OPINI, biem.co – Manusia memang mahir merayakan dirinya. Kita menepuk dada ketika target tercapai, merasa jenius ketika ide kita dipuji, dan berlagak pahlawan ketika proyek besar akhirnya selesai walaupun kita hanya menyentuh lima persen dari prosesnya.
Kita menyebut diri aset organisasi dengan bangga, tentu saja. Kita merasa sebagai motor perubahan meski sering kali bensinnya berasal dari hasil karya orang lain. Dan yang paling klise, kita merasa paling “berkompeten” setidaknya menurut penilaian diri sendiri.
Namun di balik segala kemegahan itu, ada satu kebiasaan yang rasanya tidak pernah usang: seni merusak ruang tempat kita berkarya. Ironisnya, ini mungkin satu-satunya seni yang ditekuni banyak orang tanpa perlu pelatihan apa pun. Ia timeless, selalu relevan, bahkan sering tampil anggun dalam balutan profesionalisme.
Padahal ruang tempat kita berkarya bukan sekadar ruangan ber-AC dengan meja dan kursi. Ia adalah ruang yang memberi penghidupan, ruang yang membuat kita mampu untuk membeli apapun yang kita butuhkan dan menghidupi mimpi-mimpi kita. Di sanalah kita tumbuh, belajar, menumpuk pengalaman, membangun relasi, dan mencoba menjadi versi terbaik dari diri kita atau setidaknya versi yang cukup baik untuk dinilai layak promosi.
Namun lucunya, begitu sedikit merasa lebih pintar, lebih berkuasa, atau lebih valid secara moral, sebagian dari kita mulai mempraktikkan seni kuno itu: meludahi ruang yang membuat kita bisa berdiri tegak hingga hari ini.
Caranya? Sangat sederhana, bahkan terlalu sederhana.
Kita bisa memulainya dengan mengeluh tanpa sekalipun menawarkan solusi, karena kritik terasa jauh lebih elegan ketika tidak disertai usaha memperbaiki. Lalu, menyebarkan ketidaknyamanan yang dibungkus rapi sebagai “kepedulian”, sehingga terlihat seolah kita peduli padahal sebenarnya hanya menambah keruh suasana.”
Setelah itu, meremehkan budaya kerja sambil berkata lantang bahwa semua ini “demi kemajuan”, padahal yang diperjuangkan hanyalah ego pribadi. Kita juga bisa dengan mudah melupakan tanggung jawab kecil—karena merasa diri layak diberi tugas besar dan lebih penting dari yang lain.
Dan tentu saja, tidak ada seni destruksi yang lebih halus daripada menciptakan friksi kecil yang tampak sepele, tetapi perlahan tumbuh menjadi jurang besar yang memisahkan kepercayaan, merusak harmoni, dan akhirnya menggerogoti ruang tempat kita berkarya dari dalam.
Semua dilakukan dengan wajah yang profesional, bahasa yang manis, dan nada yang seolah ingin membawa perubahan. Ah ya, perubahan—kata ajaib yang dapat membenarkan hampir semua bentuk kekacauan.
Dan ada pola yang sayangnya sangat manusiawi: kita baru menghargai ruang tempat kita berkarya ketika sudah kehilangan akses masuk. Baru sadar nilainya ketika berada di ruang yang lebih buruk. Baru paham arti kenyamanan setelah digantikan kekakuan. Baru mengerti makna aturan ketika melanggarnya menimbulkan bumerang.
Sebelumnya? Kita bebas mengabaikan, mencibir, bahkan melukai ruang yang selama ini menjaga kita. Padahal ruang tempat kita berkarya juga punya batas. Ia bisa menampung kritik, tapi tidak kekejaman halus. Ia bisa menoleransi perbedaan, tapi tidak ego yang membutakan. Ia bisa memberi banyak, tapi tidak selamanya bisa menutupi kerusakan yang ditanam dari dalam.
Dan ketika ruang itu akhirnya retak, runtuh, atau kehilangan jiwanya, kita biasanya menjadi orang pertama yang menunjuk ke luar—bukan ke dalam.
Etika paling dasar dalam ruang tempat kita berkarya sebenarnya sangat sederhana: jaga ruang yang pernah menjagamu. Namun ironisnya, etika sesederhana ini justru sering dianggap kuno.
Yang terasa modern hari ini adalah drama; yang dianggap kekinian adalah konflik; dan yang dilabeli progresif adalah merusak pelan-pelan sambil menamakannya “transformasi”.
Ruang tempat kita berkarya sama seperti seni, dipenuhi paradoks yang memalukan sekaligus menyedihkan. Kadang inovasi yang kita banggakan justru menjadi penghancur harmoni yang selama ini menopang kita.
Kadang kritik yang kita yakini konstruktif justru mengoyak relasi yang susah payah dibangun. Kadang ambisi pribadi membuat kita lupa bahwa ruang ini bukan panggung solo, melainkan arena bersama yang hanya hidup jika kita saling menjaga.
Atas nama efisiensi, suasana ruang berkarya bisa berubah kering dan kehilangan denyut hidupnya. Atas nama perbaikan, tim yang solid justru dipisahkan hingga kehilangan kekuatannya.
Atas nama kemajuan, hubungan yang hangat perlahan direnggangkan sampai tidak lagi terasa sebagai rumah profesional yang pernah kita banggakan.
Dan ketika semua itu terjadi, yang tersisa hanyalah ruang yang dingin, sunyi, dan kehilangan makna—ruang yang secara fisik masih ada, tetapi secara emosional telah tumbang.
Memang, seni kehancuran di ruang tempat kita berkarya sangatlah halus. Ia tidak membutuhkan gebrakan besar. Cukup sedikit ego yang dibiarkan tumbuh tanpa kendali, sedikit sinisme yang diselipkan dalam percakapan, sedikit rasa enggan berterima kasih, sedikit perasaan paling benar, dan perlahan ruang itu kehilangan nyawanya.
Karena “ruang” bukan hanya dinding dan meja; ia adalah ruang emosional yang menopang rasa dihargai, rasa aman, dan rasa diterima. Ketika ruang ini rusak, semuanya ikut runtuh. Bukan hanya kenyamanan, tetapi fondasi psikologis kita sebagai manusia yang mencoba berkarya dengan lebih baik lagi.
Karena itulah, seni berkarya yang sebenarnya tidak hanya soal produktivitas, capaian, atau seberapa cepat kita menyelesaikan pekerjaan. Lebih dari itu, seni berkarya adalah kemampuan menjaga ruang: ruang hubungan yang setiap hari kita bangun, ruang kepercayaan yang tumbuh dari sikap sederhana, dan ruang keutuhan tempat kita selama ini berjalan, belajar, dan berkembang.
Dalam keseharian yang penuh dinamika, entah itu target yang berubah, ritme kerja yang menuntut, atau ambisi yang terus bergerak. Kita sering lupa bahwa ruang berkarya bukan hanya sebuah tempat, ia adalah lingkungan yang perlu dirawat agar tetap bernyawa, tetap manusiawi, dan tetap menjadi tempat yang membuat kita merasa layak untuk berkarya.
Seni menjaga ruang ini sebenarnya tidak rumit. Kadang ia berwujud sesederhana bagaimana kita berbicara, bagaimana kita menahan ego ketika ingin merasa paling benar, atau bagaimana kita memilih membangun alih-alih merusak.
Aneh memang, banyak orang ingin berkarya di lingkungan yang harmonis, tetapi tidak semuanya bersedia berkontribusi untuk menciptakan harmoni tersebut. Sehingga lahirlah ironi yang sering muncul dalam kehidupan profesional: “Semua ingin dihargai, tapi tidak semua ingin berperilaku layak dihargai.”.
Di banyak situasi, yang membuat ruang berkarya tidak nyaman bukanlah karya itu sendiri, melainkan perilaku kecil yang dibiarkan tumbuh: komentar sinis yang dibungkus seolah peduli, kritik yang sebenarnya hanya ketidaksabaran, atau ambisi yang dipoles sebagai ‘demi kemajuan.’
Pada akhirnya, semua orang ingin berkarya di ruang yang baik, tetapi tidak semua ingin berperan aktif menjaga kebaikan itu. Jika mencapai hasil adalah tujuan, maka cara kita mencapainya adalah integritas. Dan tanpa integritas menjaga ruang, apa pun hasil yang kita capai hanya akan menjadi angka tanpa makna.
Sebab ruang yang tidak dijaga akan perlahan kehilangan nyawanya, dan ketika itu terjadi, bukan hanya produktivitas yang runtuh, tetapi juga nilai kemanusiaan yang seharusnya menjadi fondasi utama dalam setiap proses berkarya. (Red)
Afif Fiqhi, penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia dan bekerja di PT Agrobisnis Banten Mandiri (Perseroda) sebagai Kepala Seksi Kerjasma dan Pengembangan Usaha, tinggal di Kp. Sidayu, Desa Kebon Kec. Tirtaysa Serang, Banten. Disela kesibukannya, pria kelahiran Serang pada 22 Mei 1999 ini menyempatkan diri untuk memotret berbagai sudut kehidupan sosial dalam sebuah tulisan.






