InspirasiOpini

Cincin Api Indonesia: Negeri dalam Bayang-bayang Bencana

Oleh Sumardi Sadim

 

biem.co – Indonesia akan selalu menjadi surga bagi para penikmat eksotika alam Nusantara. Bentang alam yang memanjang dari Sabang sampai Merauke dapat memanjakan mata. Memanjakan hati mereka yang diiringi decak kagum. Siapa yang tak kenal Bali dengan eksotika pulau kecil bertabur pantai yang sangat kental budayanya? Siapa pula yang tak kenal Pulau Komodo, pulau purba yang masih menyimpan fauna langka,  namun masih mengandung potensi alam yang sangat luar biasa? Juga Bromo, taburan pegunungan akif yang melelehkan hati si pendaki atau Raja Ampat, yang membuat mata terseok-seok dengan gugusan pulau kecil yang terbentang rapi.

 

Ya, itu semua merupakan bagian terkecil dari deretan eksotika Indonesia yang terbentang dalam buaian bumi khatulistiwa. Belum lagi tanah yang subur, pesona kearifan lokal yang menjadi primadona.

 

Namun siapa yang tahu, seutuhnya, di balik kecantikan Indonesia, dalam sentuhan geologis, Indonesia merupakan negeri di atas bencana. Indonesia termasuk dalam lingkungan cincin api (ring of fire) yang memilki potensi bencana alam cukup tinggi, karena berada di antara wilayah lintasan dua jalur pegunungan yaitu pegunungan sirkum pasifik dan sirkum mediterania yang terdapat banyak gunung berapi dan aktivitasnya dapat menyebabkan terjadinya gempa vulkanik. Posisi geologis Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng aktif yaitu lempeng Indo-Australia di bagian selatan, lempeng Euro-Asia di bagian utara dan lempeng pasifik dibagian timur. Dengan demikian, posisi Indonesia sangat rawan terhadap bencana. Baik dari aktivitas vulkanis maupun tektonik.

 

Tanah Air akan terus berada di atas kawasan cincin api pasifik, tempat bertemunya lempeng-lempeng tektonik utama dunia, yang ditandai oleh ratusan gunung berapi, yang secara bergiliran akan meletus dari waktu ke waktu. Beludru api yang membentang menjadi alas manusia Indonesia sampai kapan pun. Ketika terjadi bencana yang melanda, bukan bumi sedang murka yang menurut pandangan manusia, akan tetapi bumi sedang mencari keseimbangan baru. Ketika ada penurunan daratan, maka akan ada penaikan daratan pula. Hal tersebut merupakan sifat alam yang selalu dinamis.  Dengan kesadaran baru, kita berharap bukan saja mampu menjadi bangsa pembelajar, melainkan juga lebih punya pegangan ketika menghadapi alam bagi dirinya yang sedang mencari keseimbangan baru.

 

Deputi Bidang Survei Dasar dan Sumber Daya Alam pada Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (sekarang: BIG), Priyadi K mengatakan, sumber bencana dibagi menjadi dua, yaitu akibat ulah manusia dan alam.

 

Indonesia mencatatkan dua letusan gunung terbesar di dunia, yaitu gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat, tahun 1815, hingga mengeluarkan 1,7 juta ton abu yang menyelimuti atmosfer cukup lama. Hingga pada tahun berikutnya 1816, dunia masih terpengaruh selimut abu yang menahan dan memantulkan kembali sinar matahari. Bahkan tahun 1816 dikenal sebagai tahun tidak memiliki panas di perbagai belahan bumi. Letusan dahsyat selanjutnya menyusul pada tahun 1883, Krakatau. Erupsinya diperkirakan setara 13.000 kali ledakan bom atom Hiroshima pada masa Perang Dunia II.

 

Para ilmuwan dunia memberi gelar Indonesia sebagai laboratorium bencana. Ancaman lain berasal dari kerusakan hutan yang menyebabkan longsor dan banjir. Bahkan, Jawa maupun wilayah lainnya mengalami hal serupa, yaitu ancaman bencana yang diakibatkan ulah manusia. Indonesia sangatlah rawan bencana dan merupakan salah satu pusat lokasi megabencana. Namun, ingatan manusia Indonesia tentang sejarah bencana itu bagaikan angin lalu.

 

Gempa bumi, tsunami, sampai letusan gunung berapi merupakan bencana kebumian yang terjadi semata-mata faktor alam. Ahli seismolog mengatakan, yang bisa diketahui hanyalah potensi gempa. Namun kapan dia akan melepaskan energinya kita tak pernah tahu, bisa bulan depan, bisa juga tahun depan atau lebih lama lagi. Yang bisa dilakukan hanyalah antisipasi berbekal pengetahuan potensi bencana. Langkah antisipasi dan mitigasi penting dilakukan sejak awal. Namun, apakah Indonesia telah melakukan hal tersebut?

 

Sosialisasi dan pelatihan penyelamatan jika terjadi bencana di Indonesia, masih sangat lemah. Akibatnya, korban akibat bencana di Indonesia tergolong besar dibandingkan dengan negara lain yang lebih maju dalm mitigasi bencana.

 

Menilik pada negara matahari terbit, Jepang, yang mempunyai karaktersitik sama dengan Indonesia sebagai negara rawan bencana, karena sama-sama terletak pada jalur cincin api (ring of fire)  dan pertemuan lempeng geologi. Meskipun negara Jepang memiliki kesamaan dalam hal rawan bencana alam seperti Indonesia, akan tetapi dalam penanggulangan bencana alamnya, Jepang jauh berada lebih siap. Hal ini dibuktikan dari jumlah korban yang meninggal akibat bencana alam. Jepang telah memiliki sistem manajemen bencana yang terarah, mulai dari prabencana maupun pascabencana. Pemerintah dan masyarakat telah menjalin sinergi dalam upaya mitigasi bencana alam. Sehingga tidak ada lagi saling menyalahkan dalam hal penanganan bencana. Masing-masing individu mempunyai pengetahuan dan pemahaman tentang bencana.

 

Saat terjadi gempa bumi berkekuatan 6,4 skala ritcher di Teluk Suruga, Jepang, tahun 2009, misalnya, tidak ada satu pun korban meninggal karena masyarakat Jepang sudah “terlatih” menghadapi gempa. Kemudian, saat terjadi gempa berkekuatan lebih rendah, yaitu 6,3 skala ritcher di L’Aquila, Italia, tercatat 295 orang meninggal dunia. Namun di Yogyakarta, saat terjadi gempa dengan kekuatan yang sama, yakni 6,3 skala ritcher tercatat sebanyak 5.745 orang meninggal dunia. Artinya, sosialisasi dan mitigasi bencana memegang peranan penting untuk memperkecil risiko akibat bencana. Mitigasi bencana belum menjadi sistem dan agenda tetap pemerintah yang wilayahnya berpotensi terancam bencana alam.

 

Sudah seharusnya pendidikan tentang kebencanaan digalakkan untuk mempersipakan masyarakat Indonesia yang siaga bencana. Pemuda sebagai agent of change, yang dipandang memiliki kemampuan lebih oleh masyarakat sepatutnya tergerak hatinya untuk hal semacam ini. Pemahaman terhadap bencana bukan milik ahli geolog atau geografi, melainkan milik semua orang. Daerah rawan bencana, menjadi pembelajaran tentang makna kewaspadaan terhadap ganasanya alam. Peran serta mahasiswa dalam menyampaikan pendidikan kebencanaan kepada masyarakat sangat dibutuhkan. Khasanah pengetahuan yang di salurkan kepada masyarakat akan meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana.

 

Bencana memang tidak dapat diprediksi kejadiannya. Namun, pemahaman mengenai kebencanaan harus senantiasa menjadi sebuah kewajiban baik dari pemerintah maupun masyarakat untuk masyarakat Indonesia sadar bencana. [*]


 

Editor :

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Tulisan Ini Juga, Yuk!

Close