InspirasiOpini

Uus Muhammad Husaini: Kebaikan Beragama Seorang Muslim

Oleh Uus Muhammad Husaini*

biem.co — Di antara fenomena yang terjadi di masyarakat kita adalah fenomena omong kosong. Tanpa disadari kita seringkali menyia-nyiakan waktu yang diberikan Allah kepada kita untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, yang barangkali kalau kita lihat sekian tahun yang akan datang kita akan senyum-senyum sendiri melihat kebodohan kita.

Kita semua tentunya sepakat bahwa waktu sangatlah berharga, dan apabila ia telah berlalu ia tak akan pernah kembali walau hanya satu detik saja. Pentingnya waktu baru terasa ketika kita ketinggalan kereta satu menit saja. Berharganya waktu baru terasa ketika seorang atlit lari kalah sepersekian detik dari lawannya.

Waktu satu menit yang kita sia-siakan memang hal yang yang kecil dan sepele. Namun kalau kita kumpulkan, hitung, dan akumulasikan lama-lama hal yang kecil dan sepele itu akan menjadi besar; sehari, seminggu, sebulan, bahkan setahun.

Ditinjau dari aspek sosial, tanpa disadari kita sering disibukkan oleh media sosial, kita sibuk dengan chatting di group whatsapp, twitter, instagram dan mengabaikan orang-orang di sekitar kita. Pada saat berkumpul dengan keluarga-pun seringkali kita sibuk dengan smartphone masing-masing, suami sibuk dengan WA-nya, isteri sibuk dengan BBM-nya, tak kalah anak-pun sibuk dengan gamesnya. Walhasil semua orang menjadi asing, dan lebih mengenal orang lain daripada keluarga sendiri.

Sederhananya, saat ini kita sering disibukkan dengan kesia-siaan, tanpa bermaksud menegasikan manfaat positif dari media sosial. Dalam sebuah riwayat Hadits, diriwayatkan dari Abu Hurairoh R.A., Rasulullah Saw bersabda: “Di antara kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya. Baik itu yang tidak bermanfaat bagi kehidupan dunianya, agamanya, bahkan bagi kehidupan akhiratnya.”

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Rasulullah SAW juga menjelaskan tentang urgensi waktu sebagai berikut,  “Ada dua jenis nikmat yang sering kali dilalaikan kebanyakan orang, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” Kedua nikmat ini merupakan anugerah tak terhingga dari Allah SWT yang harus dimanfaatkan secara maksimal.

Kualitas kehidupan seorang anak manusia sesungguhnya sangat tergantung dari caranya memanfaatkan waktu. Orang yang sukses bukan karena ia memiliki waktu lebih banyak daripada orang yang gagal. Waktunya tetap sama, 60 detik dalam 1 menit, 60 menit dalam 1 jam, 24 jam dalam sehari, yang membedakan adalah bagaimana memanfaatkan waktu yang dimilikinya.

Hidup manusia akan berarti dan bernilai jika ia dapat memaksimalkan peran waktu dalam kehidupannya. Sebaliknya, kerugian dan kegagalan-lah yang akan diperoleh saat dia menyia-nyiakan waktu yang dilaluinya.

Menarik sekali pernyataan dari Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa selama dia bergaul dengan para ahli sufi, hanya dua pernyataan yang selalu dia dengar dari mereka, yaitu “Waktu itu ibarat pedang, jika kau tidak membunuhnya (waktu) maka dialah yang akan membunuhmu.” 

Pernyataan lainnya, “Dan waktumu… jika tidak kau pergunakan untuk kebaikan maka dia akan menyibukkanmu dengan kejahatan.”

Semoga kita termasuk golongan Muslim yang baik dalam menjalankan agama, dan tidak menyia-nyiakan waktu sebagaimana yang Rasulullah Saw ajarkan kepada kita. Amiin…


Muhyiddin Yahya Bin Syaraf Nawawi, Hadits Arba’in Nawawiyah, (Riyadh: al-Maktab al-Ta’awuny li al-Da’wah wa Tau’iyah, 2010), Hadits 12, h. 40

Muhammad Muhammad bin Abdurrohman bin Abdurrohim al-Mubarkafury, Tuhfat al-Ahwadzy, (Dar el Kutub al-Ilmiyah, t.t.), hadits 2304.


*Uus Muhammad Husaini, adalah Pengurus Forum Dosen Agama Islam Universitas Serang Raya dan Alumni Universitas Al-Azhar Mesir. 

Editor : Andri Firmansyah

Related Articles

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *