Film & MusikKampusPuisi

Alih Wahana Teks Puisi ke Musik: Musikalisasi Puisi atau Puisi Musikal?

Oleh: Peri Sandi*

BANTEN, biem.co – Untuk sebagian besar pembaca, musikalisasi puisi kerap dibayangkan sebagai bentuk musik yang beririsan dengan genre Balada atau musik minimalis. Varian alat musik yang digunakan umumnya dominan akustik yang mengeluarkan bunyi organik, untuk mengiringi pembacaan puisi atau teks puisi yang telah berbentuk nyanyian.

Pandangan umum semacam itu tidak bisa dipungkiri hadir karena interpretasi bunyi-bunyian yang dicitrakan sebagai jiwa puisi itu sendiri.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia versi online, musikalisasi puisi dimaknai sebagai pembacaan puisi yang dipadukan dengan musik. Seiring perkembangannya, praktik musikalisasi yang umum dicipta—kerap dilombakan, seperti dalam tangkai lomba FLS3N—mengarah pada bentuk puisi yang dinyanyikan. Akan tetapi, taste para pencipta musikalisasi puisi kerap juga mewarnai ragam bentuk yang disajikan, tergantung ekosistem yang mempengaruhi serta membentuknya.

Tarik menarik itulah yang kemudian menghasilkan ruang antara (in between), atau dalam kerangka Homi K. Bhabha, ruang antara bisa didudukkan sebagai ruang hibrida, di mana identitas dan makna berada dalam kondisi tidak stabil, mengalami negosiasi yang berulang. Bhabha menyebut ruang tersebut sebagai ruang ketiga.

Peri Sandi

Fenomena Alih-pindah Teks Puisi ke Bebunyian di Komunitas Arjasura

Agustus lalu, pembahasan dan workshop Musikalisasi Puisi ini coba diwujudkan sebagai program Pengabdian Kepada Masyarakat Institut Seni Indonesia Surakarta, yang diwakili oleh penulis (Peri Sandi) dan rekan dosen (Sigit Setiawan) di Komunitas Arek Surabaya di Surakarta (Arjasura).

Musikalisasi Puisi, dalam pembahasannya dengan komunitas yang pesertanya notabene adalah mahasiswa dan seniman multi disiplin seakan mengukuhkan apa yang diutarakan Bhabha di atas, bahwa negosiasi itu niscaya, konsep-konsep karya yang diciptakan mencitrakan identitas lain.

Seperti pada konsep Malik—seorang mahasiswa karawitan ISI Surakarta, salah satu peserta penulisan puisi di tahun 2023, dari program yang sama—mempunyai visi yang unik, ia membayangkan puisi yang berjudul Lukisan Raden Saleh karya dirinya itu sebagai teks yang terbuka. Malik berpendapat, “bahwa penulis dan tulisan memiliki jarak”.

Bagi Malik, tulisan yang diutarakannya dapat disimpulkan sebagai proses  alih-pindah keberadaan penulis dari realitas pengalaman, menuju realitas bayang, dan berakhir menjadi tulisan. Keduanya memiliki jarak yang signifikan. Ia menambahkan “mari kita juga membayangkan, realitas tulisan berada di tangan pembaca, sangat mungkin ia akan memiliki makna berbeda”. Oleh karena itu, teknis malik dalam menciptakan musikalisasi puisi, bermula dari pemaknaan tulisan sebagai citra. Dimana kehadiran teks puisi bisa berupa bunyi sahaja, tanpa perlu dihadirkan dalam bacaan maupun nyanyian secara verbal. Bunyi dalam konsep musikalisasi puisi Malik adalah puisi itu sendiri, Senyum Raden Saleh sebagai teks bunyi yang disusun dalam komposisi.

Workshop dan Estimasi Karya

Secara teknis workshop terbagi menjadi dua kelas, berdasarkan visi dan konsep para peserta. Ketika itu kami menyebut kedua kelas itu dengan nama kelas Citra Puisi (CP) dan kelas puisi sejati (PS).

Dalam praktiknya, kedua kelas tersebut memiliki kekhasan tersendiri, Kelas CP lebih banyak diskusi, mengeksplorasi referensi, dan sesekali praktik. Di kelas ini, instrumen yang dipilih beragam, dari instrumen konvensional hingga yang abnormal, dari instrumen tradisi hingga modern, dari yang akustik hingga distorsi. Seperti instrumen yang dipilih salah satu peserta, yakni bunyi nafas.

Lain halnya di kelas PS, mereka tekun mencari kemungkinan nada yang tepat untuk merepresentasikan puisinya, praktiknya mereka menggunakan aplikasi untuk membuat note balok dan mencobanya di alat musik.

Peri Sandi

Seni Tumbuh

Seni pada dasarnya selalu memiliki konvensi dan pakem tertentu, sebagian ada yang merawat namun ada pula yang mengembangkannya.

Konvensi, pakem, hukum, aturan dan lain sebagainya itu, pada tataran tertentu akan diproyeksikan penggunanya seiring kebutuhan tempus, lokus dan apresiatornya. Seni adalah salah datu manifestasi budaya yang memiliki hakikat dinamis. Maka seni dalam hal ini musikalisasi puisi yang dibahas dan diworkshopkan di Arjasura mengalami kondisi tumbuh yang semestinya, karens setiap peserta dapat mengembangkan konsep dan karyanya dengan cara yang lebih dinamis dan menyentuh. (Red)

*penulis adalah seniman Banten yang mengajar di Institut Seni Indonesia Surakarta

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button