InspirasiOpini

L. Nihwan Sumuranje: Pendidikan Anak di Lingkungan Keluarga

Oleh L. Nihwan Sumuranje
biem.co — “Pendidikan anak tergantung sejauh mana  kerjasama antara sekolah dan keluarga, guru dan orang tua. Disamping itu adalah kewajiban negara untuk mengangkat standar kehidupan keluarga pada umumnya”, demikian tutur Ma’ruf  Zurayk Guru Besar Pendidikan Psikologi Universitas Daarul Mu’alimin-Damaskus. Pernyataan yang termuat dalam Aku dan Anakku (Al-Bayan-Mizan, 1998), mengisyarahkan kerjasama antara keluarga, sekolah dan kebijakan negara. Ketiga komponen ini saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Butuh sinergi bersama guna memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan secara berkesinambungan.

Jiwa Anak dan Keteladanan

Anak yang hebat akan tumbuh dan berkembang  karena dukungan keluarga yang hebat pula. Seperti yang sering dikatakan para psikolog, bahwa masa dewasa seseorang akan sangat dipengaruhi oleh keadaan bagaimana seseorang diperlakukan sewaktu kecilnya. Pengaruh keluarga menjadi kata kunci utama untuk mengantarkan anak-anak menjadi baik dan berprestasi.

Tidak dapat dibantah bahwa keluarga merupakan sekolah  yang pertama dan utama, sejak usia pertama hari kelahirannya. Apa yang didengar dan dilihat oleh anak sedemikian berpengaruh untuk perkembangan perilaku atau  EQ ( Emotional Quotient ) dan  keberagamaan/spiritual SQ (Spiritual Quotient) dan termasuk penumbuhan kecerdasan intelektual IQ (Intelegence Quotient) yang di dalamnya ada unsur menganalisa dan logika.

Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dibandingkan dengan di sekolah maupun di tempat lainnya. Maka, keteladanan dalam setiap kebaikan dari orang tua merupakan kata kunci untuk mengantarkan anak menjadi anak yang hebat, tangguh, pembelajar, menggali solusi dari masalah yang dihadapi dan siap berpartisipasi dalam pergaulan sosial di luar rumah. Jika orang tua mampu mempraktekkan kebaikan, dengan sendirinya anak akan belajar kebaikan dari apa yang dilihat dan didengar di rumah. Sebaliknya, jika anak terus-terusan dimarahi dan disalahkan nanti akan menjadi anak yang pemarah. Bahkan gaya marahnya juga mengikuti gaya marah orang tuanya. Hilangnya rasa percaya diri, peragu, tidak berharga dan merasa serba salah. Kondisi ini akan memengaruhi alam bawah sadarnya hingga dewasa kelak bahwa ia terlahir tumbuh dan berkembang menjadi tidak sebagaimana mestinya. 

Perlu kita ketahui dan ingat, bahwa kondisi kejiwaan anak-anak senantiasa berpikir untuk dirinya-sendiri. Apa yang ada di hadapannya seolah-olah itu menjadi miliknya. Bahkan benda-benda mati dan hewan-hewan  dapat bercengkerama dengan dirinya. Dunia bagi anak-anak adalah sesuatu yang menyenangkan.

Dongeng dan Mengapresiasi Pertanyaan

Guna menanamkan nilai-nilai kebaikan, dongeng merupakan bagian dari transfer nilai yang dapat dijadikan alat komunikasi. Hewan dan benda-benda yang seakan tercipta untuk diri anak itu “dimanusiakan” menjadi tokoh-tokoh kehidupan. Ada hewan atau benda yang baik, jahat, licik, penyabar, pemaaf dan seterusnya, yang intinya ujung dari dongeng yang diceritakan mengajarkan nilai-nilai kemuliaan dalam menjalani hidup. Dalam aktivitas dongeng, selain mencerdaskan rasa (imajinasi) dan rasio (logika), juga membangun kedekatan emosi antara orang tua dan anak.

Pada perkembangannya, tentu sangat banyak yang ditanyakan oleh anak. Mulai dari pertanyaan yang lucu, bersifat spiritual, terkait filsafat dan tidak jarang pertanyaan yang dinilai sebagai sesuatu yang tidak sopan. Umpanya pertanyaan tentang “dari mana aku dilahirkan”, “Tuhan lagi apa”, “mengapa langit itu tinggi”, “mengapa kambing mengembik sedangkan ayam berkokok”, “kelahiran”, “kematian” dan seterusnya. 

Baca juga: Sejarah, Pendidikan, dan Strategi Kebudayaan

Prof. Dr. Zakiah Darajat dalam Ilmu Jiwa Agama (Bulan Bintang, 1993), menganggap sejumlah pertanyaan anak bagi anak bukan perkara yang dibuat-buat. Bukan pula dengan sengaja membuat orang tua menjadi pusing. Memang begitu kondisi jiwa yang lagi dialami. Secara garis besar, Zakiyah menyarankan agar orang tua jangan sampai menghakimi anak sebagai anak nakal, tidak sopan dan kata-kata lain yang dianggap merendahkan diri anak. Sebaliknya, anak harus dihargai, merasa aman, bahagia, dibuat percaya diri dan semodelnya.

Di tingkat teknis pelaksanaan para orang tua harus mencari jawaban yang lebih diterima anak. Misalnya dengan metode perumpamaan, pengalaman sang anak dan hal-hal yang memungkinkan dapat ditangkap dengan bahasa dan logika anak. Maklum, anak masih berkutat pada sesuatu yang bersifat indrawi, meski di lain waktu pertanyaan itu bersifat spiritual (nonmateri).

Bermain

Kita bantu anak-anak menikmati masa anak-anaknya supaya nanti jadi pemuda benar-benar menjadi pemuda dan masa dewasa benar-benar menjadi manusia dewasa yang tidak kekanak-kanakan karena hilangnya masa indah atau masa lalu kurang bahagia.

Dunia anak identik dengan dunia bermain. Peter Adamson yang bukunya diterbitkan WHO, UNICECEF dan UNISCO (PBB) seperti dikutip pakar komunikasi dan pendidikan Jalaluddin Rakhmat dalam Islam Aktual (Mizan, 1991) bahwa bermain dapat “membantu mengembangkan mental, sosial, dan keterampilan fisiknya,termasuk berbicara dan berjalan. Bermain dapat merangsang ingin tahu, kecakapan serta percaya diri. Bermain juga merupakan landasan sebagai dasar untuk mampu melakukan pekerjaan sekolahnya, mempelajari beberapa keterampilan yang perlu untuk kehidupannya di kemudian hari”.

Permainan, selain dapat memenuhi kepuasan hasrat jiwa bermain anak-anak yang begitu besar menjadi terpuaskan, di dalamnya mengandung pendidikan untuk memberikan prestasi  yang terbaik. Walaupun namanya permainan, namun  pelaksanaannya tidak ada yang main-main alias serius. Fisik, daya ungkap (bahasa), imajinasi, logika, kerja sama, sekaligus manajemen emosi dapat terasah, tumbuh serta berkembang dengan baik.

Anakmu bukan Anakmu, Tetapi Anakmu

Puisi yang ditulis Kahlil Gibran yang di Libanon dikenal (Khalil Jubron) berjudul Anakmu bukan Anakmu patut kita renungkan. Kita tidak menutup mata bahwa ada orang tua yang ingin menjadikan anak-anaknya A-Z persis seperti orang tuanya. Akibatnya timbul paksaan-paksaan tertentu yang sesungguhnya tidak baik untuk perkembangan jiwa dan prestasi anak. Karena tidak ada yang akan bisa dikerjakan secara total, kalau dilakukan dengan setengah hati atau terpaksa.

Ada pula orang tua yang tidak rela anak-anaknya mengalami kesulitan dan menemani dalam proses mencari solusi. Muhammad Nabil Kazhim dalam Mendidik Anak Bebas Berekspresi (Alif Media, 2009),membeberkan tindakan orang tua yang keliru karena anak-anaknya didesain supaya tahu beres dalam segala hal. Seluruh kebutuhannya dilayani. Anak tidak diajarkan bagaimana menghadapi masalah, sehingga kelak akan mengantarkan seseorang pada usia remaja dan dewasanya ingin enaknya saja. Tidak menghargai dan memuliakan proses.

Kalaupun ada yang salah dalam proses menyelesaikan sesuatu, hendaknya dibantu agar kesalahan itu dijadikan media pembelajaran guna menghadapi masalah. Sebab masalah akan terus ada dan anak yang terbiasa menghadapi masalah tidak akan cengeng. Cengeng yang dimaksud bukan dalam bentuk tangisan. Tetapi lari dari kenyataan. Bisa lari ke narkoba, tindakan kekerasan, pergaulan bebas dan jalan pintas dengan melakukan tindakan kriminal untuk memperoleh uang. Ini terjadi karena sejak kecil dididik segalanya tahu beres. Tidak dididik bagaimana caranya menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Masalah bila dikreasi kelak akan menjadi kreativitas dan berbuah prestasi, karena tantangan dapat dirubah menjadi peluang mengoptimalkan potensi titipan Tuhan. Orang tua mesti membangun budaya memecahkan masalah dari hal-hal yang dianggap kecil oleh sang anak maupun sesuatu yang dianggap besar.

Penulis sepakat, bahwa tidak semua urusan pendidikan anak diserahkan 100% kepada lembaga pendidikan. Dengan mendidik secara tanggung jawab berbasis cinta, kasih sayang dan ilmu pengetahuan di lingkungan keluarga, untuk kemudian menggali solusi bersama antara guru dan orang tua akan memaksimalkan hasil pendidikan.

Terjalinnya kerja sama antara orang tua dan pihak sekolah sangat besar peluangnya anak-anak akan lebih rajin lagi sekolah, melipatgandakan motivasi belajar, nilai akademikpun  meningkat,  mengatasi masalah, perencanaan masa depan yang matang  dan lebih penting lagi membangun kemuliaan akhak. Jika keluarga dan sekolah mampu bekerja sama dengan baik untuk memberikan pendidikan terbaik, kelak rasa nasionalisme akan tercipta dengan baik pula karena anak merasakan betul partisipasi pemerintah. Anak akan memiliki jiwa nasionalisme yang nantinya diharapkan dapat memberikan kontribusi terbaik buat bangsa dan negara. (*) 



L. Nihwan Sumuranje
, tulisannya berupa, resensi, artikel, puisi, Cerpen, saduran, pernah dimuat di berbagai media.


Rubrik ini diasuh oleh Fikri Habibi.

Editor : Redaksi

Related Articles

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *