PHNOM PENH, biem.co – Perang Thailand-Kamboja secara resmi meletus pada Kamis, 24 Juli 2025, mengguncang ketenangan di perbatasan saat sengketa wilayah yang terpendam menjadi konflik terbuka.
Angkatan Udara Kerajaan Thailand mengerahkan jet tempur F-16 untuk membalas serangan roket dari Kamboja yang menghantam wilayah sipil, menandai eskalasi militer paling signifikan antara kedua negara anggota ASEAN tersebut dalam lebih dari satu dekade.
Konflik bersenjata ini dengan cepat memicu krisis kemanusiaan yang parah. Sejumlah laporan awal, seperti yang dilansir media internasional Al Jazeera, mengonfirmasi sedikitnya 12 warga sipil di pihak Thailand tewas, termasuk anak-anak, dan puluhan lainnya luka-luka.
Runtuhnya hubungan diplomatik ditandai dengan penarikan duta besar oleh kedua negara dan penutupan total perbatasan sepanjang 800 km, yang memaksa puluhan ribu orang mengungsi dari rumah mereka.
Adu Narasi: Siapa Melepas Tembakan Pertama?
Di tengah kecamuk perang, Bangkok dan Phnom Penh saling melontarkan tudingan sebagai pihak yang memulai agresi, masing-masing merilis kronologi versinya sendiri untuk membenarkan tindakan militer mereka.
- Versi Thailand: Menurut keterangan militer Thailand, provokasi dimulai oleh Kamboja. Sekitar pukul 08:20 pagi, pasukan Kamboja dituduh melepaskan tembakan terlebih dahulu. Puncaknya terjadi pada pukul 09:40, ketika roket BM-21 Grad Kamboja menghantam wilayah sipil di Distrik Kap Choeng, Provinsi Surin. Sebagai balasan, Thailand mengerahkan jet tempur F-16 pada pukul 10:51 untuk menyerang posisi militer Kamboja.
- Versi Kamboja: Sebaliknya, Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja mengklaim agresi justru dimulai oleh Thailand. Pada pukul 06:30 pagi, pasukan Thailand disebut telah mengerahkan pasukan secara diam-diam di sekitar Candi Ta Moan Thom. Phnom Penh menuduh militer Thailand melancarkan serangan “tanpa provokasi” pada pukul 08:30 pagi. Militer Kamboja menegaskan bahwa mereka baru membalas tembakan pada pukul 08:47 sebagai pelaksanaan “hak sah untuk membela diri”.
Perbedaan kronologi ini menunjukkan bagaimana kedua negara berusaha membangun justifikasi hukum atas tindakan mereka dalam Perang Thailand-Kamboja.
Duka di Perbatasan: Anak-Anak Menjadi Korban
Warga sipil menjadi korban paling menderita dalam konflik ini.
- Korban Jiwa: Penjabat Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, mengonfirmasi angka korban tewas dari pihak sipil berkisar antara 10 hingga 12 orang. Di antara korban tewas terdapat seorang anak laki-laki berusia 8 tahun dan seorang anak berusia 12 tahun. Sedikitnya 31 warga sipil lainnya luka-luka, termasuk seorang bocah berusia 5 tahun.
- Serangan Fasilitas Sipil: Serangan roket Kamboja dilaporkan menghantam sebuah toko serba ada di pom bensin PTT, Provinsi Sisaket, yang memicu kebakaran besar dan menewaskan beberapa orang, termasuk pelajar. Seorang saksi mata di lokasi kejadian menggambarkan mendengar “suara keras tiga atau empat kali” dan melihat “awan asap raksasa”. Otoritas Thailand juga menuduh Kamboja menembakkan artileri ke dekat Rumah Sakit Phanom Dong Rak di Surin, yang memaksa evakuasi pasien dan staf medis.
- Pengungsian Massal: Akibat serangan tersebut, otoritas Thailand memulai evakuasi skala besar terhadap sekitar 40.000 penduduk dari 86 desa di empat provinsi. Sementara di sisi Kamboja, media lokal melaporkan setidaknya 1.500 warga sipil dari 12 desa telah dievakuasi ke zona aman.
Akar Konflik: Ranjau Darat dan Runtuhnya Diplomasi
Pertempuran 24 Juli merupakan puncak dari ketegangan yang memburuk dengan cepat. Insiden ledakan ranjau darat pada 23 Juli yang melukai lima tentara Thailand menjadi titik didih.
Thailand menuduh Kamboja sengaja menanam ranjau baru di jalur aman, sebuah pelanggaran terhadap Perjanjian Ottawa. Namun, Kamboja dengan tegas menyangkal tuduhan itu dan menyebutnya “tidak berdasar”.
Kejadian ini memicu keruntuhan diplomasi. Pada malam 23 Juli, Thailand menarik duta besarnya dan mengusir perwakilan Kamboja.
Langkah ini dibalas Kamboja keesokan paginya dengan menurunkan hubungan diplomatik ke “tingkat terendah”. Hanya beberapa jam setelah itu, pertempuran pun pecah.
Rangkaian peristiwa inilah yang menjadi titik kulminasi yang tak terhindarkan menuju Perang Thailand-Kamboja.
Respons Global dan Dampak Ekonomi
Dilansir dari Hindustan Times, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, dalam kapasitasnya sebagai ketua ASEAN, mendesak kedua belah pihak untuk “mundur” dan bernegosiasi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, menyerukan dialog dan menyatakan negaranya akan memainkan “peran konstruktif”. Sementara itu, Kedutaan Besar AS di Thailand mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya. (Red)








