Puisi

Sajak-sajak Syafri Arifuddin Masser

Lelaki yang Mati Bunuh Diri

I’m strong on the outside, not all the way through.
I’ve never been perfect, but neither have you.
(Chester Bennington)

Pikiran-pikiran menjelma mata pisau.
Pertanyaan-pertanyaan mengiris tak kenal waktu.
Tampak dari luar orang-orang menyerukan namaku.

Mereka bahagia tapi tak mampu menjadi jawaban
dari segala tanya dalam kepala yang tiap detiknya
bagai jarum yang menusuk dadaku secara perlahan.
Paras, harta, tenar tak cukup menjadi penawar atas
rapuhnya hati—sebagai bagian yang paling butuh
nutrisi dan akal tak juga mengerti.

Pertanyaan itu
datang kembali—terus-menerus.
Adakah pundak yang siap menampung luka?
Adakah lengan yang menawarkan pelukan?
Waktu berlalu sedemikan cepat. Dunia luar tetap berputar
walau dalam setiap detiknya aku ditikam tanda tanya.

Sudah waktunya pulang, bila dunia
hanya menawarkan perang tak berkesudahan.
Sudah waktunya berakhir, bila kehidupan
hanya ditandai dengan debat yang juga tak bisa
memberi jawaban.

Adakah tempat kembali?

Mamuju, 2017

 

Solilokui

Dari hari ke hari kutemui diriku ditinggal sendiri
atau memilih pergi dari keramaian yang berbahaya
dan kesepian yang sama mematikannya.

Tak ada malam segelap kuburan di kampung
yang nyala lampunya sama dengan isi hatiku.
Selalu ditumbuhi rasa penuh ragu.

Semakin berlalu, sapa lebih senang tinggal
bersama maya dalam dunia yang fana tanpa jeda.
Orang lain dalam diriku berubah menjadi pengkhotbah
saat jalan semakin samar dan pandangan semakin buram.

Mata berbinar ketika cahaya datang menyapa
lalu kemudian nanar saat semuanya kembali ke awal.
Kembali ke dunia yang dipenuhi tanda tanya dan
titik juga masih jadi pertanyaan.

Dan seterusnya murung di rupa buat miring di otak.
Ada yang hendak bunuh diri tapi dijegal sabda.

Barangkali semua ini hanya perihal tanda
ke tanda lainnya yang merujuk ke satu titik
di mana semuanya akan mengerti pada akhirnya.

Mamuju, 2017

 

Solitude
:kepada orang lain dalam tubuhku

Bila doa mampu menolak bala
lalu kenapa enggan
menundukkan kepala
untuk menyerahkan jiwa

Bila raga selalu dihantui ragu
lantas kenapa angkuh
mendongakkan kepala
untuk mengakui dosa.

Mamuju, 2017

 

Perang yang Tak Akan Pernah Selesai

Aku bukanlah tentara yang diberikan medali
saat pulang dari peperangan. Kau harus tahu,
orang berperang tak pernah pulang dengan utuh.
Ini bukan tentang sebuah kecacatan tubuh tapi
tentang catatan sebuah ingatan yang tak ingin
lekas hilang.

Penghargaan hanyalah sebuah rasa bersalah
yang sembunyi di ketiak jendral-jendral yang tak ingin
kotor seragamnya. Duduk di balik meja dengan modal
pena yang siap kapan saja muncul sebagai pahlawan.

Tapi aku juga dalam medan perang hari ini. Sekarang
aku berhadapan dengan lawan tangguh bernama diri sendri.
Pertarungan antara sisi hitam dan kelembutan hati.
Kau sebagai juri juga sebagai penonton yang berhak
menghakimi apa saja.

Tapi aku tak takut kalah. Kemenangan hanya sebuah
iklan dalam televisi dan aku adalah tayangan utama.
Jika kekalahanku adalah murid yang sulit diatur maka
kau adalah guru yang jarang tepat waktu.

Mamuju, 2017

 

Yang Kita Benci Sebelum Hujan Belum Betul-Betul Berhenti

Pukul enam pagi.
Langit masih saja kelabu
dan kepalaku belum juga tahu
caranya untuk berhenti bekerja
memikirkan hal-hal tak perlu.

Hujan semakin deras
dan seperti biasa telingaku tak kuasa
menolak derai yang mengingatkanku
bahwa kita telah lerai.
Berai bagai serpihan kaca
yang muskil erat kembali.

Hujan enggan reda
dan ingatan tentangmu masih sama
seperti deras air mengalir
yang jatuh menghantam pasir.
Tanpa bekas meski deras.

Kita kenangan yang tak perlu
mengambil celah di pagi buta
dan sembunyi di balik derai hujan
untuk sekadar melukai ingatan.

Mamuju, 2018

 

Sebelum Kau Memintaku Jadi Kekasih

Apa sudah telah kaupertautkan semua ingin
agar jalan memiliki tujuan dan mimpi
memiliki tapal batas di mana ia harus berhenti.
Apa sudah telah kausirnakan ketakutan-ketakutan
agar tidak ada lagi penghalang juga pemisah
untuk rasa memiliki seutuh dan seluruh.
Apa sudah telah kaurampungkan segala ragu
agar logika kuat melawan adat dan tradisi
yang membuat kau semakin hari semakin sangsi.
Apa sudah telah kaukerahkan seluruh usaha
untuk menyampaikan niat dan maksud hati
atau hanyalah puisi-puisi tempatmu sembunyi.

Mamuju, 16 April 2018

 

Sajak Untuk Ayulia Palewoi

Kita menghabiskan hari-hari dengan mengunjungi masa depan.
Menemukan akan jadi apa kita di sana, akan seperti apa rumah
yang hendak kita bangun, siapa saja yang akan tinggal dalamnya
dan bagaimana kita akan merayakan kelahiran dan hari raya.

Kita membayangkan sebuah hunian sederhana. Kau menyebutnya
rumah: sebuah tempat di mana buku-buku berada sama banyaknya
dengan angan dan ingin kita di masa depan, yang di saat pagi kau
akan bangun dan mengajakku duduk di meja makan dekat jendela
dengan segelas kopi yang telah siap diseruput.

Kita memikirkan waktu berlalu begitu cepat seperti deras air
mengalir dari ketinggian saat hujan lebat. Mengekalkan rasa
takut yang bersemayam dalam tubuh kita yang lain bahwa jika
tak segera kita bersanding, harus berapa lama lagi kita beriring

Kita meyakinkan diri masing-masing tapi rasa yakin hanyalah
sebuah hiburan dari perasaan kita yang terlalu anak kecil, yang
mudah patah dan berhenti jika mendapati kekalahan. Kau datang
ke kepalaku dan memberi tahu perihal waktu yang memburumu
bagai kutukan.

Kau memilih menunggu dan tak peduli dengan rasa khawatir yang
kurawat dalam kepalaku sedang aku sendiri termenung dan mulai
menghitung-hitung.

Mamuju, 17 April 2018


Syafri Arifuddin Masser. Lahir 13 juli 1994 di Sirindu, Sulawesi Barat. Alumnus mahasiswa jurusan Sastra Inggris di Fakultas Sastra Universitas Muslim Indonesia. Menggagas pustaka jalanan Kamar Literasi Mamuju. Tergabung dalam antologi puisi: Muda-Mudi Berpuisi (Mandala, 2006), Kisah Perempuan yang Membalurkan Kotoran Sapi pada Kemaluannya Seumur Hidup (Interlude, 2017). Buku Puisi Pertamanya: Unjuk Rasa Kumpulan Sajak-Sajak politik (Indie Book Corner, 2018). Sekarang berdomisili di Mamuju-Sulawesi Barat.

Editor : Happy Hawra

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Baca Tulisan Ini Juga, Yuk!

Close