Kepala Daerah

Program Kolase Diluncurkan, 125 Sekolah di Cilegon Jadi Agen Pengelolaan Sampah

CILEGON, biem.co — Program Kolaborasi Kelola Sampah Ekonomi Sirkular (Kolase) Batch 3 dan 4 resmi diluncurkan di Kota Cilegon. Program hasil kolaborasi PT Chandra Asri Pacific bersama Pemerintah Kota Cilegon melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindik) tersebut melibatkan 125 sekolah sebagai bagian dari upaya membangun budaya pengelolaan sampah sejak lingkungan pendidikan.

Direktur Legal and External Affairs PT Chandra Asri Pacific, Edi Riva’i, mengatakan program Kolase merupakan bagian dari upaya mendorong sekolah menjadi agen perubahan dalam pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular. Ia mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Cilegon yang sejak awal turut mendorong pengembangan program tersebut.

“Bagaimana sekolah menjadi agent pengelolaan sampah. Pemerintah kota sebagai inisiator sekaligus pemegang kebijakan memberikan perhatian dan dukungan terhadap program ini,” kata Edi, Kamis (24/9/2026).

Edi menyebut sekolah-sekolah di Cilegon diharapkan dapat menjadi contoh penerapan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular yang dapat direplikasi di daerah lain.

“Semoga Cilegon bisa menjadi pelopor bagi sekolah-sekolah lain. Yang terpenting bukan sekadar berapa jumlah sekolah yang mengikuti program, tetapi bagaimana terjadi perubahan perilaku dan muncul tanggung jawab terhadap sampah yang kita hasilkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, apabila program berjalan optimal, dampaknya dapat dirasakan hingga sekitar 240 ribu orang. Selain mengurangi beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), sampah yang dikelola juga dapat memiliki nilai ekonomi.

Dari sisi hilir, lanjut Edi, PT Chandra Asri Pacific juga terus membangun kolaborasi dengan berbagai mitra, termasuk Danantara, dalam mendukung ekosistem ekonomi sirkular.

Sementara itu, Direktur Yayasan Bakti Barito, Anis Purbasari, mengatakan lembaga filantropi yang didirikan oleh Prayogo Pangestu tersebut terus berkontribusi pada sektor pendidikan dan lingkungan, khususnya terkait perubahan iklim, ekonomi sirkular, dan konservasi.

Sejak 2022, Yayasan Bakti Barito telah menjangkau hampir 200 sekolah dengan pengelolaan sekitar 35,3 ton sampah.

“Kami berharap dapat terus mendampingi dan memberikan dampak langsung kepada 125 sekolah yang menjadi bagian dari program ini,” ujar Anis.

Menurutnya, pengelolaan sampah bukan sekadar kegiatan lingkungan, tetapi juga bagian dari pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda.

Ia turut mengapresiasi Pemerintah Kota Cilegon yang mendorong Kolase sebagai salah satu langkah nyata dalam membangun budaya pengelolaan sampah.

Robinsar: Sampah Harus Diselesaikan dari Hulu hingga Hilir

Wali Kota Cilegon Robinsar mengatakan persoalan sampah merupakan tantangan yang dihadapi banyak daerah, tidak hanya Kota Cilegon.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengangkut sampah ke TPA. Perubahan harus dimulai dari pola pikir dan perilaku masyarakat sejak dari sumbernya.

“Sampah menjadi persoalan bukan hanya di Cilegon. Karena terlalu nyaman, kita tidak terlalu fokus membenahinya. Akhirnya sampah menggunung dan menjadi penyakit. Ini harus betul-betul diselesaikan dari hulu sampai hilir,” kata Robinsar.

Ia menegaskan, program Kolase tidak hanya diarahkan untuk mengurangi volume sampah, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi para siswa.

“Program ini bukan hanya untuk menghilangkan sampah, tetapi menjadi sarana edukasi dan pembelajaran agar generasi ke depan tidak sembarangan membuang sampah dan memahami bagaimana mengelolanya,” ujarnya.

Robinsar meminta kepala sekolah dan guru ikut menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan kepada para siswa.

Ia juga mengajak seluruh pihak, termasuk dunia industri di Kota Cilegon, untuk bersama-sama memperkuat upaya pengelolaan sampah.

Dalam kesempatan tersebut, Robinsar mengungkapkan bahwa pada 2028 direncanakan akan dilakukan groundbreaking pembangkit listrik di wilayah Serang Raya dengan memanfaatkan sampah. Kota Cilegon diproyeksikan mendapatkan kuota pengolahan sekitar 300 ton sampah per hari.

Sementara itu, produksi sampah rumah tangga di Kota Cilegon diperkirakan mencapai sekitar 450 ton per hari.

“Bagaimana ke depan sampah ini betul-betul bisa diolah. Output utamanya adalah bagaimana kita mengubah paradigma, mengubah habit, sama-sama menjaga lingkungan sehingga sampah bisa berkurang,” kata Robinsar.

Ia menambahkan, dengan pengelolaan yang semakin terintegrasi, potensi pengolahan sampah dalam skala besar dapat dikembangkan untuk mengurangi beban lingkungan.

Robinsar berharap dukungan dari dunia industri semakin maksimal sehingga Kota Cilegon dapat menjadi kota yang lebih bersih sekaligus mampu membangun ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

“Terima kasih banyak kepada Chandra Asri, Yayasan Bakti Barito, teman-teman penggiat sampah, serta seluruh pihak yang terus mendukung upaya ini,” tuturnya.

Peluncuran Kolase Batch 3 dan 4 sekaligus menjadi langkah lanjutan untuk memperkuat kolaborasi pemerintah, dunia industri, lembaga filantropi, sekolah, dan masyarakat dalam membangun budaya pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular di Kota Cilegon. (Arief)

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button