Boyke PribadiKolom

Boyke Pribadi, “Makan Lanting, Ting Bating”

SERANGbiem.co – Menjadi pemandu acara itu sangat beruntung, selain bisa bertemu banyak orang sukses juga pengalaman yang mereka miliki banyak memberikan inspirasi. Begitu juga dengan Boyke Pribadi, akademisi Untirta sekaligus Entrepreneur ini bersyukur bisa bertemu dengan pemilik bisnis keripik pedas Maicih, Reza Nurhilman ketika menjadi moderator pada sebuah seminar usaha.

Bermula dari obrolan peluang usaha makanan pedas yang sangat potensial, timbul keinginan untuk untuk membuat cemilan pedas, waktu itu keripik singkong pedas sedang booming.

“Kebetulan ketika saya menjadi host di televisi lokal, saya mewawancarai seorang pengrajin lanting tradisional satu-satunya di wilayah Serang. Seketika itu juga muncullah ide membuat lanting dengan rasa pedas,” tutur Boyke menceritakan awal dibukanya bisnis lanting.

Seperti beberapa usaha yang sudah dijalankannya, sebelum memulai bisnis ini, Boyke Pribadi melakukan Rapid Survey (Survai Cepat) untuk mengetahui apakah ada produk sejenis di daerahnya, berapa harganya serta seberapa banyak konsumen yang menyukainya.

“Sebagaimana bisnis lainnya, maka bisnis lanting ini pasti naik turun. Namun sampai saat ini kami belum melihat adanya pesaing dari lokal,” kata dosen yang mengaku selalu menjadikan dunia wirausaha sebagai pembelajaran dan pemberdayaan ini, Sabtu (10/12/2016).

Ditambahkan oleh pria kelahiran 25 Juli 1968, sebelumnya ia hanya membeli lanting mentah untuk kemudian digoreng dan dicampur dengan bumbu dan dikemas sedemikian rupa.

“Lalu seiring dengan berkembangnya pemasaran maka kami mulai belajar membuat lanting sejak dari singkong mentah. Namun dikarenakan produk lanting sangat tergantung dengan sinar matahari, maka kami mengkombinasikan produk lanting mentah dari pihak lain dengan lanting hasil buatan sendiri,” terangnya sambil menceritakan proses produksi lanting.

Boyke menjelaskan, bagian tersulit dari proses ini adalah cuaca yang tidak bisa diprediksi. Supaya lanting renyah maka harus dijemur dengan terik matahari yang panas. Padahal kalau sudah musim hujan maka sulit berharap adanya panas matahari.

“Kalau proses produksinya sih kita mulai dengan mengupas singkong lalu direndam dalam air, setelah diparut lalu dipress dengan dongkrak bertekanan 5 ton untuk mengeluarkan air yang dikandung. Kemudian dicampur dengan bumbu dan dikukus hingga menjadi adonan. Setelah itu dicetak dan dijemur selama 2×8 jam siang hari,” jelasnya.

Walaupun modal yang disiapkan relatif kecil ketimbang jenis usaha lain, namun bisnis lanting sangat tergantung pada ketersediaan singkong, kesulitannya adalah ketika singkong berkurang maka harganya akan naik dan ini tentu saja akan berpengaruh pada penentuan harga pokok penjualan.

“Untuk pemasarannya segmen terbanyak adalah anak-anak dengan rasa keju, anak ABG (remaja) dengan rasa keju pedas dan super pedas, serta dewasa untuk rasa original.” rinci pengusaha yang juga aktif menulis artikel tentang politik, ekonomi dan pelayanan publik ini.

Dikatakan oleh Boyke, pemasaran menggunakan petugas canvas (keliling) dengan mengantar ke warung – warung yang mau jadi reseller untuk di kantin kampus atau sekolah.

“Untuk online kami batasi karena kendala volume kemasan. Rencananya kami akan bergabung dengan kopjaskum (Koperasi Jasa Hukum) radio Mora yang memiliki cabang di 14 Provinsi di seluruh Indonesia. Nah untuk memesan produk ini silahkan hubungi 087888333541, jika ingin menjadi reseller tanpa modal maka harus datang membawa photocopy KTP ke tempat kami di depan kampus UPI di Ciracas, di samping Alfamart,” jelasnya.

Alumni Taplai Lemhanas ini juga berharap bisnis Lantingnya bisa memberdayakan para pelaku sejak dari yang mengolah singkong, lalu yang menggoreng, hingga yang memasarkan. Disamping itu, makanan yang ia beri nama Lanting Ting Bating ini juga bisa menjadi makanan lokal, sehingga dalam kemasan dicantumkan tulisan “Cemilan Kebumen Khas Banten” karena lanting asalnya dari Kebumen namun dibumbui sehingga menjadi khas Banten.

 “Di daerah Banten banyak makanan lokal seperti gemblong, kue satu, sate bandeng, balok, emping, kerupuk payus, abon bandeng, dan lain-lain. Namun untuk membuat makanan tersebut menjadi populer sebagai makanan khas Banten yang wajib dibeli sebagai oleh-oleh dibutuhkan sinergi antara pengrajin dengan anak-anak muda yang kreatif, terutama untuk hal pemasaran dan kemasan,” ungkap penggagas scenario planning Banten 2045.

Sedangkan nama produk Lanting yaitu Ting bating dipilih dengan mempertimbangkan keunikan atau kekhasan. Ting bating dalam bahasa Jawa Serang artinya amit-amit, namun bisa juga dimaknai sebuah penemuan kesadaran baru seperti dalam sebuah kalimat misalnya, “ting bating begitu saja kok ngga bisa”.

Menurut anggota Tim Pemeriksa Daerah Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (TPD-DKPP) Provinsi Banten ini, mempelajari bisnis itu perlu, tetapi yang terpenting adalah menemukan passion berbisnis terlebih dahulu. Sehingga kita akan semangat untuk menjalankan dan belajar berbagai pernak-perniknya.

“Anak-anak muda masa kini harus memiliki mindset menjadi wirausaha yang bisa menciptakan lapangan kerja dan memberi nilai tambah terhadap lingkungan sekitarnya. Bidang wirausaha yang menarik adalah industri kreatif yang lebih menantang dan sesuai dengan jiwa anak muda yang lebih kreatif dan Inovasi,” pesan Boyke Pribadi menutup obrolan tentang Lanting Ting bating. Penasaran kan? Segera pesan produknya sekarang juga. (nur)

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Tulisan Ini Juga, Yuk!

Close