Eko SupriatnoKolomTerkini

Diktator dan Politik Orang Bodoh

Oleh: Bung Eko Supriatno, Dosen dan Penulis.

KOLOM, biem.co – Konon, di sebuah negeri yang jauh di balik tujuh bukit, berdirilah sebuah kerajaan yang tanahnya subur, sungainya panjang, dan rakyatnya dikenal rajin bekerja. Istana kerajaan berdiri di atas bukit, dengan menara-menara tinggi dan dinding batu yang jika terkena matahari sore tampak keemasan. Dari halaman istana, sang Raja dapat melihat pasar yang mulai ramai sejak pagi, sawah-sawah yang membentang di kaki bukit, jalan besar yang menghubungkan kota dengan desa, serta rumah-rumah kecil yang atapnya kadang masih mengepulkan asap dapur. Dahulu ia sering turun dari balkon hanya untuk melihat kesibukan itu. Lama-kelamaan ia lebih sering melihatnya dari kejauhan. Dari tempat setinggi itu, sawah tampak seperti petak-petak hijau, rumah seperti titik-titik kecil, dan manusia tidak lebih besar daripada gerakan semut. Barangkali karena itulah, tanpa disadari, kehidupan rakyat mulai terasa jauh dari meja tempat Raja menerima laporan.

Pada tahun-tahun pertama pemerintahannya, sang Raja masih senang mendengar nasihat. Jika seorang penasihat berkata, “Paduka, keputusan ini keliru,” ia tidak langsung marah. Ia akan bertanya, “Mengapa?” Jika seorang utusan datang membawa kabar buruk dari desa, ia meminta agar kabar itu diperiksa. Pernah suatu ketika ia berkata kepada para menterinya bahwa seorang pemimpin seharusnya memiliki telinga yang lebih panjang daripada lidahnya. Para pejabat mengangguk dengan wajah sungguh-sungguh. Mereka menyimpan kalimat itu sebagai nasihat yang baik, meskipun belum memahami bahwa nasihat biasanya hanya menyenangkan selama tidak mengganggu kenyamanan orang yang sedang berkuasa.

Tahun-tahun berlalu. Raja semakin lama duduk di singgasana dan para pejabat semakin lama pula berada di sekelilingnya. Mereka mulai hafal kebiasaan Raja: kapan ia suka bercanda, kapan ia tidak ingin diganggu, kapan ia sedang senang, dan terutama kapan sebuah pertanyaan sebaiknya tidak dilanjutkan. Mereka belajar membaca wajah Raja sebelum membaca laporan negeri. Ketika Raja tersenyum, mereka ikut tersenyum. Ketika Raja mengerutkan dahi, beberapa orang segera memasang wajah prihatin. Jika Raja mengatakan sesuatu yang sebenarnya biasa saja, selalu ada yang menemukan makna besar di dalamnya. Bahkan ketika suatu pagi Raja bersin tiga kali karena udara dingin, seorang pejabat mengatakan bahwa itu pertanda Paduka sedang memikirkan keselamatan kerajaan. Raja tertawa. Para pejabat ikut tertawa. Tidak seorang pun merasa telah melakukan sesuatu yang aneh.

Menteri Bodoh

Di antara para penasihat istana terdapat seorang menteri tua bernama Ki Waskita. Ia tidak pandai mencari muka. Pakaiannya selalu sederhana, bahkan ketika para pejabat lain mulai berlomba mengenakan pakaian yang semakin mahal. Ia juga tidak pernah menjadi orang pertama yang bertepuk tangan ketika Raja berbicara. Kebiasaannya lebih merepotkan: ia membaca laporan sampai selesai, memeriksa angka sebelum mempercayainya, dan bertanya kepada orang yang mengalami sendiri suatu persoalan. Karena itu, meskipun tidak banyak yang menyukainya, hampir semua orang tahu bahwa jika Ki Waskita sudah berbicara, biasanya ia mempunyai alasan.

Suatu pagi, Raja mengumumkan rencana pembangunan sebuah jembatan emas di atas sungai besar. Ruangan sidang langsung dipenuhi tepuk tangan. Seorang pejabat mengatakan jembatan itu akan menjadi kebanggaan kerajaan. Yang lain berkata kerajaan tetangga pasti iri. Ada pula yang mengatakan belum pernah ada gagasan sehebat itu. Ki Waskita tidak ikut berdiri. Ia membuka peta yang dibawanya, mencocokkan beberapa angka, kemudian berkata pelan, “Paduka, jembatan itu memang akan tampak megah. Tetapi sungai di sana tidak terlalu membutuhkan jembatan. Desa-desa di sebelah timur justru tidak memiliki jalan yang layak.”

Tepuk tangan berhenti. Raja menatapnya dari singgasana. “Jadi menurutmu aku salah?”

“Saya tidak mengatakan begitu, Paduka. Saya hanya menyampaikan keadaan yang saya lihat.”

“Dan menurutmu para menteri lain tidak melihatnya?”

Ki Waskita mengangkat wajah. “Mungkin mereka melihat, Paduka. Hanya saja tidak semuanya berani mengatakan.”

Tidak ada yang tertawa kali ini. Raja menyandarkan tubuhnya ke kursi. Rapat kemudian dilanjutkan dengan pembicaraan lain, tetapi sejak saat itu Ki Waskita mulai jarang diminta pendapat. Tidak ada surat pemecatan dan tidak ada tuduhan bahwa ia melakukan kesalahan. Kursinya tetap berada di ruang sidang, hanya saja semakin jauh dari singgasana. Kalau dahulu pendapatnya ditunggu, kemudian cukup didengar, lama-kelamaan namanya bahkan jarang disebut. Di istana, seseorang tidak selalu perlu diperintah pergi untuk mengetahui bahwa tempatnya sudah tidak diinginkan. Kadang cukup dengan tidak lagi dipanggil.

Pada masa yang sama muncul seorang pejabat muda bernama Ki Puja. Ia tidak dikenal sebagai orang yang gemar membaca laporan atau menghabiskan waktu di desa. Namun ia mempunyai kelebihan yang segera membuatnya disukai Raja: ia tahu kapan harus berbicara dan kalimat apa yang membuat suasana ruangan kembali nyaman. Ketika kerajaan kekurangan pangan, ia mengatakan bahwa rakyat sedang belajar hidup sederhana. Ketika kas kerajaan menipis, ia mengatakan kerajaan sedang berhemat. Ketika rakyat mengeluh, ia mengatakan hanya sebagian kecil orang yang belum memahami kebesaran pemimpin. Bahkan ketika sebuah proyek gagal dan bangunannya mangkrak di tengah jalan, Ki Puja mengatakan proyek itu sebenarnya berhasil, hanya saja keberhasilannya belum selesai.

Suatu hari Raja tertawa mendengar penjelasan itu. “Lihat, inilah orang pintar.”

Ki Puja menunduk. “Paduka terlalu rendah hati.”

Raja kembali tertawa dan para pejabat lain segera menyusul. Sejak saat itu mereka mulai memahami sesuatu yang tidak pernah tertulis dalam aturan kerajaan. Kepandaian di istana bukan lagi soal seberapa jauh seseorang mengetahui keadaan, melainkan seberapa pandai ia membuat penguasa merasa keadaan baik-baik saja. Berita buruk mulai diperiksa bukan untuk dicari jalan keluarnya, melainkan untuk dicari cara penyampaiannya. Angka yang tidak menyenangkan diberi penjelasan panjang. Keluhan rakyat diperkecil. Kegagalan diberi nama baru. Di luar istana, orang menyebut jalan berlubang sebagai jalan yang sedang diperbaiki. Di dalam istana, jalan itu disebut bagian dari proses pembangunan.

Lama-lama para pejabat lebih sibuk memperbaiki kalimat daripada memperbaiki keadaan. Mereka tahu bahwa sebuah laporan yang buruk bisa membuat Raja murung, sementara laporan yang baik bisa membuat suasana makan malam lebih menyenangkan. Tidak ada yang memerintahkan mereka berbohong. Mereka hanya belajar dari apa yang terjadi kepada Ki Waskita.

Cermin Raja

Suatu sore, ketika halaman istana sedang sepi, seorang anak kecil datang dari desa yang cukup jauh. Bajunya sederhana dan kakinya penuh debu. Di tangannya ada sebuah cermin tua yang dibungkus kain. Ia meminta bertemu Raja. Penjaga gerbang mula-mula tertawa karena merasa permintaan itu tidak masuk akal. Namun anak itu tetap berdiri di sana.

“Apa yang kau bawa?”

“Hadiah untuk Raja.”

“Apa?”

“Cermin.”

Penjaga akhirnya membawa kabar itu kepada orang dalam istana. Entah karena penasaran atau sekadar ingin melihat kelucuan, anak itu kemudian dibawa menghadap Raja. Raja memandang cermin yang dibungkus kain tersebut.

“Untuk apa kau membawa benda itu kepadaku?”

Anak itu menjawab polos, “Supaya Paduka bisa melihat seseorang yang tidak takut mengatakan kalau ada sesuatu yang salah.”

Ruangan mendadak terasa lebih dingin. Beberapa pejabat saling melirik. Raja mengambil cermin tersebut, membuka kainnya perlahan, lalu melihat wajahnya sendiri. Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara. Anak itu berdiri di hadapannya. Para pejabat menunggu. Raja pun hanya melihat bayangannya di kaca tua yang permukaannya sudah sedikit buram.

Ki Puja kemudian maju beberapa langkah. “Paduka tidak perlu melihat cermin itu terlalu lama.”

Raja menoleh. “Mengapa?”

“Karena seluruh kerajaan sudah mengatakan bahwa Paduka sempurna.”

Raja tersenyum. Cermin itu diletakkan kembali di atas meja. Anak kecil tersebut dipulangkan ke desanya dan tidak pernah datang lagi ke istana. Cermin itu sendiri tetap tinggal di sana, tergeletak di sebuah sudut ruangan yang jarang digunakan. Beberapa waktu kemudian, orang-orang istana mulai melupakannya.

Raja rupanya tidak terlalu membutuhkan benda itu. Ia sudah memiliki banyak orang yang setiap hari memantulkan wajah yang ingin dilihatnya. Jika ia marah, mereka menyebutnya tegas. Jika ia berubah pikiran, mereka menyebutnya bijaksana. Jika sebuah keputusan keliru, mereka mengatakan Raja sedang menguji bawahannya. Jika rakyat mempertanyakan kebijakan, mereka mengatakan rakyat belum memahami maksud baik pemerintah. Lama-kelamaan, bukan hanya Raja yang terbiasa dengan keadaan itu. Para pejabat pun mulai mempercayai kata-kata mereka sendiri.

Suatu kebohongan yang baru diucapkan biasanya masih membuat orang merasa tidak enak. Tetapi kebohongan yang diulang setiap pagi dalam ruang rapat, ditulis dalam laporan, dibacakan dalam pertemuan, lalu disampaikan kembali kepada masyarakat, perlahan kehilangan rasa asingnya. Ia mulai terdengar seperti kenyataan. Orang-orang kemudian tidak lagi bertanya apakah sesuatu benar atau salah. Mereka hanya bertanya apakah istana sudah mengatakannya.

Raja sendiri semakin jarang melihat wajahnya tanpa perantara. Ia lebih sering melihat wajah yang dibuat untuk menyenangkan singgasana daripada wajah yang sesungguhnya.

Kerajaan Retak

Tahun berganti. Istana semakin megah. Beberapa bagian halaman diperluas, ruang pertemuan diperindah, dan para pejabat semakin sering membicarakan pembangunan. Namun di luar tembok, keadaan bergerak dengan caranya sendiri. Jalan menuju desa-desa mulai rusak. Beberapa lumbung tidak lagi penuh ketika musim panen tiba. Pedagang mengeluh karena barang semakin mahal. Petani mulai berhitung lebih lama sebelum membawa hasil sawah ke pasar. Di warung-warung kecil, orang membicarakan keadaan negeri sambil menyeruput teh panas dan menunggu hujan reda.

Laporan yang sampai ke meja Raja tetap baik. “Keadaan aman, Paduka.” “Rakyat puas.” “Perekonomian tumbuh.” “Tidak ada persoalan berarti.” Raja membacanya sambil makan pagi. Sesekali ia mengangguk. Ia tidak punya alasan untuk meragukannya karena semua menteri mengatakan hal yang sama.

Di luar istana, rakyat mempunyai cerita yang berbeda. Mereka berbicara di pasar, di sawah, di warung, di serambi rumah, dan di jalan-jalan kecil yang tidak pernah tercatat dalam laporan resmi. Mereka tahu harga beras, tahu jalan mana yang rusak, tahu lumbung mana yang kosong, dan tahu pejabat mana yang paling rajin meminta rakyat bersabar. Mereka juga melihat bahwa beberapa pejabat yang meminta rakyat berhemat justru mengganti kuda lebih sering dan memperluas rumah. Hal-hal semacam itu tidak selalu membuat orang marah. Kadang orang hanya tertawa kecil. Tetapi tawa yang demikian biasanya tidak sampai ke istana.

Pada suatu malam hujan turun sangat deras. Air mengalir dari bukit menuju halaman istana. Dinding utara yang sudah tua mulai menyerap air. Para penjaga sebenarnya sudah melihat retakan itu beberapa minggu sebelumnya. Mereka pernah menyampaikannya kepada atasan. Atasan menyampaikannya kepada pejabat lain. Pejabat lain kemudian menulis laporan bahwa dinding membutuhkan sedikit perbaikan. Sampai kepada Raja, kalimat itu berubah lagi menjadi: keadaan masih aman.

Malam ketiga, sebagian tembok utara roboh.

Suara batu jatuh terdengar sampai ke kamar Raja. Para penjaga berlari, para pelayan keluar membawa lampu, dan beberapa pejabat datang tergesa-gesa dengan pakaian yang belum sempat dirapikan. Raja berdiri di depan pintu dan memandangi bagian tembok yang kini terbuka.

“Bukankah kalian mengatakan tembok ini kuat?”

Tidak seorang pun menjawab. Para pejabat yang biasanya cepat berbicara tiba-tiba sibuk melihat lantai. Raja memandang mereka satu per satu.

“Mana Ki Waskita?”

Seorang penjaga tua yang berdiri di belakang menjawab, “Sudah lama pergi, Paduka.”

“Ke mana?”

“Tidak ada yang tahu.”

Malam itu Raja masuk ke sebuah ruangan lama yang sudah jarang dipakai. Di sana ia menemukan beberapa dokumen dan sebuah surat dengan tulisan tangan yang dikenalnya. Surat Ki Waskita. Kertasnya telah menguning, tetapi tulisannya masih jelas:

“Paduka tidak membutuhkan lebih banyak orang yang mengatakan bahwa Paduka benar. Paduka membutuhkan seseorang yang cukup berani mengatakan ketika Paduka salah.”

Raja membacanya dua kali. Setelah itu ia duduk di dekat jendela. Dari tempat itu, suara rakyat terdengar lebih jelas daripada biasanya karena sebagian tembok sudah tidak ada. Seorang ibu memanggil anaknya. Pedagang berusaha menyelamatkan barang dari air. Beberapa orang mengeluh karena rumah mereka kemasukan air. Seorang lelaki tua berdiri di bawah hujan sambil memandangi istana dari kejauhan.

Raja memanggil seorang pelayan.

“Apakah mereka marah kepadaku?”

Pelayan itu menunduk. Ia tahu bahwa ada jawaban yang aman dan ada jawaban yang mungkin benar.

“Para menteri mengatakan rakyat baik-baik saja, Paduka.”

Raja menatapnya.

“Aku tidak bertanya kepada para menteri.”

Pelayan itu diam cukup lama. Kemudian ia berkata, “Kalau begitu, saya tidak tahu bagaimana harus menjawabnya, Paduka.”

Raja tidak marah. Ia hanya mengangguk dan kembali memandang ke luar jendela. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada orang yang buru-buru mengisi kesunyian dengan jawaban yang menyenangkan.

Kerajaan itu tidak langsung runtuh setelah tembok roboh. Pasar tetap buka pada pagi hari. Petani tetap pergi ke sawah. Para pedagang tetap mengangkut barang. Orang-orang masih bekerja karena kehidupan tidak berhenti hanya karena istana sedang mempunyai masalah. Namun sesuatu yang lebih sulit diperbaiki mulai terasa: orang-orang tidak lagi terlalu percaya kepada suara yang datang dari dalam istana.

Beberapa hari kemudian, Ki Puja datang membawa laporan seperti biasa.

“Paduka, keadaan sudah terkendali.”

Raja meletakkan kertas yang sedang dibacanya.

“Apakah kau melihat desa di sebelah timur?”

“Belum, Paduka.”

“Apakah kau berbicara dengan rakyat di sana?”

Ki Puja terdiam sebentar. “Belum.”

“Lalu dari mana kau tahu keadaan sudah terkendali?”

“Dari laporan para pejabat.”

Raja menatapnya. “Dan para pejabat itu?”

“Mereka juga menerima laporan, Paduka.”

Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara. Dari luar ruangan terdengar suara orang sedang memindahkan batu-batu bekas tembok yang roboh.

Raja akhirnya berkata, “Jadi kau mengetahui keadaan baik dari orang yang mengetahui keadaan baik dari orang lain?”

Ki Puja tidak menjawab.

“Pulanglah.”

Ki Puja menunduk dan keluar. Ia tidak tahu apakah Raja menyuruhnya pulang untuk beristirahat atau meninggalkan istana. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak memiliki kalimat yang tepat untuk menjawab.

Sejak itu Raja mulai lebih sering berjalan sendiri pada sore hari. Ia tidak lagi selalu ditemani menteri. Kadang ia berhenti di dekat tembok yang roboh dan melihat jalan menuju desa. Kadang ia duduk di beranda sambil mendengarkan suara pasar. Dari kejauhan terdengar pedagang menawarkan dagangan, anak-anak berlari, dan suara gerobak melewati jalan berbatu. Suara-suara itu sebenarnya sudah ada bertahun-tahun, hanya saja selama ini tertutup oleh pintu-pintu besar dan laporan yang tersusun rapi di atas meja.

Suatu sore ia kembali menemukan cermin tua yang dahulu dibawa anak kecil dari desa. Debunya sudah tebal. Raja mengambil kain dan membersihkannya perlahan. Wajahnya muncul di kaca. Tidak ada Ki Puja, tidak ada menteri yang menunggu, dan tidak ada tepuk tangan seperti yang biasa ia dengar. Hanya wajah seorang lelaki yang rambutnya mulai memutih.

Ia memanggil seorang pelayan.

“Menurutmu, apakah aku masih terlihat seperti seorang raja?”

Pelayan itu terdiam cukup lama sebelum menjawab, “Paduka masih Raja.”

Raja tersenyum tipis.

“Itu bukan yang kutanyakan.”

Pelayan itu menunduk. Kali ini Raja tidak meminta jawaban lain.

Di luar, matahari turun perlahan di balik bukit. Pasar mulai sepi. Orang-orang membawa barang pulang ke rumah. Beberapa lampu mulai menyala di rumah-rumah kecil di kaki bukit. Raja tetap duduk di sana dengan cermin di tangannya.

Keesokan harinya ia mulai bertanya kepada orang-orang yang selama ini jarang diperhatikannya. Kepada penjaga gerbang ia bertanya tentang jalan menuju desa. Kepada pelayan dapur ia bertanya tentang harga beras di pasar. Kepada kusir ia bertanya apakah jalan sebelah timur masih bisa dilewati kereta. Pertanyaan-pertanyaan itu sederhana. Tetapi beberapa orang justru terlihat lebih gugup menjawabnya daripada ketika berhadapan dengan para menteri.

Kerajaan masih berdiri. Mahkota masih ada. Singgasana belum runtuh. Hanya saja, di dalam istana, Raja mulai mendengar suara-suara yang selama ini tidak pernah masuk ke ruang sidang. Ia mendengar bahwa jalan yang disebut sedang diperbaiki ternyata belum selesai. Ia mendengar bahwa beberapa lumbung memang kosong. Ia mendengar bahwa orang-orang di pasar tidak selalu percaya kepada pengumuman istana.

Ia tidak segera menemukan jawaban untuk semuanya. Barangkali memang tidak ada jawaban yang bisa selesai dalam satu malam.

Orang-orang di desa kemudian mempunyai kebiasaan baru. Jika membicarakan istana, mereka tidak lagi banyak berkata. Kadang mereka hanya saling pandang. Kadang seorang tua berkata sambil mengaduk kopi, “Jangan takut kepada orang yang berkata tidak. Bisa jadi dia justru sedang menjaga rumahmu agar tidak roboh.”

Kalimat itu berpindah dari warung ke warung, dari pasar ke sawah, tanpa pernah tercatat dalam laporan kerajaan.

Sementara itu, orang-orang yang dahulu paling rajin memuji mulai kehilangan tempatnya satu demi satu. Istana akhirnya harus mengurus kembali hal-hal yang selama ini hanya muncul sebagai angka dalam laporan: tembok yang harus diperbaiki, jalan yang rusak, lumbung yang perlu diisi, dan orang-orang yang selama ini hanya disebut sebagai “rakyat”. Tidak banyak yang berubah dalam satu hari. Tetapi setidaknya, untuk pertama kalinya, beberapa laporan mulai dikembalikan karena Raja bertanya, “Siapa yang melihat langsung keadaan itu?”

Kerajaan itu tetap bertahan. Tetapi sejak malam tembok utara roboh, orang-orang di istana tidak lagi berani mengatakan bahwa tidak ada retakan di dinding.

Dan jauh di dalam dirinya, sang Raja barangkali sudah memahami sesuatu yang dulu tidak pernah ia tanyakan:

yang berbahaya bukan orang yang berani mengatakan bahwa seorang raja salah.

Yang lebih berbahaya adalah ketika orang-orang di sekelilingnya sudah tidak tahu lagi bagaimana mengatakan yang benar. (Red)

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button