Eko SupriatnoKabarKolomOlahragaTerkini

Mengapa Mereka Berlari untuk Messi

Oleh: Eko Supriatno, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mathla'ul Anwar (UNMA) Banten

KOLOM, biem.co – Pada malam itu di New Jersey, Juni 2016, Lionel Messi tidak terlihat seperti pemain terbaik di dunia. Ia lebih mirip seorang lelaki yang baru pulang dari kekalahan yang terlalu sering datang dan terlalu lama tinggal. Argentina baru saja kembali kalah di final Copa America Centenario. Sebelumnya ada Maracana pada 2014 yang menyisakan gol Mario Götze sebagai mimpi buruk yang terus berulang dalam ingatan publik Argentina. Setelah itu datang Chile pada 2015. Lalu Chile lagi pada 2016. Tiga final besar dalam tiga tahun. Tiga kali pula Argentina pulang dengan tangan kosong. Di negara yang menganggap sepak bola sebagai bagian dari identitas nasional, kegagalan itu bukan sekadar hasil pertandingan. Ia berubah menjadi luka kolektif yang dipikul bersama oleh jutaan orang.

Di depan kamera, Messi berbicara pendek. Pendek sekali.

“Bagi saya, tim nasional sudah selesai.”

Kalimat itu tidak panjang, tetapi Argentina mendengarnya seperti mendengar sebuah pintu ditutup perlahan dari dalam rumah sendiri. Tidak ada kemarahan dalam suara Messi. Tidak ada nada menantang. Tidak ada drama yang sengaja dipertontonkan. Hanya seorang lelaki kecil dari Rosario yang terlihat sangat lelah memikul sesuatu yang terlalu lama dipikul sendirian. Untuk pertama kalinya dunia melihat Lionel Messi bukan sebagai legenda, melainkan sebagai manusia biasa yang kehabisan tenaga untuk terus memenuhi harapan sebuah bangsa yang terlalu besar.

Besok paginya negeri itu gaduh. Radio-radio olahraga berbicara lebih keras daripada biasanya. Surat kabar menurunkan judul besar. Orang-orang berdebat di warung kopi, di halte bus, di toko roti, bahkan di kursi-kursi stadion yang kosong. Sebagian marah kepada Messi karena memilih pergi. Sebagian lagi marah kepada diri mereka sendiri karena terlalu lama gagal memahami siapa sebenarnya pemain yang selama ini mereka miliki. Selama bertahun-tahun Argentina meminta Messi menjadi Diego Maradona, padahal Messi tidak pernah lahir untuk menjadi Maradona.

Maradona memimpin dengan ledakan emosi yang mampu menggerakkan stadion. Messi memimpin dengan ketenangan yang perlahan menggerakkan ruang ganti. Maradona adalah sosok yang memenuhi ruangan ketika ia masuk ke dalamnya, sementara Messi justru membuat ruangan terasa tenang ketika ia berada di dalamnya. Keduanya besar dengan cara yang berbeda. Namun Argentina membutuhkan waktu yang panjang untuk menerima bahwa kepemimpinan tidak selalu hadir dalam bentuk suara yang paling keras. Kadang-kadang ia hadir dalam bentuk seseorang yang hampir tidak terdengar, tetapi selalu ada ketika dibutuhkan.

Ketika Messi akhirnya kembali beberapa bulan kemudian, ia tidak datang dengan pidato patriotik. Tidak ada konferensi pers yang penuh air mata. Tidak ada deklarasi besar tentang cinta tanah air. Ia datang seperti biasa. Membawa tasnya sendiri. Menyalami satu per satu orang yang ditemuinya. Duduk di ruang ganti seperti seorang pemain lain yang kebetulan mengenakan nomor sepuluh. Barangkali justru di situlah cerita yang sebenarnya dimulai, karena sejak saat itu Messi tidak lagi berusaha menjadi pemimpin seperti yang diinginkan publik Argentina. Ia memilih menjadi dirinya sendiri.

Dalam sejarah sepak bola, dunia mengenal banyak pemain besar. Sebagian melahirkan kekaguman. Sebagian melahirkan rasa takut. Sebagian lagi melahirkan kepatuhan karena nama mereka terlalu besar untuk dibantah. Tetapi hanya sedikit yang mampu melahirkan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada trofi atau penghargaan individu: pengorbanan. Pengorbanan adalah bentuk kesetiaan yang tidak bisa dibeli. Ia tidak lahir dari bonus pertandingan, tidak lahir dari klausul kontrak, dan tidak lahir dari ancaman kehilangan tempat di tim utama. Ia lahir dari sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit: pilihan.

Karena itulah pertanyaan yang sama selalu muncul setiap kali Argentina bermain. Mengapa Rodrigo De Paul berlari seolah memiliki tenaga yang tidak pernah habis? Mengapa Cristian Romero menabrakkan tubuhnya ke setiap duel seperti seseorang yang sedang menjaga halaman rumahnya sendiri? Mengapa Emiliano Martinez berdiri di depan gawang dengan tatapan seorang lelaki yang menolak membiarkan apa pun melewati pintu rumahnya? Dan mengapa semua itu terlihat dilakukan dengan sukarela?

Jawaban paling mudah tentu saja karena Messi adalah salah satu pemain terbesar dalam sejarah sepak bola. Namun sejarah olahraga tidak pernah sesederhana itu. Banyak pemain besar justru hidup sendirian di ruang ganti. Prestasi sering melahirkan jarak. Popularitas sering menumbuhkan iri hati. Kehebatan pribadi tidak selalu berhasil menciptakan kebersamaan kolektif. Dunia olahraga mengenal banyak pemain hebat yang dihormati, tetapi hanya sedikit yang benar-benar dicintai oleh rekan-rekannya sendiri.

Messi tampaknya memahami sesuatu yang sering terlewat dari banyak pemimpin, baik di politik, birokrasi, organisasi, bahkan kampus: manusia jarang mengikuti jabatan. Manusia lebih sering mengikuti ketulusan. Di ruang ganti Argentina, Messi tidak hidup sebagai seorang raja. Ia bermain kartu truco bersama pemain-pemain muda. Ia duduk menyeruput mate bersama mereka. Ia mendengarkan cerita tentang keluarga yang jauh di kampung halaman, tentang cedera yang tidak kunjung sembuh, tentang kecemasan yang tidak pernah sampai ke ruang konferensi pers. Ketika seorang pemain melakukan kesalahan, Messi lebih sering menjadi orang pertama yang menepuk pundaknya daripada orang pertama yang menunjukkan kemarahan. Ia lebih banyak merangkul daripada menghakimi.

Mungkin karena itulah para pemain Argentina tidak pernah merasa sedang bermain untuk Messi. Mereka merasa bermain bersama Messi. Perbedaan kecil itu ternyata mengubah banyak hal. Dalam banyak organisasi kita terlalu sering menemukan pemimpin yang meminta loyalitas sebelum menunjukkan kepedulian. Mereka ingin dihormati sebelum belajar menghormati. Mereka ingin dibela sebelum pernah berdiri paling depan untuk membela orang lain. Mereka meminta pengorbanan tanpa pernah lebih dahulu menunjukkan pengorbanan mereka sendiri. Messi memilih jalan yang berbeda. Ia hadir lebih dulu, mendengar lebih dulu, dan memberi lebih dulu. Seperti banyak hubungan manusia yang sehat, kesetiaan akhirnya datang tanpa pernah diminta.

Rodrigo De Paul pernah mengatakan bahwa dirinya siap berlari sampai mati demi Messi. Kalimat itu terdengar berlebihan. Sepak bola memang sering melahirkan kalimat-kalimat yang terlalu besar untuk kenyataan. Namun ketika melihat Argentina bermain, kalimat itu terasa tidak lagi seperti metafora. Mereka benar-benar berlari. Mereka mengejar bola yang hampir hilang. Mereka melakukan sprint pada menit-menit terakhir seperti pertandingan baru saja dimulai. Mereka menutup ruang yang menurut logika seharusnya sudah terlambat ditutup. Mereka bermain bukan hanya untuk sebuah negara. Mereka bermain untuk seseorang yang lebih dahulu membuat mereka merasa berarti.

Barangkali di situlah warisan terbesar Lionel Messi berada. Bukan pada gol-gol yang dicetaknya. Bukan pada Ballon d’Or yang dikumpulkannya. Bukan pula pada trofi yang memenuhi lemari penghargaan. Warisan terbesar itu mungkin jauh lebih sederhana. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu datang bersama suara yang paling keras, pidato yang menggelegar, atau kemampuan membuat orang takut. Kadang-kadang kepemimpinan hanya hadir dalam bentuk seseorang yang bersedia duduk lebih lama untuk mendengarkan, seseorang yang membuat orang lain merasa dilihat, seseorang yang membuat orang lain merasa penting, dan seseorang yang membuat orang lain merasa menjadi bagian dari sebuah cerita yang layak diperjuangkan bersama.

Karena pada akhirnya manusia jarang memberikan seluruh tenaganya kepada jabatan. Manusia memberikan seluruh tenaganya kepada seseorang yang lebih dahulu memberikan hatinya.

Mungkin itulah sebabnya Argentina terlihat berbeda ketika bermain bersama Lionel Messi. Ada sesuatu yang lebih besar daripada taktik, statistik, atau formasi. Barangkali mereka tidak hanya sedang menjaga keunggulan di papan skor. Mereka sedang menjaga seseorang yang selama bertahun-tahun lebih dahulu menjaga ruang ganti mereka.

Dan mungkin memang seperti itulah kesetiaan bekerja: pelan, tidak banyak bicara, tetapi membuat orang bersedia berlari sedikit lebih jauh daripada yang mereka kira mampu mereka lakukan.

Barangkali itulah sebabnya mereka tidak sekadar berlari bersama Messi.

Mereka berlari untuknya.

 

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ragam Tulisan Lainnya
Close
Back to top button