul karena kita hidup dalam sistem yang terus-menerus mengajarkan bahwa sukses berarti mengalahkan orang lain. Sejak kecil kita dibentuk untuk berpikir kompetitif: nilai ujian, ranking, karier; semua diperlombakan. Akibatnya, kita lupa bahwa manusia juga punya naluri kuat untuk bekerja sama.

Contohnya banyak di sekitar kita. Ketika ada bencana alam, orang-orang sering kali bergerak tanpa pamrih membantu sesama, bahkan orang yang tidak mereka kenal. Di desa-desa Indonesia, gotong royong sudah lama menjadi tradisi, bukan karena perintah negara, tapi karena rasa kebersamaan. Dalam koperasi, orang rela berbagi keuntungan demi menjaga keberlanjutan bersama. Dalam komunitas relawan, orang bekerja keras tanpa bayaran karena merasa bagian dari sesuatu yang lebih besar. Semua itu bukti bahwa manusia tidak semata-mata digerakkan oleh ego pribadi.

Manusia bukanlah makhluk yang beku dan seragam; kita berubah sesuai lingkungan dan sistem yang kita jalani. Kalau kita hidup dalam sistem yang mendorong persaingan, kita akan menjadi kompetitif. Tapi kalau sistemnya mendukung kerja sama, solidaritas pun tumbuh. Sosialisme tidak berusaha melawan kodrat manusia, tapi ingin menciptakan kondisi sosial yang membuat sisi terbaik manusia muncul. Ia percaya bahwa empati, keadilan, dan kebersamaan bukan hal yang asing, melainkan potensi yang sering tertindas oleh sistem yang salah.

Lalu bagaimana dengan kebebasan? Ini argumen yang paling sering muncul. Banyak orang takut sosialisme akan membatasi kebebasan individu. Mereka membayangkan negara yang mengatur segalanya sampai ke urusan pribadi. Tapi kebebasan seperti apa yang dimaksud? Apakah orang yang harus bekerja dua belas jam sehari untuk bisa makan disebut bebas? Apakah seseorang yang tidak punya akses ke pendidikan, kesehatan, dan rumah layak bisa dianggap punya pilihan hidup yang bebas?

Sosialisme menawarkan pandangan yang lebih luas tentang kebebasan. Kebebasan sejati bukan sekadar bebas dari aturan, tapi bebas untuk hidup dengan martabat. Bebas dari rasa takut akan kelaparan, bebas dari tekanan ekonomi yang memaksa orang menerima kondisi tidak adil. Dalam masyarakat yang lebih setara, kebebasan justru menjadi lebih nyata, karena setiap orang punya dasar yang sama untuk menentukan arah hidupnya.

Begitu juga dengan konsep kekayaan. Kita sering diajarkan bahwa kekayaan adalah hasil kerja keras. Tapi kalau kita jujur, sistem ekonomi modern tidak sesederhana itu. Banyak orang bekerja keras seumur hidup tapi tetap miskin, sementara sebagian kecil orang bisa menambah kekayaan hanya dari kepemilikan aset atau warisan.

Nilai kerja tidak ditentukan oleh kontribusi sosial, melainkan oleh posisi dalam struktur ekonomi. Seorang buruh yang membangun gedung pencakar langit tidak akan pernah menikmati gedung itu seperti pemiliknya. Sosialisme mempertanyakan ketidakadilan itu: kalau semua nilai datang dari kerja manusia, kenapa hasilnya hanya dinikmati segelintir orang?

Sosialisme bukan berarti semua orang harus punya hal yang sama. Ia tidak menolak perbedaan, tapi menolak ketimpangan yang tidak adil. Orang yang bekerja lebih keras atau punya bakat tertentu mungkin mendapatkan lebih banyak, tapi tidak sampai menimbulkan jurang sosial yang memisahkan manusia menjadi kelas atas dan bawah. Tujuannya bukan menyeragamkan, tapi menciptakan kesempatan yang benar-benar setara, sesuatu yang mustahil dalam masyarakat yang sudah timpang dari awal.

Salah satu bentuk nyata sosialisme di dunia modern adalah koperasi. Di sana, pekerja tidak hanya menjual tenaga mereka, tapi juga menjadi pemilik bersama. Keputusan penting diambil melalui musyawarah, keuntungan dibagi secara adil, dan orientasi bisnisnya bukan hanya laba, tapi kesejahteraan. Bentuk seperti ini membuktikan bahwa demokrasi ekonomi bukan mimpi. Ia bisa berjalan di tengah sistem kapitalis, bahkan sering kali lebih tahan krisis karena didasarkan pada saling percaya, bukan eksploitasi.

Sosialisme juga mengingatkan bahwa ekonomi seharusnya tidak lepas dari moralitas. Kita sering menganggap urusan ekonomi itu soal angka dan efisiensi: untung, rugi, pertumbuhan. Tapi setiap keputusan ekonomi adalah keputusan moral. Siapa yang diuntungkan dari sebuah proyek? Siapa yang dikorbankan? Apakah lingkungan dirusak, apakah manusia diperlakukan hanya sebagai alat produksi? Sosialisme menegaskan bahwa ekonomi seharusnya melayani manusia, bukan sebaliknya. Bahwa ukuran keberhasilan ekonomi bukanlah seberapa banyak laba yang dikumpulkan, melainkan seberapa banyak kehidupan manusia yang menjadi lebih baik.

Tentu, banyak negara yang mengklaim menganut sosialisme justru berubah menjadi diktator yang menindas rakyatnya. Tapi menyalahkan ide sosialisme karena kesalahan praktiknya sama saja seperti menolak demokrasi hanya karena pernah ada negara yang korup dan otoriter. Ide bisa diselewengkan, tapi nilai dasarnya tetap bisa dibela. Sosialisme sejati tidak menuntut kontrol negara atas segalanya, melainkan kontrol rakyat atas hidup mereka sendiri.

Pertarungan antara ide ketimpangan dan keadilan bukan sekadar soal ekonomi. Ini soal bagaimana kita melihat manusia. Apakah manusia hanyalah makhluk egois yang hanya mau bekerja kalau dipaksa pasar dan kompetisi? Atau manusia adalah makhluk sosial yang bisa tumbuh ketika diberi ruang untuk bekerja sama dan berbagi? Cara kita menjawab pertanyaan ini akan menentukan seperti apa masa depan yang kita bangun.

Sosialisme mengajak kita untuk membayangkan ulang arti kemajuan. Selama ini, kemajuan diukur dari angka GDP, jumlah gedung tinggi, atau banyaknya miliarder. Tapi apa gunanya semua itu kalau jutaan orang masih hidup miskin, bekerja tanpa jaminan, dan tidak punya waktu untuk menikmati hidup? Sosialisme mengatakan, kemajuan sejati adalah ketika setiap orang punya kesempatan untuk hidup layak, belajar, sehat, dan ikut menentukan arah masyarakat. Ketika tidak ada lagi yang harus memilih antara makan dan obat, antara kerja dan waktu bersama keluarga.

Kita hidup di dunia yang sangat kaya, tapi kekayaan itu terkonsentrasi di tangan segelintir orang. Beberapa individu kini memiliki kekayaan yang setara dengan separuh populasi dunia. Di tengah situasi seperti ini, ide sosialisme bukan nostalgia masa lalu, tapi panggilan moral masa kini. Ia mengingatkan kita bahwa tidak ada masyarakat yang bisa disebut adil kalau sebagian besar warganya hidup dalam ketidakpastian. Bahwa kebebasan sejati hanya bisa tumbuh di atas fondasi keadilan sosial. Dan bahwa demokrasi tidak akan lengkap selama ekonomi masih dikuasai oleh sedikit orang.

Sosialisme bukan sekadar sistem ekonomi, tapi cara memandang dunia. Ia percaya bahwa manusia bisa lebih baik dari yang kita bayangkan: bahwa kita bisa hidup tanpa saling menginjak, bahwa kesejahteraan bisa dibangun di atas kerja sama, bukan persaingan yang mematikan. Sosialisme adalah ajakan untuk memulihkan rasa kemanusiaan dalam dunia yang makin dingin oleh logika pasar. Ia bukan utopia, tapi sebuah arah menuju masyarakat di mana kebahagiaan seseorang tidak harus dibayar dengan penderitaan orang lain. Dan mungkin, dalam dunia yang semakin timpang seperti sekarang, arah itulah yang paling manusiawi untuk kita tuju. (Red)

T.H. Hari Sucahyo, penulis adalah pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button