KILAT DAN PETANI
Kilat bergilir digerus hujan reda
Kupu-kupu dan belalang bergetar
mengeringkan sayapnya
Hari meninggalkan gerah kemarau
Petani melukis senyum
Satu babak cobaan kekeringan dilalui
Tidak ada tata hidup
dihadapi tanpa frustasi
Seperti tanah selalu tabah
enggan jadi kasur
Sabarnya seperti kilat tanpa ragu
Petani di dusun-dusun tempatku
ASU
(leebirkin)
ia menggonggong terus
sampai dunia ini akhir
sampai yang lain mematuhinya
gung, gung, gung
anak kecil berkata;
mengapa banyak yang suka menggonggong
orang bijak berkata;
anjing menggonggong hanya cari sebatang tulang
lalu semua gonggongan semakin gaduh
memenuhi kota dan desa
gung, gung, gung,
kaing, kaing, kaing
gung, gung, gung,
kaing, kaing, kaing
kendang telinga pecah
meleleh bau busuk
namun mereka terus senang makan bangkai
dih, kasihan hanya untuk makan bangkai
menggonggong terus
dasar asu, kata anak kecil itu.
SAKRAMEN BURUNG GAGAK
Malam tak terperi
banyak orang melamun
air mata mengambang di langit
disenandungi suara gagak
Suara burung hitam itu menyayat
dibelahan negeri nerwana
keluh kelaparan tak putus-putus
dupa ritual doa kematian
ditengah mega bisnis yang agung
dengan gemerlap mobil mewah
simbol kemakmuran
Dimana jiwa kesenian yang lembut dan kritis
yang menghidupkan orang kecil
dan mencerdaskan pikirannya
yang menggugah kesadaran
kealfaan dunia
kini ekonomi jadi panglima
banyak orang melaun
air matanya mengambang di langit
Burung gagak mengintip
koak, koak, koak
ia mengebakkan sayapnya
pergi dengan rasa kecewa
karena tudingan mitos tanda
kematian masih pada dirinya
padahal sekarang sudah banyak
mitos kematian lain, dinegerinya.
MENGEMBARA
Dalam mengembara
tubuh ini semakin tua dan lelah
Lain pada jiwa jiwa
terus membakar
melalap usia
Mengalahkan kodrat alam
Berkecamuk antara kehendak
tubuh dan jiwa
(api peperangan belum behenti)
tubuh tiada mau menghendaki
Sebab otot dan tulang kendur dan ngilu
Namun bagaimana pada jiwa
sekian tiada batas kehendak
walau usia ditambah dua-tiga kali
sampai menembus cakrawala alam ghaib
Ada apa kiranya di sana.
KESADARAN DAUN
Tiba waktu menguning
daun-daun itu memilih jatuh
bumi tempat peraduan
yang sabar setia
membuat daun-daun terlena mimpi
lalu membusuk jadi zat
berarti bagi tetumbuhan
Tiba waktu menguning
tiada menunggu topan dating
daun-daun riang ria
untuk mengganti daun-daun muda
yang lebih segar buat membakar
pohonnya menjadi berbuah baik
Apalah artinya di atas
bila menguning keirng
membuat tak pantas dipandang mata
dalam keindahan
Ibnu PS PS Megananda, lahir 1 Desember 1965 di kampong Buntutturunan, Serdang Bedage (Serge), Sumut. Lamiran alias Sarnoto adalah ayahnya, dalang wayang kulit cukup terkenal di Sumut dan Aceh di era tahun 1960 – 1990 an.
Ia kemudian hijrah ke Banten dan mendirikan komunitas Lampu Kegelapan, turut juga mendirikan Forum Kesenian Banten. Buku puisinya yang pertama adalah “Dunia Wayang” bersama 2 penyair Banten, ASep GP dan Ruby A. Baedhowy. Sementara buku puisi tunggalnya berjudul “Terpana Jalur Utara” diterbitkan oleh pustaka Kalimusada. Saat ini ia tinggal di Taman Pipitan Indah bersama istri dan dua anaknya.








