InspirasiSosok

Achi TM, Hampir ‘Gantung Pena’ Sebelum ‘Insya Allah, Sah!’

biem.co — Dunia literasi kini semakin banyak digandrungi para remaja Indonesia, banyak yang berlomba-lomba menulis sebuah novel dan berangan-angan untuk diangkat ke layar lebar. Namun, semakin pesat pula kemajuan perfilman Indonesia kini juga membuat para penulis pemula mundur dengan maraknya persaingan, tak sedikit dari mereka berhenti begitu saja atau mengambil jalur penerbitan indi. Seperti juga Achi TM, yang akan berbagi cerita kepada sahabat biem.co, bagaimana ia pernah ingin berhenti menulis, sempat juga ingin mengambil jalur penerbitan indi, hingga akhirnya begitu banyak perjuangan dan jatuh bangunnya di dunia literasi, membawa novel Achi yang ke-22 ini sampai kepada MD Pictures.

Achi TM seorang penulis novel dan juga penulis naskah skenario TV (serial, sinetron dan FTV) ini sudah 2 bulan merilis novel ke-22-nya yang berjudul “Insya Allah, Sah!” novel tersebut telah diangkat ke layar lebar dan akan rilis pada lebaran 2017 mendatang. Pemilik nama asli Asri Rakhmawati ini lahir di Jakarta pada 3 April 1985, isteri dari Agung Argopo ini memulai karir menulisnya sejak 2005. Novel “Insya Allah, Sah!” adalah novel pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dan novel pertama yang di angkat ke layar lebar.

Tahun 2012, Achi TM menerima penghargaan sebagai finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri, bidang usaha kreatif RUMAH PENA, yaitu lembaga khursus belajar menulis secara online maupun offline. Achi juga menjadi Finalis Nasional Kartini Next Generation tahun 2014 yang diadakan oleh Kemeninfo dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan.

Dalam menulis, Achi tak ingin menulis sesuatu yang cuma-cuma, ia ingin berdakwah lewat tulisan dan ingin memberikan kesan-kesan moral kepada pembaca, “saya punya banyak sekali cerita-cerita yang berkeliaran di kepala saya, kalau tidak saya tuliskan itu membuat saya gelisah, banyak hal yang ingin saya sampaikan atas keadaan di sekitar kita, misalnya pergaulan remaja zaman sekarang yang mulai parah, saya ingin memberitahukan kepada remaja bahwa pacaran itu tidak baik, akhirnya saya bikin dalam bentuk cerita supaya lebih sampai dan kena. Yang kedua memang setiap manusia itu diwajibkan untuk berdakwah, sampaikanlah walau satu ayat, karena saya gak jago kayak ustadzah gitu ngasih-ngasih ayat dan hadis, jadi saya ingin berdakwah tapi lewat tulisan,” ujarnya ketika ditemui di MD Place, Senin sore lalu.

Achi juga bercerita sedikit dengan perbedaan dua karirnya dalam menulis novel dan menulis skenario, bahwa lebih mudah menulis skenario karena hanya memikirkan cerita yang bagus dan ending yang bagus, “kalau nulis novel itu sebuah kesenangan karena saya tidak diintervensi oleh apapun jadi tidak ada yang ngatur-ngatur, kalau nulis skenario adalah sebuah pekerjaan dan lebih mudah skenario,” ujarnya.

Baca juga: Film “Insya Allah Sah” Mengajak Penonton untuk Memetik Manfaat Bukan Sekadar Tertawa

Achi pernah berencana ingin menerbitkan novel indi, karena saat itu novel yang ingin diterbitkan ialah novel idealis yang berjudul “Mr. and Mrs. Writers”, namun ternyata bentrok dengan biaya. Achi juga bercerita bahwa novel pertamanya sering ditolak, ada yang dibalikkan oleh penerbit, ada yang tidak dibalikkan. Akhirnya novel yang berjudul Himitsu diterima dalam kurun waktu satu minggu oleh penerbit QultumMedia.

“Saya nulis novel banyak, novel pertama yang diterbitkan adalah novel ketiga yang saya tulis, dua novel pertama sering ditolak dan tidak pernah diterbitkan sampai sekarang. Saya belajar dari dua novel itu, ibaratnya kalau kata guru saya, nulislah terus, tidak apa-apa nulis sampah, nanti dari sampah yang ditulis pasti ada satu mutiara,” lanjutnya.

Sebelum karirnya dalam menulis novel, Achi mencoba memulai menulis puisi dan merambah ke cerpen. Puisinya kali pertama dimuat di Radar Banten, hingga saat itu Achi semakin semangat untuk menulis, karena menurutnya dari puisi menuju ke cerpen susahnya luar biasa, kira-kira butuh 2-3 tahun. Achi juga sering kalah dalam ajang perlombaan menulis cerpen, dan juga sering mendapatkan penolakkan oleh media-media atas cerpennya. Hingga akhirnya, Achi mundur dalam dunia literasi dan “gantung pena” karena merasa tidak pantas menjadi penulis.

“Dulu, saya kirim SMS ke guru-guru nulis saya, saya ingin mengucapkan selamat tinggal kepada dunia kepenulisan, sepertinya saya tidak pantas jadi penulis karena cerpen saya selalu ditolak, saya ingin gantung pena, ibarat pemain bulutangkis kalau pensiun jadinya gantung raket, kalau saya gantung pena hehe. Kemudian banyak yang nyemangatin saya, tapi semua kata semangat itu sudah tidak bisa bikin saya bangkit, sampai suatu saat di hari itu juga ada telpon dari Majalah Muslimah, dan ternyata cerpen saya pertama kali mau dimuat di Majalah Muslimah. Saya langsung SMS lagi di hari yang sama ke guru-guru saya—cerpenku dimuat di Majalah Muslimah, aku gak jadi gantung pena hahaha,” ujar Achi santai.

Achi melanjutkan bahwa Allah itu memberikan kita hadiah atas kerja keras kita, jadi jika ada yang iri melihat penulis yang kadang tulisannya seminggu langsung diterbitkan, itu mereka tidak melihat kerja keras kita di belakangnya, kerja keras di belakangnya butuh bertahun-tahun untuk bisa bikin novel yang layak, “kayak contohnya saya, mungkin novel Insya Allah Sah ini baru terbit 2 bulan tapi sudah dikontrak sama PH, kalau ada yang iri berarti dia tidak melihat perjuangan saya bertahun-tahun dengan 21 novel saya sebelum ini,” lanjutnya.

Achi juga memberikan masukkan kepada penulis pemula yang sering merasa tidak pantas menjadi penulis, karena sering kalah lomba atau tulisannya ditolak, berarti dia bakal jadi penulis sukses, asalkan dia bangkit, tapi kalau dia benar-benar mundur berarti dia memang tidak pantas jadi penulis. [uti]

Editor : Redaksi
Tags

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button