KampusOpiniTerkini

Laut Indonesia Terancam: Aktivitas Manusia Sebagai Penyebab Utama

Oleh: Putri Meliya, Mahasiswi Biologi Universitas Pamulang Serang

INSPIRASI, biem.co – Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan kekayaan laut yang luar biasa. Lebih dari dua pertiga wilayahnya adalah perairan yang menyimpan keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia, termasuk terumbu karang, hutan mangrove, dan padang lamun. Namun, di balik potensi ini, ekosistem laut Indonesia saat ini menghadapi ancaman serius. Ironisnya, ancaman terbesar justru datang dari kegiatan manusia sendiri.

Berbagai aktivitas manusia telah memberikan tekanan berat pada kelestarian ekosistem laut. Penangkapan ikan berlebihan, penggunaan alat tangkap merusak seperti bom dan racun, pencemaran laut oleh limbah industri dan rumah tangga, serta konversi kawasan pesisir menjadi pemukiman dan area industri merupakan faktor utama kerusakan laut. Jika dibiarkan terus, masa depan laut Indonesia akan terancam punah.

Salah satu masalah paling mendesak adalah eksploitasi sumber daya laut yang tidak lestari. Permintaan tinggi pasar terhadap produk laut mendorong penangkapan ikan secara besar-besaran tanpa mempertimbangkan kapasitas ekosistem. Banyak nelayan, khususnya di pesisir, terpaksa menggunakan metode cepat untuk mendapatkan hasil tangkapan banyak dalam waktu singkat. Padahal, praktik ini merusak terumbu karang yang merupakan habitat utama berbagai spesies laut. Kerusakan terumbu karang tidak hanya mengancam ikan, tetapi juga mengganggu keseimbangan ekosistem laut secara menyeluruh.

Selain itu, pencemaran laut menjadi ancaman yang semakin jelas. Sampah plastik, limbah rumah tangga, dan limbah industri yang masuk ke laut telah mencemari perairan Indonesia. Plastik yang sulit terurai berubah menjadi mikroplastik dan masuk ke rantai makanan laut. Akibatnya, bukan hanya biota laut yang terpengaruh, tetapi juga manusia sebagai konsumen akhir. Laut yang seharusnya menjadi sumber kehidupan malah berubah menjadi tempat pembuangan limbah.

Kerusakan ekosistem laut juga diperburuk oleh pembangunan pesisir yang tidak terkendali. Konversi mangrove menjadi tambak, area wisata, atau pemukiman menghilangkan fungsi ekologis penting, seperti pencegah abrasi, penyerap karbon, dan lokasi berkembang biak organisme laut. Hilangnya mangrove membuat pesisir semakin rentan terhadap bencana seperti banjir rob dan erosi pantai.

Di samping itu, perubahan iklim global yang disebabkan oleh aktivitas manusia turut memperparah kondisi laut. Kenaikan suhu permukaan laut memicu pemutihan terumbu karang, sementara naiknya permukaan air laut mengancam pesisir dan pulau-pulau kecil. Meskipun perubahan iklim adalah masalah global, kontribusi kegiatan manusia di tingkat lokal tetap memainkan peran besar dalam mempercepat dampaknya.

Melihat situasi ini, upaya konservasi laut tidak boleh hanya dibebankan pada pemerintah. Kesadaran dan keterlibatan masyarakat adalah kunci utama menjaga kelestarian ekosistem laut. Edukasi tentang pentingnya konservasi, pemanfaatan sumber daya laut yang bijak, serta pengelolaan sampah yang baik harus terus diperkuat. Masyarakat pesisir perlu didorong untuk aktif dalam program konservasi berbasis komunitas.

Pemerintah juga memiliki peran penting melalui penegakan hukum ketat terhadap pelaku kerusakan laut, penguatan kebijakan pengelolaan sumber daya laut lestari, serta perluasan area konservasi laut. Kerja sama antara pemerintah, akademisi, organisasi lingkungan, dan masyarakat menjadi langkah krusial untuk memastikan laut Indonesia tetap terjaga.

Laut bukan sekadar warisan alam, tetapi juga penyangga hidup jutaan orang Indonesia. Jika manusia terus menjadi penyebab utama kerusakan laut, dampaknya akan kembali kepada manusia sendiri. Sudah waktunya aktivitas manusia diarahkan pada pelestarian, bukan penghancuran. Melindungi laut Indonesia berarti melindungi masa depan bangsa. (Red)

Editor:

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button