Eko SupriatnoKolomTerkini

Rezim Paracetamol

INSPIRASI, biem.co – Di tengah sunyi malam yang menggigit, di sudut terpencil sebuah desa, dua kisah dari kehidupan yang terperangkap dalam kemiskinan menyatu dalam kehampaan. Bukan cerita tentang mereka yang memilih berjuang hingga titik darah penghabisan, tapi tentang mereka yang bahkan tak bisa merasakan adanya pilihan sama sekali. Di dunia yang dipenuhi dengan harapan palsu, mereka hanya hidup untuk bertahan.

Kisah 1: Labu Siam dan Kenangan Berbuka Puasa

Di kebun yang terabaikan di pinggiran Cianjur, Minta, seorang pria tua berusia 56 tahun, merayakan Ramadhan dengan cara yang jauh dari biasa. Tidak ada nasi atau lauk, yang ada hanya dua labu siam yang dia ambil dari kebun tetangga. “Mau masak buat buka puasa,” ucap Minta dengan lemah, mengungkapkan niat sederhana yang justru mengundang bencana.

Begitu ketahuan mencuri oleh Ujang, pemilik kebun, segala niat mulia itu berubah menjadi tragedi. Marah dan tak terkontrol, Ujang menghajar Minta tanpa ampun. Pukulan dan tendangan yang tak terhitung jumlahnya mendarat di tubuh renta Minta yang hanya bisa merintih kesakitan. “Kalau saya bantu, takutnya dianggap sabotase,” kata Cucum, adik Minta, yang hanya bisa terdiam menyaksikan kakaknya dihajar. Dua buah labu siam yang seharusnya mengisi perut yang lapar, berakhir menambah luka fatal di tubuh Minta.

Ironis, bukan? Sebuah kebetulan yang seharusnya penuh harapan malah berakhir dengan darah dan air mata. Minta, di ujung nyawanya, hanya bisa berbisik, “Mau masak buat buka puasa.” Sebuah tragedi yang datang begitu mendalam, hanya karena sebuah kebun labu siam.

Kisah 2: Permintaan yang Tak Tertunaikan

Di pedalaman Nusa Tenggara Timur, seorang anak berusia 10 tahun bernama YBS menuliskan surat untuk ibunya. Dalam surat itu, ia hanya meminta satu hal sederhana: buku dan pena. Tak ada yang lebih ia inginkan, hanya untuk bisa menulis dan belajar di sekolah. Namun, bagi keluarganya, 10.000 rupiah adalah jumlah yang sangat mustahil untuk dipenuhi. Ibunya yang bekerja sebagai buruh serabutan, tak mampu memberikan bahkan barang yang paling dasar untuk pendidikan anaknya.

Di malam yang sepi itu, YBS merasa terperangkap dalam dunia yang penuh dengan ketidakberdayaan. Buku dan pena, simbol kecil dari masa depan yang lebih baik, tak mampu ia raih. Suram, suram sekali dunia ini baginya. Sebuah keputusan pahit, yang diambil seorang anak di usia yang terlalu muda. “Ibu, tak usah menangis, aku akan pergi,” tulisnya dalam surat itu, seolah mengikhlaskan segala yang ada. Ia menutup suratnya dengan gambar wajah menangis yang lebih mirip sebuah ikrar perpisahan yang tanpa harapan.

Di usia sepuluh tahun, YBS sudah merasakan beratnya kehidupan yang tidak memberikan ruang bagi mimpi-mimpi sederhana. Tanpa disadari, ia memilih jalan untuk mengakhiri semuanya. Semua ini karena sebuah permintaan yang tak bisa dipenuhi oleh dunia yang tidak peduli.

Rezim Paracetamol

Ini bukan sekadar dua kisah tragis. Ini adalah cerminan masyarakat yang terjebak dalam roda kemiskinan, di mana mereka yang paling lemah sering kali terlupakan. Dua kisah ini menunjukkan bagaimana dunia ini tidak lagi berpihak pada mereka yang tak memiliki apa-apa. Sebuah labu siam yang dicuri demi berbuka puasa, sebuah buku dan pena yang diminta seorang anak demi pendidikan yang lebih baik—keduanya adalah bagian dari ironi besar yang kita sebut kemiskinan.

Namun, yang lebih tragis lagi adalah bagaimana sistem ini mengobati penyakit sosial dengan solusi instan. Masyarakat kita yang terhimpit, yang terabaikan, hanya menerima “paracetamol” dari sebuah sistem yang tidak pernah berusaha menyembuhkan penyakit utamanya—kemiskinan dan ketidaksetaraan. Solusi sementara ini tidak akan pernah menuntaskan akar masalah yang ada. Sebaliknya, solusi tersebut hanya menyembuhkan rasa sakit sesaat tanpa menggugah keinginan untuk perubahan struktural.

Inilah wajah sesungguhnya dari sistem yang mengobati dengan paracetamol, sementara penyakit utamanya—ketidakpedulian sosial, ketidaksetaraan ekonomi—terus memburuk. Mereka yang lemah, yang paling rentan, dihukum oleh sistem yang seharusnya melindungi mereka. Tragedi seperti Minta dan YBS hanya mempertegas betapa dalamnya ketidakpedulian yang mengakar, meski dengan berbagai solusi instan yang diklaim sebagai jalan keluar.

Kisah-kisah ini bukanlah cerita biasa. Ini adalah peringatan keras bagi kita semua. Dalam dunia yang semakin modern ini, kemiskinan masih menghantui mereka yang paling rentan. Dan jika kita terus membiarkan ketidakpedulian ini berlanjut, kita akan kehilangan kesempatan untuk memperbaiki hidup mereka yang sebenarnya hanya ingin merasakan sedikit harapan.

Apakah kita akan terus membiarkan mereka yang terhimpit oleh kemiskinan memilih jalan mereka sendiri untuk keluar dari penderitaan? Ataukah kita akan mulai mendengarkan mereka yang terdiam dalam kesakitan dan memulai perubahan yang nyata? Karena jika tidak, kita hanya akan menciptakan lebih banyak Minta dan YBS dalam diam, yang akhirnya hanya menjadi angka statistik dalam catatan sosial kita yang terabaikan.

Paracetamol Sosial dan MBG

Dua kisah tragis yang tercatat di atas—Minta yang dihukum mati karena mencuri labu siam demi berbuka puasa, dan YBS yang mengakhiri hidupnya hanya karena tak bisa membeli buku dan pena—membuka mata kita tentang realitas kelam kemiskinan yang sering terabaikan. Di balik angka-angka statistik kemiskinan yang seringkali dihitung dengan sempit, ada realitas hidup yang lebih pedih, yang mengarah pada keputusan-keputusan ekstrem. Ketika sistem hanya hadir dengan solusi parsial, seperti program “Makan Bergizi Gratis” (MBG), kita kembali dihadapkan pada kenyataan pahit: apakah sistem ini benar-benar mengatasi akar masalah, atau hanya memberikan penangguhan sementara, seperti paracetamol yang mengobati rasa sakit tanpa menyembuhkan penyakit utamanya? Program MBG, yang seharusnya menjadi penyelamat bagi anak-anak dari keluarga miskin, justru semakin mempertegas ketidakmampuan sistem untuk menanggulangi akar masalah—ketidaksetaraan ekonomi dan sosial yang melumpuhkan mereka yang paling rentan. Masyarakat yang berada dalam kemiskinan ekstrim ini tidak membutuhkan solusi instan, mereka membutuhkan pembaruan struktural yang nyata.

Di sisi lain, perdebatan tentang apakah MBG benar-benar menggerus anggaran pendidikan atau tidak, hanya menyoroti permukaan dari masalah yang lebih besar. Masyarakat terus terbelah antara klaim dan kontra klaim, sementara data yang ada justru mengarah pada satu pertanyaan mendasar: apakah kita benar-benar serius mengatasi masalah ketidaksetaraan yang menjerat masyarakat, atau hanya sibuk dengan birokrasi yang berputar-putar? Pendidikan dan gizi harusnya berjalan bersama sebagai bagian dari satu ekosistem yang saling mendukung. Namun, jika pengelolaan dan transparansi anggaran tidak diawasi dengan ketat, kita hanya akan terus memberikan “paracetamol sosial”, solusi jangka pendek yang tidak akan pernah menyelesaikan masalah sesungguhnya.

Tragedi Minta dan YBS adalah gambaran nyata bahwa, meski niat baik mungkin ada, tanpa reformasi struktural dan pengawasan yang ketat, kebijakan apapun hanya akan berujung pada kesia-siaan. Apakah kita akan terus membiarkan mereka yang terpinggirkan hanya menjadi statistik?

Jika ini yang terus terjadi, maka kita hanya akan terus menambah dosis paracetamol sementara kemiskinan dan ketidaksetaraan terus berkembang biak. (Red)

BUNG EKO SUPRIATNO, penulis adalah Dosen FISIP Universitas Mathla’ul.Anwar.

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ragam Tulisan Lainnya
Close
Back to top button