CERPEN, biem.co – Langit malam pun turun, bintang-bintang bersinar terang di bawah bulan sabit yang cemerlang. Satu per satu, orang-orang di Desa Sidatapa mulai menutupi pintu dan lampu mereka. Ayam-ayam pun kembali kepada kandang masing-masing. Desa tampak tenang dengan kicauan burung bergema di kejauhan, angin berdesir lewat diikuti oleh dedaunan semanggi.
Lamine berbaring diatas tempat tidur, menatap dalam kegelapan. Entah mengapa, ia merasa seolah-olah aneh ada sesuatu yang menatapnya, kulitnya merinding.
Lamine mencoba mengabaikan rasa takutnya dengan menutup mata. Dia menoleh ke samping dan melihat Yujin sedang tertidur lelap.
Kreeekkk….kreeekkk….
Suara roda berderit diluar. Lamine membangunkan Yujin yang sedang tidur di sebelahnya.
“Yujin, cingakin ditu!” berbisik Lamine.
Yujin dengan suara ngantuk bertanya, “Boyake punika abang tukang bakso?”
Yujin melompat dari kasurnya, keringat dan air mata menetes di wajahnya.
Lamine dan Yujin memutuskan untuk mengikutinya.
Mereka terus-menerus mengikutinya selama setengah jam sebelum abang tukang bakso berhenti di depan goa yang tampak meriah di tengah malam Nyepi.
Tiba-tiba… abang tukang bakso muncul di hadapan mereka.
Keheningan memenuhi goa.
“Haha, ketahuan kalian.” abang tukang bakso tertawa. “Goa ini hanya muncul saat Nyepi, siapapun yang masuk karena rasa penasaran TIDAK akan keluar sebagai orang yang sama lagi.” Kalimat itu adalah kalimat yang paling terakhir abang tukang bakso mengatakan sebelum ia menghilang ke dalam kegelapan.
Kata-kata orang di desa Sidatapa, malam Nyepi adalah malam yang paling terakhir mereka melihat Lamine dan Yujin. Pertanyaannya, ke mana mereka pergi? Itu adalah pertanyaan yang sebaiknya tidak dijawab. (Red)






