KabarTerkini

2018 Menjadi Tahun Terburuk Bagi Palestina

biem.co ­– Penderitaan masyarakat Palestina masih menjadi tanggungjawab dunia, khususnya negara Muslim. Hingga kini, makin banyak korban atas penindasan yang dilakukan oleh Zionis Israel terhadap masyarakat Palestina, bahkan sebagian korbannya adalah anak-anak.

2018 telah menjadi tahun terburuk bagi masyarakat Palestina, dari mulai pemindahan kedutaan besar Amerika Serikat ke Yerusalem pada Mei lalu, hingga kematian perawat Razan Al Najjar dan kematian syuhada lainnya. Bagi sebagian negara, tahun 2018 telah menjadi tahun yang penuh perkembangan. Namun tidak bagi Palestina, tangis seorang periang, wanita ataupun bayi-bayi yang tak bersalah menjadi suara yang setiap hari didengar selama 2018.

Amunisi mematikan melangit, melahap bangunan-bangunan. Penjajah Israel tak pernah peduli, apakah yang dihancurkan itu adalah sekolah atau bahkan rumah sakit. Demikianlah jika rasa kemanusiaan telah mati. Bahkan, beberapa bangunan dari Indonesia pun pernah terkena imbas, seperti Rumah Sakit Indonesia di Gaza.

Dilansir dari SpiritOfAqsa.org, jumlah syuhada dan tawanan di Palestina pada tahun 2018 mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Aksi damai untuk melakukan perlawanan juga tak kalah semangat dilakukan oleh mujahid Palestina.

Apa yang dilakukan penjajah Israel sudah sangat jelas melanggaar Hak Asasi Manusia. Hal tersebut diisyaratkan oleh Pusat Studi Kajian Israel dan Palestina di Al-Quds, berakhirnya tahun 2018 dan tibanya tahun 2019 Masehi menyisakan pilu. Tercatat 343 jiwa syahid akibat kejahatan penjajah Israel. Tak hanya pemuda, wanita tak berdosa yang seharusnya kita jaga mencapai tujuh jiwa, dan tak kalah memedihkan hati adalah anak-anak mencapai 72 jiwa.

Pusat Kajian Tawanan menunjukkan, 25 syuhada yang meninggal selama tahun 2018, hingga kini jenazah mereka masih ditahan penjajah Israel, belum diserahkan ke pihak keluarga. Tidak hanya itu, terdapat 18 tawanan yang syahid selama proses penangkapan faksi perjalanan, dan 41 syuhada gugur akibat tembakan rudal penjajah Israel di sejumlah tempat di Jalur gaza.

Selain itu, para nelayan juga tak lepas dari bidikan senjata para penjajah Israel. Tercatat enam nelayan gugur sebagai syahid akibat perahu mereka ditembaki. Dalam aksi Kepulangan di sejumlah perbatasan timur Gaza juga tercatat 2018 gugur sebagai syahid, termasuk dua wartawan dan tiga kru media.

Menurut daftar para syuhada yang dicatat Pusat Kajian Tawanan Al-Quds menyebutkan, Mossad Israel telah membunuh seorang ilmuwan Palestina, Fadi al-Batsh saat ia berada di Malaysia. Pusat Kajian Al-Quds juga merilis bahwa selama tahun 2018 korban penangkapan mencapai 5.011 jiwa; termasuk di dalamnya 358 anak-anak dan 128 wanita.

Sebuah catatan; Al-Quds adalah wilayah terbanyak kasus penangkapan selama tahun 2018, sebagaimana laporan dari tim di lapangan. Hingga kini, konflik Palestina-Israel masih belum ada titik terang perdamaian. Bahkan di awal 2019, 19 jurnalis masih mendekam di penjara Zionis Israel.

Kondisi perekonomian Gaza selama empat bulan terakhir makin memburuk, sehingga memicu pengangguran hingga mencapai 54,9% dan kemiskinan hingga mencapai 55%. Krisis ekonomi tersebut bisa meningkat hingga 60% jika tidak ada solusi ekonomi.

Berbagai negara masih terus mengecam perilaku yang dilakukan penjajah Israel, dan juga bersama PBB membantu memberikan pintu keluar atas konflik yang terjadi. Untuk umat Islam, Al Quds adalah barometer keimanan, yang dimana sangat dipercaya bahwa Palestina telah menjadi negeri yang dirahmati karena banyak para nabi lahir, berkarya, dan wafat di negeri tersebut. Palestina tidak hanya menjadi kiblat pertama kaum Muslimin, tapi juga menjadi negeri yang penuh dengan nubuwah Rasulullah.

Sedangkan, Indonesia masih terus menjadi garis terdepan dalam meringankan beban masalah masyarakat Palestina, sudah banyak bantuan-bantuan dari berbagai lembaga di Indonesia konsisten membantu masyarakat Palestina. Lembaga-lembaga tersebut juga masih terus mengajak masyarakat Indonesia, untuk menjadi bagian dari pembebasan kemerdekaan Palestina, dengan cara mendoakan dan patungan melalui sistem donasi. [uti]

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar