KolomRois Rinaldi

Muhammad Rois Rinaldi: Aku Anjing Kau Anjing Mari Kita Cari Manusia

Oleh Muhammad Rois Rinaldi

 

Kau anjingkan aku
Aku menganjing-anjingkan kau
Karena kau anjing
Kucinta kau, Anjing
Kau dan aku anjing-anjing
Kita mencari manusia, Anjing
Antara anjing-anjing
Kita anjing

 

Di mana-mana, selain dari mulut pendukung fanatik klub sepak bola yang kadang keceplosan mendemonstrasikan kata “anjing”—yang kadang hanya sebagai guyonan dan kadang sebagai bentuk caci maki kepada klub yang menjadi lawan dari klub idola mereka—manusia masa kini memang sedang gemar-gemarnya menganjing-anjingkan sesama manusia.  Ada yang beralasan umpatan “anjing” bukan sekadar umpatan, melainkan mengandung nilai-nilai kultural. Ada juga yang sama sekali tanpa alasan, pokoknya anjing-anjingan sebagaimana diajarkan oleh generasi di atas mereka. Sebagian manusia hanya terbawa-bawa, latah belaka. Sebagian lagi bukan sekadar latah, tapi kata “anjing” sudah jadi mantra sehari-hari, terutama di dalam keadaan kaget atau emosi tingkat tinggi.

Di jalanan, anjing boleh jadi merupakan salah satu makhluk Tuhan yang paling sering disebut-sebut. Namanya di jalanan, penyebabnya tidak jauh-jauh dari persoalan jalanan. Misalkan ada orang yang menyalip dari kanan, terlebih menyalip dari kiri. Ketika sepeda motor yang menyalip hampir mengenai spion motor yang disalipnya, lebih-lebih benar-benar menyenggol spionnya, itu pertanda kurang dari 1 detik akan terdengar orang teriak sangat lantang.

“Anjing!

Motor yang menyalip cuek saja. Melaju dengan sangat cepat. Orang yang teriak itu tentu tahu bahwa teriakannya sama sekali tidak berguna. Tidak sama sekali terdengar oleh yang bersangkutan. Tetapi persoalan didengar atau tidak, baginya, sudah tidak penting.  Yang penting adalah meluapkan kekesalan sesegera mungkin dengan cara yang paling mudah.

Ya, kata anjing itu!

Orang-orang yang sedang berada di jalanan, yang lebih dekat dengan orang yang teriak akan biasa saja, karena di jalanan, anjing, biasa dipanggil-panggil. Saya pun sudah sangat terbiasa. Kapan saja, di mana saja, dan dalam keadaan apa saja, dengan sangat tiba-tiba saya dapat mendengar orang meneriakkan “anjing”. Saya lebih sering menganggap terikan-teriakan itu seperti sirine rusak yang menguing tanpa bisa diprediksi waktunya. Tugas saya hanya perlu memahami kerusakan-kerusakan itu agar tidak diserang penyakit jantung.

Sebenarnya tidak semua kejadian bikin saya jengkel.  Ada juga beberapa kejadian yang cukup menghibur. Misalkan pada suatu hari, ketika saya duduk santai sambil ngopi di bengkel yang terletak di tepi trotoar, karena harus menambal ban yang bocor, dari jarak yang cukup jauh di depan saya, saya melihat mobil putih menyerempet mobil hitam, sedikit saja.  Mobil hitam segera mengejar mobil putih. Kedua mobil tersebut saling serempet. Dengan tempo lambat, mereka terus saling salip, hingga beberapa kali mobil putih terdesak menyerempet pembatas trotoar. Terus berulang demikian, sehingga kedua mobil melewati saya. Tentu saja saya memutar arah duduk saya, agar tetap dapat menyaksikan adegan saling serempet itu.

Setelah dirasa cukup (menurut perasaan mereka masing-masing, saya hanya menerka), kedua pengemudi turun. Telunjuk mereka saling menuding muka. Heran, keduanya tidak sama sekali menuding ke arah mobil mereka yang rusak parah. Tidak sama sekali ada indikasi mereka saling menjelaskan kerusakan yang harus ditanggung dan seberapa besar ganti rugi yang harus dibayar oleh salah satu dari mereka. Meski saya tidak dapat mendengar apa yang sedang mereka katakan, saya dapat memastikan mereka sedang bertengkar dan saya dapat membayangkan, kurang lebih dialognya begini:

“Anjing lo!”

“Lo anjing goblok!”

“Goblokan lo, Anjing!”

“Eh dasar anjing. Lo yang goblok!”

Jantung saya sempat berdebar-debar melihatnya. Persis seperti melihat mantan kekasih yang berjalan bergandengan tangan dengan suaminya. Tetapi lama kelamaan saya tertawa geli. Saya teringat film Chappie. Sayangnya mobil itu tidak berubah jadi robot dan kota yang saya singgahi tidak berubah menjadi Kota Johannesburg yang kacau balau. Semua biasa saja. Orang-orang yang jualan petis dan es dawet di seberang  tetap khusyu’ melayani para pembelinya, begitu pula orang yang hilir mudik, tidak ada yang sungguh-sungguh mempedulikan adegan saling serempet antara mobil putih dan mobil hitam.

Mungkin hanya saya yang iseng memperhatikan yang tidak diperhatikan oleh kebanyakan orang. Tetapi ini benar-benar membikin mata, pikiran, dan hati saya tidak dapat berpaling, seperti ketika harus menyaksikan detik-detik ijab-qabul sang mantan. Detik-detik ketika jari manisnya dilingkari oleh cincin emas sepuluh gram! Terasa lambat dan bikin mual, tapi sulit sekali untuk ditinggalkan begitu saja. Mungkin karena saya bukan tipe orang yang mau berpaling dari kenyataan. Hadapi saja!

Apapun, kejadian itu cukup menghibur saya. apatah lagi saya memang sedang jenuh menunggu tukang tambal ban yang lamban sekali.

Di lampu merah, jangan tanya. Setiap menghadapi lampu merah, saya selalu was-was. Betapa tidak, belumlah lampu hijau menyala, klakson berdesingan. Kadang-kadang saya berpikir (kalau sedang ingin berpikir) apa mungkin seluruh manusia di kota ini buta warna? Belum lagi adegan-adegan yang mendebarkan yang sering saya saksikan di lampu merah. Ada saja mobil atau sepeda motor yang menerabas lampu merah. Tentu saja jika bukan karena sedang bernasib baik, orang-orang yang menerabas lampu merah ditabrak oleh kendaraan yang melaju kencang dari arah yang berlawanan.

Pada saat-saat semacam itu, tidak jarang pula akan terdengar koor yang tidak beraturan.

“Anjing katarak!”

“Anjing goblok!”

“Anjing tolol!”

Pernah juga saya diajing-anjingkan orang. Ketika itu ada seorang pemuda berhenti di depan penjual bensin eceran. Tanpa ba bi bu, ia langsung mengambil satu botol besin dan memasukkan ke tangki bensin sepeda motornya. Penjaga warung sedang sibuk melayani yang lain, karena selain jual bensin ia juga jual berbagai macam makanan ringan. Saya yang terheran-heran tanpa sadar memperhatikan pemuda itu terlalu dalam. Rupanya ia sadar dan terganggu.

“Apa lo, Anjing?”

“Kalau aku anjing dan aku anjing, mari kita sama-sama mencari manusia di jalanan,” gumam saya dalam hati.

Saya tidak merasa perlu mengatakannya secara langsung. Saya dapat prediksikan, jika saya mengatakannya ujung-ujungnya hanya adu jotos. Sama bonyok. Sama tidak ada gunanya.Tersenyum semanis mungkin, saya pikir, cukup untuk menghadapi pemuda yang memanggil saya anjing itu.

Sekilas saya melirik pemilik warung melihat pemuda tersebut dan tidak sama sekali bereaksi. Mungkin adiknya atau apanyalah, pikir saya.

Pemuda itu pergi dan saya dapat panggilan baru: anjing.

Cilegon, Februari 2018

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah
Tags

Artikel Terkait

Berikan Komentar