CERPEN, biem.co – Pagi itu, Kampung Harfat di Pulau Misool diselimuti kabut tipis yang perlahan menghilang ketika matahari mulai menampakkan dirinya. Dari tengah kampung, asap putih mengepul dari kayu-kayu yang telah dibakar. Batu-batu disusun dengan hati-hati, sementara ubi, sayuran, dan daging mulai dipersiapkan. Suara langkah kaki dan percakapan warga memenuhi udara. Anak-anak berlarian membawa kayu, para lelaki mengangkat batu, sedangkan para perempuan menyiapkan makanan. Hari itu adalah hari Bakar Batu, tradisi yang membuat seluruh kampung berkumpul dalam satu tempat. Bagi masyarakat Harfat, Bakar Batu bukan hanya tentang makanan. Ada kerja sama, kebersamaan, dan rasa saling memiliki yang ikut dimasak bersama batu-batu panas itu.
Di tengah kesibukan tersebut, Lani membantu ibunya, Maya. Sesekali ia mengangkat ubi dan meletakkannya di dekat tempat pembakaran. Namun, sejak pagi, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Ibunya beberapa kali memandang ke arah hutan di ujung kampung. Tatapan itu tidak seperti tatapan seseorang yang sedang menikmati pemandangan. Ada kegelisahan yang disembunyikan di balik wajah Maya.
“Mama, kenapa lihat hutan terus?” tanya Lani.
Maya segera mengalihkan pandangan. “Ndak ada apa-apa, Lani. Ko bantu Mama saja.”
Jawaban itu justru membuat rasa ingin tahu Lani semakin besar.
Dua belas tahun sebelumnya, Kampung Harfat pernah mengalami sebuah kejadian yang hingga kini masih dibicarakan dengan suara pelan. Saat pelaksanaan Bakar Batu, api tiba-tiba membesar dan menyebar ke beberapa bagian kampung. Tidak ada korban jiwa, tetapi beberapa tempat terbakar dan kegiatan yang seharusnya menjadi hari kebersamaan berubah menjadi hari penuh ketakutan. Seseorang kemudian dituduh sebagai penyebabnya. Ia adalah Markus, kakak Maya.
Markus tidak pernah membantah tuduhan tersebut. Ia hanya pergi meninggalkan Harfat setelah masyarakat mengusirnya. Sejak saat itu, namanya menjadi bagian dari masa lalu yang tidak ingin dibicarakan.
Lani tidak pernah benar-benar mengenal Markus. Ia hanya mengenalnya melalui cerita-cerita orang dewasa yang selalu menggambarkannya sebagai seseorang yang telah membawa masalah bagi kampung. Karena itu, ketika Lani melihat seorang laki-laki asing berdiri di antara pepohonan sore itu, ia tidak langsung menyadari siapa orang tersebut. Laki-laki itu hanya berdiri beberapa saat sebelum berjalan semakin dalam ke hutan.
Lani mengejarnya.
“Tunggu!”
Laki-laki itu tidak berhenti.
Ketika Lani sampai di tempat ia berdiri sebelumnya, orang itu telah menghilang. Yang tersisa hanya bekas langkah di tanah yang perlahan tertutup daun kering.
Malamnya, Lani melihat laki-laki yang sama berbicara dengan Yoram, kepala Kampung Harfat. Ia bersembunyi di balik sebuah pohon dan mencoba mendengarkan percakapan mereka. Hanya beberapa kata yang berhasil ditangkap telinganya.
“Aku sudah menunggu dua belas tahun,” ujar laki-laki itu.
Lani menahan napas.
Ia mengenali suara tersebut.
Markus.
Keesokan harinya, Lani menceritakan semuanya kepada Raka. Ayahnya hanya terdiam cukup lama.
“Markus sudah kembali, Ayah.”
Raka menatapnya.
“Jangan cepat percaya sama apa yang ko lihat, Lani.”
“Jadi… cerita tentang Markus selama ini tidak benar?”
Raka tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah hutan.
“Masuklah. Jangan ikut campur terlalu jauh.”
Tetapi bagi Lani, perkataan itu justru menjadi alasan untuk terus mencari tahu.
Keesokan paginya, keadaan kampung semakin aneh. Yoram tidak terlihat sejak pagi. Warga mulai mencarinya dari rumah ke rumah, tetapi tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Belum selesai rasa khawatir itu, Niko, adik Lani, juga menghilang.
“Niko!”
Lani berlari dari satu tempat ke tempat lainnya.
Maya mulai panik. “Raka, cari anak itu. Ko bawa dia pulang.”
Raka segera mengambil senter.
Lani ikut bersamanya.
Mereka menyusuri jalan menuju hutan. Di bawah sebuah pohon, Lani menemukan sebuah kalung.
“Itu punya Yoram,” katanya.
Maya yang baru tiba beberapa saat kemudian melihat benda tersebut. Wajahnya seketika berubah pucat.
Lani menatap ibunya.
“Mama tahu sesuatu, e?”
Maya tidak menjawab.
“Mama…”
“Sudah, Lani. Jangan tanya sekarang.”
Untuk pertama kalinya, Lani merasa yakin bahwa ibunya mengetahui lebih banyak daripada yang ingin dikatakannya.
Pencarian membawa mereka semakin jauh ke dalam hutan. Setelah berjalan cukup lama, suara Niko akhirnya terdengar.
“Kak Lani!”
Mereka berlari menuju sumber suara.
Niko berdiri bersama Markus dan Yoram di sebuah tempat tersembunyi.
Lani langsung menarik adiknya ke belakang.
“Ko baik-baik saja?”
Niko mengangguk.
“Aku tidak diculik, Kak. Aku ikut sendiri.”
Lani menatapnya kesal.
“Kenapa ko ikut?”
Niko menundukkan kepala. “Saya dengar Markus bicara sama Yoram. Saya penasaran.”
Markus kemudian menatap Lani.
“Beta tidak datang untuk bikin masalah.”
“Terus ko datang untuk apa?”
Markus menarik napas panjang.
“Untuk kebenaran.”
Kata itu terdengar sederhana, tetapi cukup untuk membuat suasana hutan menjadi semakin berat.
Dua belas tahun lalu, Markus bukanlah penyebab kebakaran yang membuatnya terusir dari kampung. Maya-lah yang secara tidak sengaja menjatuhkan bara api ketika sedang mempersiapkan Bakar Batu. Karena panik dan takut keluarganya hancur, Maya tidak berani mengaku. Markus yang mengetahui kejadian tersebut memilih mengambil kesalahan itu.
Ia membiarkan masyarakat membencinya agar adiknya tidak harus menanggung akibatnya.
Lani menatap Markus dengan mata berkaca-kaca.
“Kenapa ko tidak pernah bilang?”
Markus tersenyum pahit.
“Karena waktu itu, Mama ko lebih butuh seorang kakak daripada seorang pahlawan.”
Maya menundukkan kepala.
Air matanya mulai jatuh.
Namun ternyata, bukan hanya Maya yang mengetahui kebenaran tersebut.
Yoram juga mengetahuinya.
Ia memilih diam.
“Kenapa, Yoram?” tanya Lani.
Laki-laki tua itu tidak menjawab.
Markus kemudian mengatakan bahwa kebakaran tersebut bukan satu-satunya rahasia yang selama ini disembunyikan.
Ada sebuah bukti lama yang pernah disimpan oleh kakek Lani, ayah Maya. Sebelum meninggal, kakeknya mengetahui adanya hubungan rahasia antara Yoram dan seorang laki-laki bernama Daniel. Ia menuliskan semuanya dan menyimpan catatan tersebut di dalam sebuah kotak kayu.
Kotak itu disembunyikan di bawah tempat Bakar Batu.
Namun setelah kebakaran, semua orang mengira kotak tersebut telah musnah.
Ternyata tidak.
Nama Daniel mulai muncul semakin sering dalam pembicaraan warga. Ia adalah seorang laki-laki yang beberapa waktu terakhir sering membantu masyarakat. Ia ramah, mudah tersenyum, dan selalu terlihat berada di tengah kesibukan kampung. Tidak ada yang menganggapnya mencurigakan.
Termasuk Lani.
Sampai suatu hari ia menemukan sebuah foto lama.
Foto itu memperlihatkan Maya dan Daniel ketika masih muda.
Lani membalik foto tersebut.
Di bagian belakang terdapat tulisan tangan kakeknya.
Jangan percaya Daniel.
Lani membawa foto itu kepada Maya.
“Mama, siapa dia sebenarnya?”
Maya terdiam lama.
“Dia orang dari masa lalu Mama.”
“Kenapa Kakek tulis jangan percaya dia?”
Maya menutup mata.
Karena tahu bahwa tidak ada lagi yang bisa disembunyikan, akhirnya ia mengungkapkan rahasia yang paling berat.
Daniel adalah ayah biologis Lani.
Dunia Lani seakan berhenti.
Ia memandang Raka yang berdiri tidak jauh dari mereka.
“Ayah tahu?”
Raka mengangguk pelan.
Lani tidak tahu harus menangis atau marah.
Namun Raka mendekatinya.
“Ko tetap anak Ayah, Lani.”
Hanya kalimat sederhana itu yang membuat air mata Lani akhirnya jatuh.
Hubungan darah mungkin menentukan dari mana seseorang berasal, tetapi bertahun-tahun kasih sayang menentukan siapa yang benar-benar tinggal ketika dunia menjadi sulit.
Kebenaran berikutnya ditemukan di tempat Bakar Batu.
Salah satu batu tampak berbeda dari batu lainnya. Ketika Markus dan beberapa warga mengangkatnya, mereka menemukan sepotong kain tua yang membungkus sebuah kotak kayu.
Yoram yang melihat kotak tersebut langsung pucat.
Daniel pun terdiam.
Lani membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat surat, foto, dokumen kampung, dan catatan kakeknya.
Semua yang ditulis di dalamnya menunjukkan hubungan Daniel dan Yoram serta rencana mereka untuk mendapatkan pengaruh di kampung.
Daniel akhirnya tidak bisa lagi berpura-pura.
“Kasih saya kotak itu,” katanya.
Markus berdiri di depannya.
“Untuk apa?”
Daniel diam.
Lani memandangnya.
“Jadi ko datang ke sini cuma untuk cari ini?”
Daniel tidak menjawab.
Jawabannya sudah terlihat dari wajahnya.
Markus kemudian berkata pelan, “Dua belas tahun lalu, kami kehilangan satu keluarga karena kebohongan. Jangan sampai hari ini Harfat kehilangan lebih banyak lagi.”
Tidak ada yang membantah.
Hari yang seharusnya menjadi perayaan berubah menjadi hari ketika seluruh Harfat mengetahui rahasia yang selama dua belas tahun terkubur bersama asap kebakaran.
Setelah semuanya terbongkar, tempat Bakar Batu menjadi sunyi. Tidak ada sorak warga. Tidak ada tawa anak-anak. Hanya suara kayu yang terbakar perlahan dan asap yang bergerak mengikuti angin.
Lani memandang Markus, orang yang selama ini hidup dengan kesalahan yang bukan miliknya. Ia memandang Maya yang tidak pernah benar-benar terbebas dari rasa bersalah. Ia juga memandang Raka yang tetap berada di sisinya meskipun kenyataan tentang keluarganya telah berubah.
Kemudian matanya jatuh pada makanan yang telah dipersiapkan sejak pagi.
Bakar Batu itu belum selesai.
Lani mengambil salah satu makanan dan membawanya kepada Markus.
“Ini, Om.”
Markus menatap makanan itu sebelum menerimanya.
“Terima kasih, Lani.”
Setelah itu, Maya perlahan mendekati kakaknya.
“Markus…”
Tidak ada kata-kata panjang.
Hanya permintaan maaf yang telah tertahan selama dua belas tahun.
Maya kemudian memeluk kakaknya.
Markus awalnya diam, tetapi akhirnya membalas pelukan tersebut.
Raka berdiri di samping mereka dan menepuk bahu Markus.
“Sudah, saudaraku. Yang penting sekarang torang ada di sini.”
Perlahan, warga mulai duduk bersama.
Makanan Bakar Batu dibagikan kepada semua orang. Tidak ada lagi pihak yang benar-benar ingin menang. Tidak ada lagi yang ingin mencari siapa yang harus disalahkan.
Mereka hanya ingin makan bersama.
Untuk pertama kalinya, Lani memahami bahwa Bakar Batu bukan hanya tentang batu panas dan makanan. Ada sesuatu yang lebih besar di dalamnya. Ketika orang-orang berkumpul, mereka memiliki kesempatan untuk berbicara. Ketika makanan dibagikan, mereka mengingat bahwa tidak seorang pun benar-benar hidup sendirian.
Masalah yang selama bertahun-tahun disimpan sendiri akhirnya diletakkan di tengah-tengah mereka.
Dan untuk pertama kalinya, mereka berani menghadapinya bersama.
Asap perlahan naik ke langit.
Lani teringat pada kebakaran dua belas tahun lalu. Dahulu, asap yang sama menjadi awal dari perpisahan. Kini, asap tersebut menjadi saksi bahwa orang-orang yang pernah terluka sedang mencoba menemukan jalan pulang.
Ia tersenyum kecil.
Namun ketika hendak meninggalkan tempat itu, matanya menangkap sesuatu pada bagian bawah kotak kayu peninggalan kakeknya.
Ada ukiran kecil yang sebelumnya tertutup debu.
Lani mengusap permukaannya dengan jari.
Sebuah nama terukir di sana.
Bukan Markus.
Bukan Maya.
Bukan Yoram.
Bukan pula Daniel.
Lani mengangkat kepalanya perlahan.
Orang yang namanya terukir pada kotak itu masih duduk di antara mereka, menikmati makanan Bakar Batu seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Tatapan mereka bertemu.
Senyum orang itu perlahan menghilang.
Lani menggenggam kotak tua itu lebih erat.
Asap Bakar Batu terus membumbung ke langit, semakin tipis sebelum akhirnya menyatu dengan awan.
Hari itu, sebuah rahasia telah terbongkar.
Tetapi Lani tahu, Harfat masih menyimpan rahasia lainnya.
Dan mungkin, asap terakhir yang ia lihat hari itu bukanlah akhir dari cerita.
Melainkan tanda bahwa cerita yang sebenarnya baru saja dimulai. (Red)






