InspirasiOpini

Uus Muhammad Husaini: Memaknai Nuzul Al-Quran (Bagian 2)

(Bagian 2 – Habis)

Oleh Uus M. Husaini

 

biem.co – Pada tanggal 17 Ramadhan setiap, umumnya masyarakat kita mengadakan kegiatan ceramah atau pengajian khusus bertemakan Nuzul al-Qur'an. Kita menjadikan tanggal 17 Ramadhan sebagai momentum untuk memperingatinya, walaupun bisa jadi al-Qur’an tidak turun pada tanggal 17 Ramadhan, karena ia turun berkenaan dengan lailatul qodar.

Banyak hikmah, pesan, dan nasehat yang disampaikan oleh para ustadz, penceramah, bahkan kyai kondang yang disampaikan dalam peringatan tersebut, yang kesemuanya bermuara agar kita kembali kepada al-Quran. Bahwa ia adalah pedoman hidup agar kita selamat hidup di dunia maupun di akhirat.

Ada beberapa catatan penting yang dapat kita ambil dari peringatan nuzul al-Qur’an yang kerap kita selenggarakan setiap tahunnya:

Pertama; Nuzul al-Qur'an yang secara harfiah berarti turunnya al-Qur'an adalah istilah yang merujuk kepada peristiwa penting berupa penurunan “Al Qur’an secara keseluruhan dari Lauh al-Mahfuzh ke Bait al-‘Izzah di langit dunia. Kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan peristiwa-peristiwa dalam kurun waktu sekitar 23 tahun lamanya.

Kedua, terkait dengan tanggal turunnya al-Qur’an yang kadang diperselisihkan bagi penulis tidak begitu penting, karena bukan itu tujuan diturunkannya al-Qur’an. Yang terpenting adalah pesan dari peristiwa tersebut yang seakan-akan ingin membumikan al-Qur’an. Sehingga tak heran redaksi yang digunakanpun kata turun, dalam artian al-Qur’an turun dari langit ke bumi.

Pesannya adalah kita harus membumikan al-Qur’an. Al-Qur’an itu harus kita baca, fahami maknanya dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana Rasulullah contohkan kepada kita. Jangan sampai al-Qur’an itu hanya dibiarkan mengawang-ngawang, dibiarkan menjadi hiasan di rak perpustakaan di rumah, dan dibiarkan berdebu bahkan dimakan oleh rayap.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Qotadah disebutkan bahwa Sa’ad bin Hisyam bertanya kepada ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliaupun berkata: “tidakkah engkau membaca al-Qur’an?” Sa’ad pun menjawab: “ya (aku membaca al-Qur’an)”, kemudian ‘Aisyah pun berkata: “sesungguhnya akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah al-Qur’an.”[1]

Ketiga, lalu bagaimana menyikapi kondisi masyarakat kita yang sebagiannya tidak bisa membaca al-Qur’an.

Setiap orang tentu memiliki kondisi yang berbeda-beda. Ada yang belum bisa membaca al-Qur’an, ada juga yang sudah bisa membacanya, bahkan ada juga yang sudah masuk kategori pandai membaca al-Qur’an dengan hukum bacaannya serta memahami maknanya.

Bagi kelompok pertama yang belum bisa membaca al-Qur’an, maka wajib baginya untuk belajar membacanya sampai bisa. Tidak ada kata terlambat untuk belajar membaca al-Qur’an. Karena al-Qur’an akan menjadi penolongnya, memberi syafaat di hari akhir akhirat kelak. Dalam sebuah Hadits Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Bacalah al-Qur’an, sesungguhnya ia akan memberi syafaat pada hari kiamat bagi para pembacanya.[2]

Bagi kelompok kedua yang sudah bisa baca al-Qur’an namun masih belum baik bacaannya, maka ia harus memperbaiki bacaannya. Karena hukum membaca al-Qur’an dengan tajwid (benar) menurut para ulama adalah wajib.

Sedangkan kelompok yang ketiga, bagi yang sudah masuk kategori mahir membaca al-Qur’an, maka ia harus mengembangkannya dengan memahami makna dan mengamalkannya dalam kehidupan. Namun yang harus menjadi catatan adalah bahwa hal ini tidak harus berurutan posisinya. Bisa saja seorang muslim sambil belajar membaca al-Qur’an sekaligus memahami maknanya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka sebagai orang tua kita harus marah apabila anak kita tidak bisa membaca Al Qur'an. Seorang kakak harus marah apabila adiknya tidak bisa membaca Al Qur'an. Seorang suami harus marah apabila isterinya tidak bisa membaca Al Quran. Seorang pemimpih yang muslim harus marah apabila rakyatnya yang muslim tidak bisa membaca Al Qur'an. Jangan hanya marah ketika al-Qur’an dihina dan dilecehkan. Dengan demikian berarti kita telah memaknai nuzul al-Qur’an. Wallallahu ‘alam bi al-showab.


[1] Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi al-Dimasyqy, Tafsir Ibn Katsir, (Daar Thoyyibah, 2002 M/1422 H), h. 188

وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ ، عَنْ قَتَادَةَ قَوْلُهُ : ( وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ ) ذُكِرَ لَنَا أَنَّ سَعْدَ بْنَ هِشَامٍ سَأَلَ عَائِشَةَ عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – . فَقَالَتْ : أَلَسْتَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ ؟ قَالَ : بَلَى . قَالَتْ : فَإِنَّ خُلُقَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ الْقُرْآنَ .

[2] Yahya bin Syarof Abu Zakariya al-Nawawy, Syarh Nawawy ‘ala Muslim, bab keutamaan membaca al-Qur’an, (Daar el-Khoir, 1996 M/1416 H), h. 804

حَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو تَوْبَةَ وَهُوَ الرَّبِيعُ بْنُ نَافِعٍ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ يَعْنِي ابْنَ سَلَّامٍ عَنْ زَيْدٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَلَّامٍ يَقُولُ حَدَّثَنِي أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ قَالَ مُعَاوِيَةُ بَلَغَنِي أَنَّ الْبَطَلَةَ السَّحَرَةُ وَحَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا يَحْيَى يَعْنِي ابْنَ حَسَّانَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ وَكَأَنَّهُمَا فِي كِلَيْهِمَا وَلَمْ يَذْكُرْ قَوْلَ مُعَاوِيَةَ بَلَغَنِي

Uus Muhammad Husaini, adalah Pengurus Forum Dosen Agama Islam Universitas Serang Raya dan Alumni Universitas Al-Azhar Mesir.


Rubrik ini diasuh oleh Fikri Habibi

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah
Tags

Artikel Terkait

Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *