biem.co – Pasar Royal resmi berganti wajah. Cat baru, papan nama baru, dan satu identitas baru: Royal Baroe. Peresmian berlangsung meriah, penuh sambutan dan harapan. Pemerintah Kota Serang menyebutnya sebagai simbol kebangkitan ekonomi.
Namun, di balik seremoni dan nama baru nan besar, muncul pertanyaan yang tak kunjung terjawab: apakah perubahan ini benar-benar menyentuh kehidupan warga, atau sekadar memperindah etalase kota?
Dalam sambutannya, Wali Kota Serang menyampaikan kalimat yang mencuri perhatian, “Tolong dijaga, saya sudah capek-capek membangun.”
Sepintas terdengar ringan, bahkan akrab. Tetapi bagi sebagian warga, pernyataan itu mencerminkan cara pandang lama dalam mengelola kota seolah pembangunan adalah jasa personal, bukan kewajiban negara yang dibiayai uang rakyat. Ruang publik bukanlah pemberian, melainkan hak warga yang seharusnya dikelola bersama secara adil.
Masalah utama Kota Serang sejatinya bukan soal kurangnya ikon. Kota ini sejak lama menghadapi persoalan yang jauh lebih mendasar: sempitnya lapangan kerja.
Banyak warganya terpaksa mencari nafkah ke luar daerah—ke Kabupaten Serang, Cilegon, Tangerang, bahkan Jakarta. Kota yang menjadi ibu kota provinsi justru belum mampu menjadi tempat hidup yang layak bagi sebagian besar penduduknya.
Dalam konteks itu, pembangunan dan penataan pasar semestinya menjadi instrumen penciptaan kerja, bukan sekadar proyek fisik. Tanpa arah kebijakan ekonomi yang jelas, pasar baru berpotensi hanya menjadi bangunan indah yang tidak memberi dampak nyata bagi kesejahteraan warga.
Pasar Royal sendiri bukan cerita baru. Ia telah melewati beberapa periode kepemimpinan, berganti konsep, berganti kebijakan, bahkan berganti nama. Pedagang pernah direlokasi ke Pasar Pandean, bangunan direnovasi, lalu diresmikan kembali.
Namun problem yang sama terus berulang: sepi pembeli, lemahnya daya beli, dan minimnya keberpihakan pada pedagang kecil. Jika terus berulang, persoalannya bukan pada pasar lama, melainkan pada pola pikir pengelolaan ekonomi rakyat yang tak pernah benar-benar berubah.
Transformasi Pasar Royal menjadi Royal Baroe dengan embel-embel “ekonomi kreatif” juga menyimpan risiko sosial. Pasar tradisional selama ini menjadi ruang hidup pedagang kecil dengan modal terbatas. Ketika konsep baru diperkenalkan, muncul pertanyaan krusial: siapa yang diakomodasi, dan siapa yang tertinggal? Tidak semua pedagang memiliki modal, jaringan, atau kemampuan untuk mengikuti standar baru yang sering kali lebih dekat dengan selera kelas menengah ke atas.
Alih-alih memberdayakan, konsep ini berpotensi menyingkirkan pedagang kecil secara perlahan. Pasar menjadi lebih rapi dan estetik, tetapi kehilangan ruhnya sebagai ruang ekonomi rakyat.
Dari luar, Royal Baroe tampak seperti proyek seremonial yang khas: diresmikan, difoto, lalu dipublikasikan. Urusan keberlanjutan sering kali datang belakangan. Tanpa pengelolaan yang serius, dukungan konkret bagi UMKM lokal, serta kebijakan yang memastikan pasar benar-benar hidup, Royal Baroe berisiko mengulang nasib proyek-proyek sebelumnya—ramai di awal, sepi setelah euforia berlalu.
Kota Serang sesungguhnya tidak kekurangan nama baru atau bangunan cantik. Yang dibutuhkan adalah keberanian politik untuk menyelesaikan persoalan dasar: pekerjaan, penghasilan, dan keberlangsungan hidup warga. Pasar bukan sekadar simbol pembangunan, melainkan tempat orang menggantungkan hidupnya.
Jika arah pembangunan tak berubah, Royal Baroe hanya akan menjadi ikon baru dengan masalah lama. Kota tidak tumbuh dari tampilan semata. Kota maju ketika warganya bisa bekerja dan hidup dengan layak.
Selama warga Kota Serang masih harus pergi jauh demi mencari nafkah, maka pembangunan yang dibanggakan itu akan tetap indah di foto—namun kosong dalam kehidupan nyata. ***
Penulis adalah warga biasa yang cinta akan Kota Serang.
Forum Diskusi Sefele menjadi salah satu wadah mengungkapkan dan mendiskusikan keresahan di hatinya.








