Kabar

Ustaz & Ustazah Pandeglang Melek Digital Bersama biem.co

biem.co Sobat biem, digitaliasi telah merambah banyak elemen, tak terkecuali dunia dakwah. Untuk itu, Seksi Bimas Islam Kementerian Agama mengadakan Pembinaan dan Peningkatan Kompetensi Penyuluh Agama Islam di Era Digitalisasi, bertempat di Hotel Horison Altama, Pandeglang, Selasa (8/92020).

Managing Director biem.co, Rizal Fauzi menjadi pembicara terkait optimalisasi penggunaan media sosial untuk media dakwah.

“Media sosial sendiri ialah media interaksi yang tak terhalang jarak dan waktu. Dan di dalamnya terdapat jejaring sosial yang melingkupi Facebook, Instagram, Twitter, dan lain sebagainya,” terangnya.

Rizal menekankan bahwa penggunaan media sosial untuk media dakwah sangat bergantung pada target penonton dakwah itu sendiri.

“Jika jamaah kita banyak usia 30 tahun ke atas, kita bisa menggunakan Facebook sebagai media dakwah. Terlebih, Facebook memiliki fitur seperti ‘halaman’, yang dapat memaksimalkan konten,sehingga bisa mendapatkan pengikut hanya dengan menyukai halamannya saja. Apalagi, halaman Facebook dapat menampung pengikut yang tidak terbatas. Lain halnya Facebook personal, yang batasnya lima ribu saja,” ujarnya.

“Tak bisa kita menggunakan cara yang sama untuk usia yang berbeda. Contoh saja Hanan Attaki dengan kontennya di Instagram. Sehingga banyak digemari perempuan dan remaja dan pesan dakwah Hanan pun sampai. Karena Gen Z sendiri banyak menggunakan Instagram sebagai media sosial mereka,” tambahnya.

Rizal memaparkan, pendakwah harus mempelajari dan memahami apa konten yang jamaah perlukan, serta mempersiapkan kemungkinan yang ada. Seperti sebelum membuat konten, diperlukan mengkaji materi yang akan disampaikan. Ia juga meminta para pendakwah untuk menghindari hal yang menimbulkan perdebatan yang tak ada ujungnya.

“Bisa dimulai dari gawai bapak atau ibu terlebih dulu. Dan jika telah bisa menarik penonton, lambat laun akunnya semakin besar, dapat  membuat tim khusus. Dengan akun satu Google Mail, kita sudah bisa membuat YouTube. Kuncinya, mulai dulu dari konten yang sebentar, namun mengena. Dan konten tersebut sampai kapanpun masih bisa terus dinikmati, tidak terbatas waktu. Dan selepas itu, memulai personal branding kita sebagai pendakwah,” paparnya.

Hadir pula Rai Meidi sebagai pengisi konten biem.tv, yang sedikit memaparkan di balik layar konten dakwah ‘Keutamaan Salat Tarawih’.

“Pembuatan video dimulai dari hal sederhana terlebih dahulu. Seperti biem.tv yang membuat video dengan durasi maksimal 1 menit tentang keutamaan  salat tarawih dengan ditambah kelimuan mengenai Ramadan lainnya. Karena target kami yaitu anak muda, terutama di Instagram. Sehingga mereka bisa menonton hingga selesai dan tak merasa bosan,” terang Rai.

Saat sesi tanya jawab, Ustaz Edi Cahyadi mempertanyakan kiat agar usaha dakwah para ustaz dan ustazah tidak tertinggal jauh.

“Secara keilmuan, padahal ustaz dan ulama kita sudah lebih dari cukup. Tapi di media sosial sendiri kurang aktif. Sehingga banyak tak paham manfaat berguru pada yang berilmu. Bagaimana menanggapinya?” tanya Edi.

“Mau tak mau kita melakukan percepatan di dunia digital. Kita juga dapat menekan merebaknya ‘ustaz kemarin sore’ yang dengan mudah mengkafirkan semuanya dan hanya berlandaskan ilmu yang didapat dari media sosial. Kita bisa saja menjelaskan pada anak muda tentang pentingnya berguru pada orang yang memang memiliki ilmunya. Tapi tak semudah itu mereka terima. Maka, percepatan untuk melek digital ini harus segera dilakukan,” tegas Rizal. (rai)

Editor : Happy Hawra
Tags

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button