Irvan HqKolom

Catatan Irvan Hq: Keep Clean for The Next User

biem.coBicara mengenai toilet memang seperti kurang kerjaan dan kelihatannya kok sepele sekali, persis lagunya Rinto Harahap berjudul Benci tapi Rindu, tempat yang tidak disukai sekaligus dirindukan, buktinya tiada hari kita mengunjungi tempat ini, baik untuk buang air besar, buang air kecil, atau sekedar cuci tangan dan mematut diri di depan cermin. Kalau dalam bahasa Inggris toilet disebut juga sebagai WC (Water Closet), dalam bahasa Indonesia untuk menyebut toilet digunakan juga istilah Kamar Kecil supaya terdengar lebih halus.

Satu-satunya alasan saya menyinggung soal toilet karena dari sinilah awal dari kesehatan kita ditentukan, kemudian berkembang lebih jauh hingga toilet menjadi cerminan kondisi si pemilik toilet tersebut. Banyak orang bilang kalau kita ingin mengetahui tingkat kebersihan seseorang, mintalah ijin untuk ke toilet saat kita mengunjungi rumahnya. Di tempat itulah kita bisa mengukur kebersihan orang itu.

Konon katanya pada tahun 500 sampai dengan 1500 Masehi di Eropa kotoran manusia dibuang melalui jendela rumah bersama ember atau wadah sejenisnya, pada masa itu penyakit merajalela dan banyak orang meninggal. Kebiasaan pun mulai berubah, mereka mulai membuang kotoran manusia dengan membuangnya ke sungai yang mengalir dan menguburkannya ke dalam hutan.  Baru kemudian pada abad ke-16 pemerintah mewajibkan setiap rumah memiliki toilet.

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Maka toilet pun mengalami perkembangan mulai dari kloset tanah, kloset panci, sampai dengan toilet siram tipe katup. Muncul nama John Harrington pada tahun 1596 sebagai penemu toilet yang tertutup air dan mengalami perubahan besar ketika J.F. Brandel memperkenalkan toilet siram tipe katup pada tahun 1738 dan disempurnakan oleh Alexander Cummings pada tahun 1775 dengan mempertahankan air pada cekungan kloset ketika sedang tidak dipakai.

Teknologi pun membawa toilet tidak lagi berfungsi hanya untuk menyembunyikan fisik dan baunya tetapi bagaimana kotoran dapat dibuang keluar rumah secara otomatis, Joseph Preser dan Joseph Bramah terus berinovasi mengadakan perbaikan beberapa cara kerja toilet seperti menggantikan katup geser dengan katup engkol, menggunakan air dan gravitasi untuk membuang air keluar dan mencapai puncaknya ketika S.S Helior menciptakan toilet tipe siram pada tahun 1870 yang disebut “optims”.

Setelah itu perbaikan teknologi toilet tidak mengubah fungsi bekerja toilet tetapi lebih kepada estetika dan kenyamanan penggunanya saja. Bisa kita bayangkan ketika seratus dua puluh delapan tahun kemudian yaitu pada hari ini kita mendengar bahkan melihat sendiri masih ada warga yang buang air besar di sembarang tempat atau lebih dikenal dengan istilah dolbon. Selain bisa menimbulkan aroma yang tidak sedap, dolbon juga berpotensi menimbulkan berbagai penyakit. Seberapa jauh ketertinggalan mereka? Salah siapakah ini? Sementara di tempat lain, salah satu bonafiditas perusahaan saja sekarang sangat ditentukan oleh tingkat kenyamanan, kebersihan, aksesbilitas dan higienis toiletnya.

Uniknya teknologi toilet yang semakin tinggi dan perkembangan peradaban yang begitu pesat tidak berbanding lurus dengan kebiasaan memelihara kebersihan toilet. Belum tumbuh kesadaran di antara kita untuk bersama-sama menjaganya. Mungkin karena keengganan dan menanganggap hal itu adalah masalah sepele yang tidak perlu diperhatikan sehingga hanya mengandalkan office boy saja untuk membersihkannya. Lebih sadis lagi masih ada yang beranggapan kalau toilet itu tempat membuang kotoran, jadi ya sewajarnya saja kotor, padahal kita tahu semua kotoran itu dapat menjadi sarang penyakit dan menyebar kemana-mana. Belakangan ini banyak kita membaca di koran-koran mengenai wabah penyakit polio, campak, diare, DBD, dan lain-lain yang disebabkan oleh buruknya kualitas sanitasi lingkungan hidup kita. Yuk dimulai dari diri sendiri dengan menjaga toilet yang sudah kita pakai tetap bersih dan kering. (*)


Irvan Hq adalah CEO biem.co dan Ketua Umum Banten Muda Community, menyebut dirinya sebagai Entrepreneursleep. Di sela waktu padatnya bekerja di sebuah perusahaan, Irvan menyempatkan diri untuk terus menulis. Kolom Catatan Irvan ini adalah kanal yang merangkum tulisannya yang memotret berbagai persoalan sosial kehidupan.

Editor :

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Back to top button