Kesehatan

Sakit Hati Berdampak Buruk bagi Kesehatan. Berikut 5 Cara Mengatasinya

Sakit hati lebih mungkin meninggal karena penyakit jantung

biem.co – Sobat biem pernah sakit hati? Semoga tidak ya! Tapi, perasaan kesal dan dendam terus-menerus terhadap orang lain ini pasti pernah menghinggapi setiap orang.

Mulai dari berhenti kerja karena dipecat dengan tidak hormat; diperlakukan tidak adil di tempat kerja; pasangan yang mengkhianati kita; atau remaja yang putus cinta. Semua itu dapat mendatangkan sakit hati.

Tahu nggak Sobat biem, ternyata hal tersebut dapat mempengaruhi kesehatan fisik, lho!

Dilansir dari laman Bramardianto.com, secara fisiologis, ketika kita sakit hati terhadap seseorang, tubuh kita secara naluriah mempersiapkan diri untuk melawan orang itu, yang mengarah ke perubahan seperti peningkatan tekanan darah.

“Kita merasakan panas seperti sistem inflamasi untuk merespon bahaya dan ancaman,” kata Raison, direktur klinis Program Mind-Body di Emory.

Menurut sebuah buku, “Embitterment: Societal, Psychological, and Clinical Perspectives”, kekuatan negatif dari perasaan dendam begitu kuat sehingga timbul sebuah diagnosis baru yang disebut PTED, atau gangguan sakit hati pasca-trauma, untuk menggambarkan orang-orang yang tidak bisa memaafkan perbuatan jahat orang lain terhadap mereka.

Perasaan dendam mengganggu sistem hormonal dan kekebalan tubuh. Menurut studi yang dilakukan Carsten Wrosch, seorang profesor psikologi di Concordia University di Montreal menunjukkan bahwa dendam, orang yang marah ternyata memiliki tekanan darah tinggi dan detak jantung dan lebih mungkin untuk meninggal karena penyakit jantung dan penyakit lainnya.

Serem ya, Sobat biem! Nah, maka daripada itu, yuk! Singkirkan sakit hati untuk kesehatan Sobat biem.

Berikut 5 tips bagaimana cara menyingkirkan kebencian secepat mungkin demi kesehatan.

  1. Mengeluh untuk sementara

    Menurut Dr Maryann Troiani, penulis buku Spontaneous Optimism, luangkanlah waktu sendiri untuk meluapkan amarah dan keluarkan dari sistem diri Anda.

  1. Menonton berita

    Frederic Luskin, Direktur Stanford Forgiveness Project, mengatakan pasien sakit hati selalu berpikir tentang berapa banyak orang lain telah menyakiti mental mereka.

    “Saya meminta orang untuk menonton berita selama sehari, atau membaca koran, atau pergi bekerja dan berbicara dengan orang, dan mereka akan melihat bahwa orang lain juga menderita dan ini hanyalah bagian dari kehidupan,” kata Luskin, penulis buku “Forgive for Good.”

  1. Mempertimbangkan menghadapi orang yang kita benci

    Troiani mengatakan beberapa pasiennya telah menemukan pelipur lara dalam melampiaskan dendamnya. Namun, lain kali itu dapat menjadi bumerang.

    “Sebagian dari pasien adalah psikopat nyata, dan memburu mereka bisa menjadi bencana,” katanya.

    “Mereka hanya akan berkomplot dan memutar keadaan dan menyalahkan kita.” Jika itu adalah situasi yang kita hadapi, cobalah menulis surat kepada orang tersebut dan menyuruh membacanya ke teman terpercaya.”

  1. Sadarilah! Kita hanya merugikan diri sendiri

    Terus mengingatkan diri kita dari semua kerusakan fisik yang kita lakukan sendiri dengan rasa benci. “Saya mengatakan kepada pasien saya, jauhkan kebencian ini sekarang, atau dalam lima tahun keadaan ini akan menghantui Anda dalam bentuk sakit kepala kronis, kelelahan, arthritis, dan sakit punggung,” kata Troiani.

  1. Mempertimbangkan kondisi mental orang lain

    Penulis Maya Angelou memiliki setiap alasan untuk merasa sakit hati. Dia menjadi korban pemerkosaan saat masih anak-anak, kemudian dipenuhi perasaan bersalah ketika tahu pemerkosanya.

    Pamannya, dibunuh oleh anggota keluarga yang lain, dia membisu selama beberapa tahun.

    Namun, dia bilang dia tidak pernah merasa sakit hati terhadap penyerangnya. “Meskipun ia adalah seorang penganiaya anak dan melecehkan saya, saya tidak pernah membencinya, dan saya senang itu,” katanya.

    “Apa yang saya sadari adalah bahwa orang melakukan apa yang mereka tahu untuk melakukan – bukan apa yang Anda pikir mereka harus tahu.” Setelah dewasa, dia melanjutkan pola pikir itu.

    “Jika seseorang menyakiti perasaan saya atau menyakiti saya dengan cara apapun, saya pikir, ‘ini bodoh, itu saja yang harus ia tahu,’ dan aku tidak akan membawa kebencian ini bersamaku. Aku tidak akan mencobanya mengendap. Aku tidak akan memberikan tempat untuk tinggal di hati dan pikiran saya karena saya tahu itu berbahaya.” (Iqbal)

Editor : Redaksi

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar