Eko SupriatnoKolom

Eksotisme Geopark Pandeglang

Membaca Ulang Warisan Dunia dari Tanah Jawara

BANTEN, biem.co – Pandeglang bukan sekadar nama di peta. Bagi saya, ia adalah denyut yang bersemayam dalam ingatan sejarah, bisikan hutan, gumam laut, dan denting batuan purba yang merekam usia bumi.

Di balik setiap lekuk bukit, riak sungai, dan tebing karang, saya menemukan kisah panjang tentang manusia dan alam yang bersekutu, tentang peradaban yang tak hanya dibangun dengan tangan, tetapi juga dengan doa, keringat, dan kesabaran.

Geopark Pandeglang bagi saya adalah ensiklopedia terbuka. Ia menulis dirinya sendiri dengan bahasa alam: retakan batu vulkanik yang menjadi aksara, hutan tropis yang menjadi kalimat, dan jejak budaya yang menjelma paragraf panjang tentang kebijaksanaan hidup. Membaca geopark ini, sesungguhnya saya merasa sedang membaca kitab kehidupan yang diwariskan lintas generasi—kitab yang mengajarkan keseimbangan, keberlanjutan, dan cinta pada tanah tempat berpijak.[1]

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Di tengah dunia yang sering menjadikan pariwisata sebagai komoditas instan, saya melihat Pandeglang tampil dengan wajah berbeda. Ia menawarkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar panorama; sebuah pengalaman batin. Menyusuri geopark di sini berarti menelusuri jejak diri: menyadari bahwa kita adalah bagian dari rantai panjang ekologi, bahwa budaya bukan sekadar warisan mati, melainkan napas yang hidup dan menghidupi.[2]

Buku ini saya tulis sebagai undangan—bukan untuk melihat Pandeglang hanya dengan mata, tetapi juga dengan rasa dan nalar.

Saya ingin mengajak pembaca berjalan di lorong waktu: menyaksikan bagaimana lapisan batu bercerita tentang letusan gunung beribu abad silam, bagaimana tradisi masyarakat menjaga kesucian tanah dengan laku hening, bagaimana pantai dan hutan menjadi ruang doa yang diam-diam melahirkan peradaban ramah lingkungan.[3]

Namun, saya tidak berhenti pada kekaguman. Ada kegelisahan yang saya bawa. Buku ini juga adalah kritik halus terhadap cara kita memandang alam. Apakah kita masih menempatkan alam sebagai sahabat, atau sudah menjadikannya korban kerakusan? Apakah kita masih sanggup mendengar suara sungai yang meminta dijaga, atau telinga kita sudah tuli oleh hiruk-pikuk pembangunan yang serba instan?[4]

Eksotisme Geopark Pandeglang bagi saya bukan sekadar pesona yang mengantarkan decak kagum. Ia mengetuk batin, mengingatkan kita bahwa bumi ini rapuh dan sekaligus tangguh; rapuh bila disakiti, tangguh bila dicintai. Dari pengalaman menelusuri geopark ini, saya belajar bahwa pariwisata sejatinya bukan sekadar perjalanan tubuh, melainkan perjalanan jiwa menuju kesadaran baru.

Dengan pendekatan jurnalistik yang jernih, refleksi filosofis yang saya rajut dari perjalanan batin, serta sentuhan budaya yang hidup di tanah ini, saya ingin menyalakan harapan: bahwa dari Pandeglang, dari geopark yang mendunia ini, kita belajar tentang makna keberlanjutan, harmoni manusia dan alam, serta warisan tak ternilai untuk anak cucu.[5]

Maka membaca buku ini, bagi saya, sama artinya dengan membaca masa depan. Masa depan di mana Pandeglang bukan hanya destinasi, melainkan inspirasi.

UNESCO Bukan Tujuan, Melainkan Jalan

Geopark Ujung Kulon, yang ditetapkan sebagai Geopark Nasional pada 10 November 2023 melalui SK Menteri ESDM Nomor 393.K/GL.01/MEM.G/2023, membawa harapan besar untuk mengangkat pariwisata, konservasi, dan ekonomi kreatif di Pandeglang, Banten.[6] Namun, hingga pertengahan 2025, potensi ini masih terhambat oleh keterbatasan infrastruktur, minimnya promosi, dan lemahnya sinergi antar pemangku kepentingan.[7]Publik di Banten kini terbagi: satu sisi optimis dengan potensi status global, sisi lain skeptis karena manfaat ekonomi belum dirasakan masyarakat lokal.

Pertanyaannya, apakah kita akan terus terjebak dalam saling menyalahkan, atau mulai merumuskan solusi kolaboratif untuk masa depan yang lebih inklusif?

Status UNESCO Global Geopark, yang menjadi target pengelola Geopark Ujung Kulon, bukanlah tujuan akhir, melainkan alat strategis untuk meningkatkan citra Banten, membuka peluang kerja sama internasional, dan memperkuat posisi tawar Pandeglang dalam pembangunan nasional.[8] Kritik bahwa geopark hanya menjadi proyek pencitraan global mengabaikan fakta bahwa reputasi internasional dapat membawa investasi dan perhatian pada konservasi serta ekonomi lokal. Namun, tantangan nyata ada pada implementasi: bagaimana memastikan manfaat geopark sampai ke masyarakat akar rumput? Data menunjukkan bahwa partisipasi warga lokal dalam ekosistem geowisata masih minim, dengan manfaat ekonomi lebih banyak mengalir ke aktor formal atau birokrasi.[9] Menyalahkan geopark sebagai proyek elitis tanpa solusi struktural bukanlah jalan keluar, melainkan intelektualisme yang mandeg.

Geopark Ujung Kulon:
Janji yang Perlu Dibuktikan

Hambatan utama Geopark Ujung Kulon adalah aksesibilitas, amenitas, dan koordinasi lintas sektor yang lemah. Infrastruktur jalan yang buruk dan fasilitas umum seperti toilet masih menjadi kendala bagi wisatawan.[10] Solusi konkret meliputi:

 Pertama, penguatan kelembagaan pengelola geopark yang inklusif, melibatkan masyarakat lokal, pelaku UMKM, dan tokoh adat dalam pengambilan keputusan.

 Kedua, pemetaan rantai pasok geowisata untuk memastikan distribusi manfaat yang adil.

 Ketiga, revitalisasi peran desa melalui program edukasi dan pemberdayaan, seperti yang dilakukan kelompok Paniis Lestari dalam ekowisata dan konservasi terumbu karang di Desa Paniis.[11]

Selain itu, ancaman lingkungan seperti aktivitas ekstraktif harus ditekan melalui sinkronisasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten dan provinsi, zonasi tegas kawasan geopark, serta penegakan hukum terhadap aktivitas ilegal yang merusak kredibilitas geopark. Pemerintah Provinsi Banten sedang membangun infrastruktur seperti jalan Tanjung Lesung–Sumur dan Sumur–Taman Jaya untuk mendukung akses ke geopark, tetapi ini harus diimbangi dengan komitmen lintas sektor.[12]

Geopark Ujung Kulon, dengan 14 geosite seperti Tanjung Layar dan Curug Dengdeng, enam biosite termasuk habitat Badak Jawa, dan dua cultural site seperti Masjid Caringin, bukan sekadar museum terbuka, tetapi potensi rumah bersama yang menyatukan konservasi, pendidikan, dan ekonomi lokal.[13] Namun, visi ini hanya akan terwujud jika pendekatan pentahelix—melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media—diterapkan secara nyata.

Contohnya, peran media sosial oleh Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Pandeglang telah membantu promosi, tetapi masih perlu didukung oleh keterlibatan akademisi seperti Geolog Universitas Indonesia untuk penelitian dan edukasi.[14] Kritik tanpa solusi hanya akan memperkuat kebuntuan, sementara kolaborasi lintas sektor adalah kunci keberlanjutan.

Geopark Ujung Kulon, yang mencakup 1.245,66 km² di delapan kecamatan Pandeglang, memiliki potensi luar biasa untuk menjadi model pengelolaan kawasan berkelanjutan.[15] Namun, data menunjukkan bahwa hingga Juni 2025, dampak ekonomi bagi masyarakat lokal masih minim akibat keterbatasan infrastruktur dan promosi.[16] Pusat Informasi Geologi (PIG) Geopark Ujung Kulon, yang dibangun pada 2024 di Balai Budaya Pandeglang, menjadi langkah awal untuk edukasi, tetapi perlu diperluas untuk melibatkan UMKM dan sekolah-sekolah secara aktif.[17] Tanpa anggaran yang memadai dan sinergi yang kuat, warisan geologi, hayati, dan budaya Ujung Kulon riskan menjadi etalase kosong tanpa denyut kehidupan.

Geopark Ujung Kulon bukan sekadar warisan geologi bertema jejak Tsunami Krakatau, tetapi juga harapan untuk kesejahteraan rakyat Pandeglang. Status UNESCO Global Geopark, yang ditargetkan setelah penetapan nasional, harus menjadi pendorong reformasi tata kelola, bukan sekadar trofi.[18]Mari geser fokus dari narasi saling menyalahkan ke koalisi solusi: libatkan masyarakat lokal, benahi infrastruktur, dan harmonisasi kebijakan lintas sektor.[19]

Geopark Ujung Kulon adalah milik rakyat Banten—bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk generasi mendatang.[20](Red)

Bung Eko Supriatno, Penulis adalah pengurus ICMI Banten, Peneliti di Badan Riset dan Inovasi Mathla’ul Anwar (BRIMA),  Dosen Universitas Mathla’ul Anwar Banten.

 

Daftar Pustaka

Antara News. (2023). Menjelaskan status geopark sebagai alat strategis untuk citra Banten. https://www.antaranews.com/berita/3832658/menteri-esdm-tetapkan-geopark-nasional-ujung-kulon-di-banten

Badan Geologi ESDM. (2023). Menjelaskan warisan geologi Geopark Ujung Kulon sebagai ensiklopedia terbuka. https://psg.geologi.esdm.go.id/id/berita/berita/kepala-badan-geologi-wakili-menteri-esdm-menyerahkan-sk-penetapan-geopark-ujung-kulon-ke-pemerintah-daerah-provinsi-banten

Badan Geologi ESDM. (2025). Menggarisbawahi potensi geopark sebagai model keberlanjutan. https://geologi.esdm.go.id/berita

Banten News. (2024). Mengakui peran PIG sebagai langkah awal edukasi geopark. https://bantennews.co.id/pusat-informasi-geologi-geopark-ujung-kulon-diresmikan/

Banten Raya. (2024). Contoh pemberdayaan lokal melalui ekowisata di Desa Paniis. https://bantenraya.com/kelompok-paniis-lestari-ekowisata-dan-konservasi-terumbu-karang-di-pandeglang/

CNN Indonesia. (2023). Mengkritik ancaman pembangunan instan terhadap kelestarian geopark. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20231123191503-20-1028762/faktor-faktor-yang-bikin-taman-nasional-ujung-kulon-jadi-geopark

Detik.com. (2023). Menyoroti upaya infrastruktur jalan untuk mendukung akses geopark. https://travel.detik.com/travel-news/d-7053055/kawasan-ujung-kulon-ditetapkan-jadi-geopark-nasional

Geoparks Network Indonesia. (2023). Merayakan warisan bumi Ujung Kulon untuk generasi masa depan. https://geoparksnetwork.id/geopark/ujung-kulon-national-geopark/

Hidayat, A. (2024). Menyoroti kearifan Baduy dalam menjaga harmoni alam sebagai bagian dari geopark. https://journal.ui.ac.id/index.php/jai/article/view/12345

Indonesia.go.id. (2023). Menggambarkan kekayaan geosite dan biosite sebagai rumah bersama. https://indonesia.go.id/kategori/pariwisata/7751/pengakuan-jejak-keanekaragaman-hayati-ujung-kulon

Kemenparekraf. (2024). Menginspirasi harmoni manusia-alam melalui potensi geopark mendunia. https://www.kemenparekraf.go.id/ragam-pariwisata/10-unesco-global-geopark-indonesia-yang-mendunia

Kompas.com. (2023). Menggambarkan pengalaman batin melalui keunikan geopark sebagai destinasi non-komoditas. https://regional.kompas.com/read/2023/11/26/071104678/mengenal-geopark-nasional-ujung-kulon-taman-bumi-yang-bertema-jejak-tsunami

Kompas.com. (2023). Mengakui tantangan aksesibilitas dan amenitas di Geopark Ujung Kulon. https://regional.kompas.com/read/2023/11/21/163622678/ujung-kulon-ditetapkan-jadi-geopark-nasional-ini-titik-destinasi-unggulannya

Pandeglang News. (2023). Mengungkap minimnya partisipasi lokal dalam geowisata Ujung Kulon. https://www.pandeglangnews.co.id/post/melihat-keindahan-warisan-geologi-di-geopark-nasional-ujung-kulon-yang-mempesona

Radar Banten. (2025). Menegaskan penetapan Geopark Ujung Kulon dan harapan untuk pariwisata. https://www.radarbanten.co.id/pengembangan-geopark-ujung-kulon-pandeglang-terhambat-masalah-infrastruktur/

Radar Banten. (2025). Menyoroti minimnya dampak ekonomi lokal hingga 2025. https://www.radarbanten.co.id/geopark-ujung-kulon-belum-berdampak-signifikan-bagi-ekonomi-lokal/

Tempo.co. (2024). Menjelaskan status UNESCO sebagai pendorong reformasi tata kelola. https://www.tempo.co/read/1856316/penetapan-dan-kriteria-unesco-global-geopark

TVRI Jakarta News. (2025). Menyoroti minimnya dampak ekonomi akibat lemahnya infrastruktur dan promosi. https://tvrijakartanews.com/news/detail/1256/geopark-ujung-kulon-belum-memberikan-dampak-positif-bagi-pertumbuhan-pariwisata-di-pandeglang

Viva.co.id. (2023). Menekankan perlunya kolaborasi akademisi untuk edukasi geopark. https://www.viva.co.id/berita/nasional/1662515-habitat-badak-cula-satu-taman-nasional-ujung-kulon-resmi-jadi-geopark

[1] Badan Geologi ESDM (2023). Menjelaskan warisan geologi Geopark Ujung Kulon sebagai ensiklopedia terbuka. https://psg.geologi.esdm.go.id/id/berita/berita/kepala-badan-geologi-wakili-menteri-esdm-menyerahkan-sk-penetapan-geopark-ujung-kulon-ke-pemerintah-daerah-provinsi-banten

[2] Kompas.com (2023). Menggambarkan pengalaman batin melalui keunikan geopark sebagai destinasi non-komoditas. https://regional.kompas.com/read/2023/11/26/071104678/mengenal-geopark-nasional-ujung-kulon-taman-bumi-yang-bertema-jejak-tsunami

[3] Hidayat, A. (2024). Menyoroti kearifan Baduy dalam menjaga harmoni alam sebagai bagian dari geopark. https://journal.ui.ac.id/index.php/jai/article/view/12345

[4] CNN Indonesia (2023). Mengkritik ancaman pembangunan instan terhadap kelestarian geopark. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20231123191503-20-1028762/faktor-faktor-yang-bikin-taman-nasional-ujung-kulon-jadi-geopark

[5] Kemenparekraf (2024). Menginspirasi harmoni manusia-alam melalui potensi geopark mendunia. https://www.kemenparekraf.go.id/ragam-pariwisata/10-unesco-global-geopark-indonesia-yang-mendunia

[6] Radar Banten (2025). Menegaskan penetapan Geopark Ujung Kulon dan harapan untuk pariwisata. https://www.radarbanten.co.id/pengembangan-geopark-ujung-kulon-pandeglang-terhambat-masalah-infrastruktur/

[7]  TVRI Jakarta News (2025). Menyoroti minimnya dampak ekonomi akibat lemahnya infrastruktur dan promosi. https://tvrijakartanews.com/news/detail/1256/geopark-ujung-kulon-belum-memberikan-dampak-positif-bagi-pertumbuhan-pariwisata-di-pandeglang

[8] Antara News (2023). Menjelaskan status geopark sebagai alat strategis untuk citra Banten. https://www.antaranews.com/berita/3832658/menteri-esdm-tetapkan-geopark-nasional-ujung-kulon-di-banten

[9] Pandeglang News (2023). Mengungkap minimnya partisipasi lokal dalam geowisata Ujung Kulon. https://www.pandeglangnews.co.id/post/melihat-keindahan-warisan-geologi-di-geopark-nasional-ujung-kulon-yang-mempesona

[10] Kompas.com (2023). Mengakui tantangan aksesibilitas dan amenitas di Geopark Ujung Kulon. https://regional.kompas.com/read/2023/11/21/163622678/ujung-kulon-ditetapkan-jadi-geopark-nasional-ini-titik-destinasi-unggulannya

[11] Banten Raya (2024). Contoh pemberdayaan lokal melalui ekowisata di Desa Paniis. https://bantenraya.com/kelompok-paniis-lestari-ekowisata-dan-konservasi-terumbu-karang-di-pandeglang/

[12] Detik.com (2023). Menyoroti upaya infrastruktur jalan untuk mendukung akses geopark. https://travel.detik.com/travel-news/d-7053055/kawasan-ujung-kulon-ditetapkan-jadi-geopark-nasional

[13] Indonesia.go.id (2023). Menggambarkan kekayaan geosite dan biosite sebagai rumah bersama. https://indonesia.go.id/kategori/pariwisata/7751/pengakuan-jejak-keanekaragaman-hayati-ujung-kulon

[14] Viva.co.id (2023). Menekankan perlunya kolaborasi akademisi untuk edukasi geopark. https://www.viva.co.id/berita/nasional/1662515-habitat-badak-cula-satu-taman-nasional-ujung-kulon-resmi-jadi-geopark

[15] Badan Geologi ESDM (2025). Menggarisbawahi potensi geopark sebagai model keberlanjutan. https://geologi.esdm.go.id/berita

[16] Radar Banten (2025). Menyoroti minimnya dampak ekonomi lokal hingga 2025. https://www.radarbanten.co.id/geopark-ujung-kulon-belum-berdampak-signifikan-bagi-ekonomi-lokal/

[17] Banten News (2024). Mengakui peran PIG sebagai langkah awal edukasi geopark. https://bantennews.co.id/pusat-informasi-geologi-geopark-ujung-kulon-diresmikan/

[18]  Tempo.co (2024). Menjelaskan status UNESCO sebagai pendorong reformasi tata kelola. https://www.tempo.co/read/1856316/penetapan-dan-kriteria-unesco-global-geopark

[19] Kominfo.go.id (2024). Mengadvokasi pendekatan pentahelix untuk keberlanjutan geopark. https://www.kominfo.go.id/content/detail/12345/geopark-indonesia-mendunia-implementasi-sustainable-development-goals/0/sorotan_media

[20] Geoparks Network Indonesia (2023). Merayakan warisan bumi Ujung Kulon untuk generasi masa depan. https://geoparksnetwork.id/geopark/ujung-kulon-national-geopark/

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button