InspirasiOpiniTerkini

Menyalakan Kembali Lentera Syaikh Nawawi: Panggilan Jiwa Santri Banten Menyongsong Indonesia Emas

Oleh: Dr. RM. Imam Abdillah, MA., Akademisi dan Pegiat Literasi Banten

INSPIRASI, biem.co – Angin pagi berembus lembut melintasi hamparan sawah dan perbukitan di tanah Banten, membawa serta aroma khas kitab kuning yang menguar dari ribuan surau dan pesantren. Suasana ini seolah menjadi pengingat abadi bahwa daerah ini tidak sekadar tanah biasa, melainkan bumi subur yang melahirkan salah satu raksasa intelektual dunia Islam: Syaikh Nawawi al-Bantani. Namun, di balik gemuruh zikir dan derap langkah santri yang memenuhi sudut-sudut kampung, terbersit sebuah kontradiksi ironis yang mengoyak nurani. Di tanah kelahiran sang Sayyidul Ulama al-Hijaz ini, gaung keteladanan beliau justru sering kali berhenti sebagai slogan seremonial belaka, tenggelam di antara rutinitas birokrasi dan hilangnya arah orientasi kebudayaan masyarakat.

Kegelisahan ini kian memuncak tatkala kita menatap lanskap sosial-intelektual generasi muda Banten saat ini, yang terjebak dalam krisis moralitas akut dan jurang disorientasi literasi. Ruang-ruang publik digital kita lebih akrab dengan hingar-bingar tren instan ketimbang pergulatan pemikiran mendalam yang diwariskan oleh para pendahulu. Ada sebuah gap intelektualitas yang menganga lebar; para pelajar dan santri masa kini begitu fasih memperdebatkan hal-hal superfisial di media sosial, namun asing dengan lembaran-lembaran mahakarya Marah Labid atau Tafsir Munir. Lemahnya budaya literasi berbasis akar sejarah ketokohan lokal membuat identitas ke-Banten-an tercerabut dari akarnya, menyisakan generasi yang kehilangan kompas moral di tengah gempuran zaman modern yang serba cepat.

Ironisnya, minimnya partisipasi publik dan absennya keberpihakan strategis dari para pengambil kebijakan membuat ruang-ruang kultural ini semakin kering. Hingga detik ini, sejauh apa pemerintah daerah serius menjadikan keulamaan Syaikh Nawawi sebagai poros peradaban, bukan sekadar komoditas musiman setiap kali Hari Santri tiba? Kebijakan publik kerap kali terjebak dalam pragmatisme jangka pendek yang rabun sejarah, mengabaikan fakta bahwa merawat warisan intelektual global seorang ulama besar membutuhkan keberanian politik dan visi kebudayaan yang melampaui sekadar seremoni upacara dan pembagian santunan. Ketika anggaran digelontorkan tanpa cetak biru peradaban yang jelas, eksistensi ulama Banten yang mendunia sebatas direduksi menjadi pajangan sejarah yang kaku, tanpa daya hidup yang mampu menginspirasi denyut nadi pembangunan daerah.

Sampai kapan warisan agung seorang ulama yang pernah memegang tampuk kepemimpinan keilmuan di Masjidil Haram ini hanya akan menjadi dongeng pengantar tidur bagi anak-anak Banten? Bukankah sebuah ironi besar ketika dunia internasional mengkaji pemikiran Syaikh Nawawi dengan penuh takzim, sementara anak kandung geografisnya sendiri berjalan tertatih-tatih, meraba identitasnya di tengah lorong gelap kebodohan dan krisis keteladanan? Pertanyaan ini bukan sekadar gugatan emosional, melainkan sebuah tamparan keras bagi siapa pun yang, secara sadar atau tidak, membiarkan mata rantai emas peradaban Banten terputus di tangan generasi hari ini.

Namun, di tengah kelamnya potret apatisme birokrasi dan rapuhnya fondasi literasi tersebut, denyut kehidupan pesantren di Banten justru menunjukkan geliat yang di luar dugaan. Secara statistik, angka pertumbuhan santri melonjak secara masif, mengubah lanskap demografi lokal menjadi lautan kopiah dan kerudung putih yang memenuhi setiap jengkal jalanan pedesaan. Pesantren-pesantren tradisional maupun modern tumbuh bagai jamur di musim hujan, membuktikan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan pesantren tidak pernah luntur. Gelombang santri ini bukan sekadar angka-angka statistik di atas kertas laporan dinas, melainkan energi sosial yang masif dan siap meledak menjadi daya ubah yang luar biasa bagi masa depan daerah.

Lonjakan kuantitas ini menempatkan santri sebagai garda terdepan sekaligus variabel paling krusial bagi keberlangsungan pertumbuhan Sumber Daya Manusia (SDM) menuju Indonesia Emas 2045. Di pundak mereka, beban transformasi peradaban dititipkan, bukan hanya untuk mengisi ruang-ruang profesional modern, tetapi juga untuk menyelamatkan moral bangsa dari erosi hedonisme global. Santri hari ini bukan lagi entitas pinggiran yang gagap teknologi, melainkan aktor strategis yang memadukan kedalaman spiritualitas tasawuf dengan ketajaman analisis modern, siap merajut kembali kejayaan nusantara dari bilik-bilik sederhana pondok pesantren.

Lebih dari itu, rekam jejak historis membuktikan bahwa santri adalah basis utama pertahanan nasional yang tak pernah diragukan loyalitasnya terhadap keutuhan Republik Indonesia. Dari resolusi jihad hingga ketahanan kultural menghadapi radikalisme, santri terbukti menjadi benteng terakhir yang menjaga NKRI dari berbagai rongrongan ideologi transnasional. Mereka adalah aset strategis bangsa yang memiliki fleksibilitas moral sekaligus ketahanan ideologis, memposisikan diri sebagai penjaga gawang nilai-nilai kebangsaan yang berakar pada semangat religiusitas yang toleran dan berkemajuan.

Kombinasi antara warisan universal Syaikh Nawawi dan masifnya pertumbuhan santri di Banten seharusnya menjadi modal dasar yang tak ternilai harganya untuk melahirkan lompatan peradaban. Syaikh Nawawi telah membuktikan bahwa keterbatasan geografis di masa lampau bukanlah halangan bagi seorang anak Banten untuk menembus batas-batas geopolitik global, menjadi mahaguru dunia yang diakui otoritas keilmuannya oleh ulama-ulama Timur Tengah. Prestasi mendunia ini adalah sebuah DNA keunggulan yang mengalir dalam darah kultural masyarakat Banten, menunggu untuk dibangkitkan kembali melalui rekayasa sosial yang sistematis dan berani.

Sayangnya, potensi besar ini kerap kali terbentur oleh dinding tebal birokrasi yang mandul inovasi dan miskin imajinasi masa depan. Kebijakan-kebijakan daerah sering kali berhenti pada pencitraan permukaan, gagal menangkap esensi bahwa membangun manusia Banten berarti menghidupkan kembali roh perjuangan intelektual Syaikh Nawawi di setiap ruang kelas, kurikulum sekolah, dan program pembangunan daerah. Ketika anggaran daerah tersedot untuk hal-hal yang tidak berdampak langsung pada penguatan kapasitas intelektual santri, di situlah letak kegagalan sistemik yang harus kita gugat bersama dengan kepala tegak.

Kita tidak boleh lagi membiarkan momentum Hari Santri Nasional berlalu sebagai rutinitas kosong tanpa makna transformatif yang nyata bagi masyarakat Banten. Peringatan ini harus direbut kembali dari cengkeraman formalitas birokratik, diletakkan kembali pada rel aslinya sebagai momentum kebangkitan intelektual, moral, dan kultural kaum santri. Sudah saatnya pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat bahu-membahu merancang ekosistem pendidikan yang ramah literasi, berbasis riset, dan terhubung langsung dengan jaringan keilmuan global yang dirintis oleh sang maestro asal Tanara tersebut.

Transformasi ini menuntut adanya keberanian kolektif untuk memutus rantai ketergantungan pada pola-pola lama yang birokratis dan tidak visioner. Banten membutuhkan pemimpin-pemimpin kultural dan struktural yang memiliki grand design yang jelas: menjadikan daerah ini sebagai pusat studi Islam moderat berkelas internasional yang berbasis pada tradisi kepesantrenan lokal. Jika Syaikh Nawawi pada abad ke-19 mampu mengguncang dunia dari kursi mengajinya di Makkah, maka tidak ada alasan bagi generasi santri Banten abad ke-21 untuk tidak menaklukkan panggung global dengan pena, karya, dan integritas moral mereka.

Langkah awal dari kebangkitan ini harus dimulai dari pembenahan budaya literasi di akar rumput, menghidupkan kembali tradisi membaca, mengkaji, dan menulis di setiap pesantren dan lembaga pendidikan Islam. Perpustakaan-perpustakaan desa dan pesantren harus disulap menjadi pusat-pusat peradaban yang hidup, tempat di mana anak-anak muda Banten berkenalan dengan pemikiran besar para ulama Nusantara. Literasi bukan sekadar kemampuan mengeja huruf, melainkan kemampuan merajut kesadaran sejarah dan merumuskan solusi masa depan berdasarkan kearifan lokal yang universal.

Di sinilah pentingnya peran aktif kaum intelektual, para kiai, akademisi, dan masyarakat sipil untuk bersatu padu menjadi katalisator penggerak perubahan bagi generasi muda. Pemerintah Banten harus didorong—bukan sekadar diminta—untuk mengalokasikan sumber daya secara adil dan terarah guna membangun pusat-pusat keunggulan riset kepesantrenan dan penerbitan karya-karya ulama Banten. Keterlibatan publik dalam merumuskan kebijakan kebudayaan dan pendidikan keagamaan akan memastikan bahwa tidak ada lagi kebijakan yang lahir dari ruang hampa tanpa menyentuh kebutuhan riil di lapangan.

Bayangkan jika setiap santri di Banten dibekali tidak hanya dengan pemahaman agama yang mendalam, tetapi juga penguasaan sains, teknologi, dan literasi global yang dijiwai oleh spirit keteladanan Syaikh Nawawi al-Bantani. Bayangkan jika pesantren-pesantren di Banten bertransformasi menjadi inkubator inovasi sosial dan ekonomi yang mampu mengangkat harkat hidup masyarakat di sekitarnya. Bukankah itu adalah wujud paling nyata dari cita-cita kemerdekaan dan manifestasi konkret dari visi besar Indonesia Emas yang kita impikan bersama?

Ketika kita merenungkan kembali perjalanan panjang sejarah ini, sebuah pertanyaan filosofis mendasar layak kita ajukan ke dalam lubuk hati yang paling dalam: apa artinya kita berbangga diri terlahir di tanah sang ulama dunia, jika pada akhirnya kita sendiri yang membiarkan obor pemikirannya padam di tanah kelahirannya sendiri? Pertanyaan ini menuntut jawaban bukan dengan deretan retorika indah, melainkan melalui kerja-kerja kultural dan struktural yang nyata, konsisten, dan berkesinambungan dari hari ini hingga masa depan.

Mari kita jadikan Hari Santri Nasional 2026 ini sebagai titik balik kebangkitan peradaban di Banten, sebuah momentum di mana santri, masyarakat, dan pemerintah bersinergi merajut kembali kejayaan masa lalu untuk menyongsong masa depan yang gemilang. Syaikh Nawawi al-Bantani telah menorehkan tinta emasnya di panggung sejarah dunia, dan kini giliran tangan-tangan santri Banten hari ini yang harus melanjutkan menulis babak baru sejarah tersebut dengan keberanian, kecerdasan, dan keluhuran akhlak yang tak tergoyahkan oleh zaman. (Red)

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button