Tangan Buku
Saya sering kali
ditampar
oleh tangan
buku lewat
jemari kata.
Purbalingga, 2026
Ketakutan
Ketakutan kami
sebagai anak muda
yaitu menua di
jalanan.
Pagi yang tergesa karena takut
terlambat ke
belukar kantor.
Atau, kami takut tidak punya
sepotong senja yang dinikmati
bersama secangkir kopi untuk
bermesraan dengan
buku-buku.
Purbalingga, 2026
Menghafal Mufrodat
Anak-anak riang
melantunkan mufrodat
dalam lantang
yang menggema di sanubari.
Mufrodat itu
menari-nari di atas
angan-angan mereka
sebelum akhirnya
menetap dalam hafalan.
Mata yang berbinar
menerawang jauh ke depan.
Mengeja huruf demi huruf
dalam khusuk yang berani.
Sesekali meyakinkan hafalan
dengan mata pejam
karena dalam gelap mereka
itulah cahayanya.
Mufrodat itu menerangi
langkah mereka menuju
pintu-pintu ilmu
yang tadinya tertutup.
Purbalingga, 2025
Percakapan Buku Pada Seorang Perempuan di Perpustakaan
Tumpukan buku tunduk
pada seorang perempuan berjilbab cinta
yang sedang menggenggam buku
di pojok perpustakaan
dengan penuh rasa cinta.
“Semua orang bisa membacaku.
Namun, sudah tentu aku akan gagal membacamu.
Engkau adalah buku yang tak pernah selesai dibaca”
Purbalingga, 2026
Purwokerto Pagi Hari
Becak dikayuh oleh harapan
menjemput penumpang
yang sudah dicuri
oleh kendaraan pribadi.
Tempe Mendoan memanggil
pekerja yang tidak
sempat sarapan di pagi hari.
Soto Sokaraja berorasi
di mimbar.
“Tidak ada soto yang berkuah bening!
Yang bening hanyalah hati seorang pujangga dan pendoa”
Purbalingga, 2026
Yanuar Abdillah Setiadi, lahir di Purbalingga, Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Tiga buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023), Melihat Lebih Dekat (2024). Wajah Purwokerto: Antara Cinta, Suka dan Duka di Kota Satria (2026). Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023. Karyanya termuat di berbagai media. Instagram: @yanuarabdillahsetiadi.






