TANGERANG, biem.co – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten menegaskan komitmennya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah melalui penguatan sinergi moneter, fiskal, dan sektor jasa keuangan. Hal itu disampaikan dalam kegiatan Taklimat Media bertema “Menjaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi Banten Melalui Sinergi Moneter, Fiskal dan Sektor Keuangan” yang digelar di Jalarasa, The Breeze BSD, Kabupaten Tangerang, Kamis (12/2/2026).
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Perwakilan BI Provinsi Banten, Ameriza M. Moesa, serta menghadirkan narasumber dari Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Banten dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Banten. Forum ini menjadi ruang komunikasi strategis antarotoritas bersama insan media dalam memastikan harmonisasi kebijakan di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.
Dalam paparannya, Ameriza menyampaikan bahwa kinerja ekonomi Banten sepanjang 2025 menunjukkan penguatan yang solid. Secara kumulatif, ekonomi Banten tumbuh 5,37 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya dan berada di atas rata-rata nasional.
“Pada triwulan IV 2025, pertumbuhan bahkan mencapai 5,64 persen (yoy), lebih tinggi dari nasional yang sebesar 5,39 persen. Ini menunjukkan daya tahan dan akselerasi ekonomi Banten yang tetap terjaga hingga akhir tahun,” ujar Ameriza.
Ia menjelaskan, dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama dengan pangsa lebih dari 53 persen terhadap PDRB dan tumbuh 4,70 persen (yoy). Peningkatan tersebut didukung keyakinan konsumen yang terjaga, perbaikan ketenagakerjaan, serta momentum Hari Besar Keagamaan Nasional dan akhir tahun.
Sementara itu, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,15 persen (yoy). Realisasi investasi sepanjang 2025 tercatat mencapai Rp130,2 triliun atau 109 persen dari target RKPD, menempatkan Banten sebagai provinsi dengan realisasi investasi tertinggi keempat secara nasional.
“Kinerja investasi yang kuat mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Banten,” kata Ameriza.
Dari sisi eksternal, net ekspor tumbuh signifikan sebesar 11,27 persen (yoy), ditopang ekspor nonmigas yang meningkat 7,59 persen. Pemulihan ekspor komoditas unggulan seperti alas kaki dan produk kimia turut menjaga daya saing industri pengolahan Banten di pasar global.
Industri pengolahan sendiri tetap menjadi sektor utama dengan kontribusi terbesar terhadap PDRB. Di sisi lain, sektor transportasi dan pergudangan, perdagangan, real estat, hingga pertanian juga mencatatkan pertumbuhan positif sepanjang 2025.
Dalam forum yang sama, Kanwil DJPb Provinsi Banten menyampaikan bahwa kebijakan fiskal berperan sebagai shock absorber bagi perekonomian daerah. Realisasi belanja negara di wilayah Banten mencapai Rp27,90 triliun atau 96,28 persen dari pagu, dengan fokus pada pembangunan infrastruktur, penguatan SDM, dan perlindungan sosial. Transfer ke Daerah (TKD) terealisasi Rp18,72 triliun dan tumbuh 4,72 persen (yoy).
Sementara itu, OJK Provinsi Banten melaporkan bahwa intermediasi perbankan tetap tumbuh positif. Kredit bank umum per Desember 2025 mencapai Rp220,06 triliun dengan pertumbuhan 3,32 persen (yoy), sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 5,45 persen (yoy). Rasio kredit bermasalah (NPL) gross tercatat 3,05 persen, menunjukkan risiko perbankan yang tetap terjaga.
Ameriza menegaskan bahwa konvergensi tiga pilar kebijakan—moneter, fiskal, dan sektor jasa keuangan—menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas harga, memperkuat sistem keuangan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif serta berkelanjutan.
“Sinergi kebijakan dan komunikasi yang konsisten kepada publik sangat penting untuk menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali dan mempertahankan optimisme pelaku usaha,” tegasnya.
Ke depan, dengan bauran kebijakan yang terkoordinasi serta dukungan media sebagai mitra strategis penyampai informasi yang kredibel dan edukatif, momentum pertumbuhan ekonomi Banten diyakini akan tetap terjaga dan semakin menguat pada 2026. ***








