KabarTerkini

PANDEGLANG PETARUNG (Solusi untuk Daerah yang Menolak Menyerah)

PROLOG

Kampung

Ketika hujan terlambat datang pada awal musim tanam, sebagian petani di Pandeglang memiliki kebiasaan yang sama: mereka melihat langit.

Mereka tidak sedang menunggu ramalan cuaca di televisi. Mereka juga tidak sedang membuka aplikasi prakiraan hujan di telepon genggam. Mereka sedang membaca sesuatu yang jauh lebih tua daripada teknologi: warna awan yang bergerak perlahan dari arah selatan, arah angin yang berubah menjelang petang, udara yang terasa lebih berat daripada biasanya, serta bau tanah yang mulai naik beberapa jam sebelum hujan benar-benar turun. Pengetahuan seperti itu diwariskan dari ayah kepada anak, dari kakek kepada cucu, jauh sebelum istilah perubahan iklim menjadi bahan seminar atau masuk ke dalam dokumen pembangunan.

Di Sobang, Cibaliung, dan Cimanggu, petani memahami bahwa menanam terlalu cepat dapat berarti gagal panen, sementara menunggu terlalu lama juga dapat berarti kehilangan musim. Sebagian besar keputusan penting dalam kehidupan masyarakat pedesaan memang lahir dari ruang sempit antara harapan dan ketidakpastian. Mereka menanam tanpa pernah benar-benar mengetahui bagaimana musim akan berakhir. Mereka bekerja sambil memahami bahwa tidak semua hal dalam hidup dapat dikendalikan oleh manusia.

Orang kota berbicara tentang ketahanan pangan melalui angka produksi, produktivitas lahan, dan target swasembada. Di Pandeglang, ketahanan pangan memiliki wajah yang jauh lebih sederhana. Ia hadir pada seorang petani yang tetap turun ke sawah meskipun harga gabah turun, pupuk datang terlambat, dan hujan tidak lagi mudah ditebak seperti dua puluh tahun yang lalu. Ketahanan tidak lahir dari ruang rapat atau laporan tahunan. Ketahanan lahir dari tangan yang tetap bekerja meskipun hasilnya tidak pernah sepenuhnya dapat dipastikan.

Pandeglang tumbuh dari pengalaman seperti itu. Kabupaten ini tidak dibesarkan oleh kemudahan, melainkan oleh kemampuan masyarakatnya untuk bertahan ketika keadaan tidak sepenuhnya berpihak kepada mereka. Dari situlah mungkin watak sebuah daerah dibentuk: bukan oleh seberapa mudah hidup dijalani, melainkan oleh seberapa lama ia belajar hidup bersama kesulitan tanpa kehilangan kemampuan untuk berharap.

Laut

Pukul empat pagi di Panimbang dan Sumur, sebagian besar rumah masih gelap ketika lampu-lampu perahu mulai bergerak meninggalkan garis pantai. Mesin diesel menyala pelan. Suara ombak lebih keras daripada percakapan para nelayan yang bersiap menghadapi laut. Bau solar bercampur garam laut memenuhi udara yang masih dingin sebelum matahari muncul dari balik cakrawala. Azan subuh dari musala kecil di kampung nelayan perlahan tenggelam oleh suara mesin perahu yang bergerak menjauh menuju perairan terbuka.

Di tempat-tempat seperti itu, hari kerja dimulai ketika sebagian besar orang masih tertidur.

Tidak banyak pekerjaan yang sedekat itu dengan ketidakpastian. Hasil tangkapan tidak hanya ditentukan oleh pengalaman dan keterampilan, tetapi juga oleh arah angin, tinggi gelombang, harga bahan bakar, dan harga ikan di pelelangan yang dapat berubah hanya dalam hitungan hari. Seorang nelayan di pesisir selatan pernah mengatakan bahwa pekerjaan mereka bukan menangkap ikan, melainkan menunggu nasib di laut.

Kalimat itu terdengar seperti keluhan yang berlebihan sampai seseorang melihat sendiri bagaimana ombak tinggi selama beberapa hari dapat menghentikan seluruh sumber pendapatan sebuah keluarga. Pendapatan berhenti, tetapi kehidupan tidak ikut berhenti. Anak tetap harus pergi ke sekolah. Beras tetap harus dibeli. Tagihan listrik tetap harus dibayar. Kebutuhan rumah tangga tidak mengenal musim barat maupun musim timur.

Pandeglang memiliki garis pantai yang panjang, tetapi panjang garis pantai tidak selalu berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat pesisir. Konflik inilah yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kehidupan di selatan Banten: laut yang luas, sumber daya yang besar, tetapi ruang hidup yang masih sempit bagi sebagian orang yang menggantungkan hidup kepadanya.

Bau solar sering kali masih menempel pada jaket seorang ayah ketika pagi harinya ia mengantar anaknya ke sekolah sebelum kembali lagi ke laut pada sore hari.

Jalan

Di sebuah sekolah dasar di bagian selatan Pandeglang, ada anak-anak yang berangkat sebelum matahari benar-benar naik. Sebagian berjalan kaki. Sebagian menumpang sepeda motor orang tua mereka. Sebagian lainnya melewati jalan tanah yang berubah menjadi lumpur setelah hujan turun semalaman. Lumpur masih menempel di sandal ketika bel pertama berbunyi dan suara langkah kaki mulai memenuhi koridor sekolah yang sempit.

Ada sepatu yang mulai tipis di bagian solnya. Ada tas sekolah yang telah dipakai bergantian oleh lebih dari satu anak dalam keluarga yang sama. Ada guru yang datang lebih dahulu daripada pembangunan tiba dan mengajar di ruang kelas sederhana dengan fasilitas yang jauh dari sempurna, tetapi tetap memelihara keyakinan bahwa pendidikan masih menjadi jalan paling mungkin untuk mengubah kehidupan seseorang.

Di banyak tempat, jalan dipahami sebagai infrastruktur. Di tempat seperti ini, jalan menentukan apakah hasil panen dapat tiba di pasar sebelum harga berubah. Jalan menentukan apakah seorang ibu hamil dapat mencapai puskesmas tepat waktu. Jalan menentukan apakah seorang anak dapat sampai ke sekolah tanpa harus mempertaruhkan keselamatannya ketika musim hujan datang.

Jalan yang rusak tidak hanya memperpanjang perjalanan. Kadang ia juga memperpanjang jarak antara seseorang dan masa depannya sendiri.

Sekolah

Pandeglang memiliki lebih dari satu juta penduduk dan sebagian besar berada pada usia produktif. Para ahli menyebut kondisi ini sebagai bonus demografi, sebuah kesempatan yang hanya datang satu kali dalam sejarah sebuah daerah. Namun sejarah menunjukkan bahwa bonus demografi tidak pernah datang membawa jaminan apa pun. Ia hanya menyediakan peluang, sementara keberhasilannya ditentukan oleh kemampuan sebuah daerah menyediakan pendidikan, pekerjaan, dan kesempatan yang cukup bagi generasi mudanya.

Di banyak desa di Pandeglang masih ada anak-anak yang menjadi generasi pertama dalam keluarganya yang berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sebagian belum pernah melihat kampus secara langsung sebelum hari pertama mereka diterima sebagai mahasiswa. Sebagian lainnya memilih bekerja setelah lulus sekolah menengah karena keluarga tidak memiliki kemampuan untuk membiayai pendidikan lebih lanjut.

Di sebuah ruang kelas sederhana, seorang guru bertanya kepada murid-muridnya tentang cita-cita mereka. Jawabannya tidak berbeda dengan anak-anak di Jakarta, Bandung, atau Surabaya. Ada yang ingin menjadi dokter, guru, polisi, atlet, maupun insinyur. Mimpi ternyata tidak pernah bertanya seseorang lahir di kota besar atau di ujung desa.

Yang sering membedakan bukanlah mimpi.

Yang membedakan adalah kesempatan untuk mengejarnya.

Potensi

Sedikit daerah di Indonesia memiliki kombinasi sumber daya seperti Pandeglang. Kabupaten ini memiliki kawasan konservasi kelas dunia di Ujung Kulon, Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung, kawasan Geopark, garis pantai yang panjang, lahan pertanian yang luas, serta jaringan pesantren yang hidup hingga tingkat desa.

Namun persoalan terbesar Pandeglang bukan terletak pada kekurangan potensi. Persoalan terbesar daerah ini justru terletak pada jarak antara potensi dan kesejahteraan.

Pandeglang memiliki laut, tetapi sebagian nelayannya masih hidup dalam ketidakpastian. Pandeglang memiliki kawasan wisata bertaraf internasional, tetapi banyak anak mudanya memilih mencari pekerjaan di Tangerang, Serang, dan Jakarta. Pandeglang merupakan salah satu daerah pertanian terpenting di Banten, tetapi angka kemiskinannya masih termasuk yang tertinggi di provinsi tersebut.

Badak Jawa tidak membayar uang sekolah.

Pantai yang indah tidak otomatis menambah penghasilan nelayan.

Geopark tidak akan berarti banyak apabila anak-anak muda tetap harus meninggalkan kampung halamannya untuk mencari pekerjaan di kota.

Persoalan sebenarnya bukan terletak pada kurangnya kekayaan alam atau sedikitnya potensi yang dimiliki, melainkan pada kemampuan mengubah seluruh potensi tersebut menjadi pekerjaan, pendapatan, dan kesejahteraan yang dapat dirasakan oleh masyarakat yang hidup paling dekat dengannya.

Anggaran

Tidak ada pembangunan tanpa anggaran, dan tidak ada daerah yang memiliki anggaran tanpa batas. Pandeglang menghadapi persoalan yang juga dihadapi banyak daerah lain di Indonesia: kebutuhan pembangunan tumbuh lebih cepat dibanding kemampuan keuangan daerah untuk memenuhinya.

Jalan perlu diperbaiki. Sekolah perlu direnovasi. Layanan kesehatan perlu diperluas. Lapangan pekerjaan baru perlu dibuka. Pada saat yang sama, kemampuan keuangan daerah memiliki batas yang nyata. Pendapatan asli daerah belum cukup besar untuk menanggung seluruh kebutuhan pembangunan yang terus bertambah dari tahun ke tahun.

Di atas kertas, kebutuhan pembangunan hampir selalu lebih besar daripada kemampuan anggaran untuk memenuhinya. Ruang fiskal yang sempit memaksa pemerintah daerah memilih mana yang lebih mendesak untuk didahulukan dan mana yang harus menunggu lebih lama.

Berbeda dengan banyak daerah yang masih kesulitan menemukan arah pembangunan, persoalan Pandeglang justru sering terletak pada kemampuan mengubah gagasan menjadi program dan program menjadi pembiayaan yang memadai.

Petarung

Setiap tahun selalu ada anak muda Pandeglang yang berdiri di persimpangan yang sama: pergi ke Tangerang, Jakarta, atau Cikarang untuk mencari pekerjaan, atau bertahan di kampung halaman sambil berharap kesempatan itu suatu hari datang lebih dekat kepada mereka.

Sebagian memilih pergi karena kebutuhan ekonomi tidak memberi terlalu banyak pilihan. Sebagian memilih bertahan karena orang tua mereka ada di sini, sawah mereka ada di sini, perahu mereka ada di sini, dan hidup mereka memang selalu ada di sini. Sebagian lainnya hidup di antara dua pilihan itu: bekerja di luar daerah sambil menyimpan harapan untuk suatu hari kembali pulang.

Barangkali masa depan Pandeglang akan sangat ditentukan oleh berapa banyak orang yang masih percaya bahwa daerah ini layak diperjuangkan.

Petani yang tetap menanam ketika hujan belum datang, nelayan yang kembali ke laut setelah badai berlalu, guru yang tetap mengajar meskipun fasilitas belum sempurna, dan anak-anak muda yang memilih percaya bahwa kampung halaman mereka masih memiliki masa depan adalah wajah-wajah yang menjaga daerah ini tetap bergerak.

Mereka jarang muncul dalam laporan statistik. Mereka tidak selalu berdiri di podium. Mereka hampir tidak pernah menjadi berita utama. Namun merekalah yang setiap hari memastikan bahwa Pandeglang terus berjalan meskipun tidak bergerak secepat daerah lain.

Buku ini tidak ditulis untuk mengabadikan seseorang atau satu masa jabatan. Buku ini ditulis untuk merekam cara sebuah masyarakat menghadapi keterbatasan tanpa kehilangan harapan, sekaligus cara sebuah daerah bernegosiasi dengan geografi, sejarah, dan nasibnya sendiri.

Sejarah tidak selalu ditulis oleh mereka yang paling dekat dengan pusat kekuasaan. Sering kali sejarah ditulis oleh mereka yang memilih bertahan ketika banyak orang memilih pergi.

Pandeglang sedang berusaha mengubah potensi menjadi kesejahteraan, keterbatasan menjadi kekuatan, dan harapan menjadi kenyataan.

Dan mungkin itulah arti paling sederhana dari sebuah kata yang selama ini hidup diam-diam di dalam diri masyarakatnya: petarung. (Red)

 

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button