KabarTerkini

Rahmat: Hutang Jepang Lebih Tinggi Dibanding Indonesia Sekira 200 Persen

KOTA SERANG, biem.co – Mengangkat tema ‘Perkembangan Ekonomi Banten di Tahun Politik’, Bank Indonesia Provinsi Banten menggelar Media Gathering bersama belasan awak media dengan diisi oleh diskusi ringan di aula Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten, Kota Serang, Jumat (13/04).

Dalam kesempatan diskusi tersebut, Rahmat berbagi pengalaman dan studi banding di negeri Sakura, Jepang. Katanya, Jepang memiliki hutang negara lebih tinggi sekira 200 persen dibandingkan Indonesia yang hanya 30 persen.

Rahmat menjelaskan, kapasitas ekonomi yang besar memiliki hutang yang besar pula.

“Hutang tersebut menumpuk sudah dari masa-masa pemerintahan sebelumnya,” ucapnya.

Bank Indonesia, imbuh Rahmat, meletakkan sebagian dari cadangan devisanya, karena negara kita memiliki hutang juga dalam bentuk mata uang Yen.

Dari sisi hutangnya, lanjut Rahmat, Jepang memiliki hutang jauh lebih besar dari Indonesia, Undang-undang menjelaskan maksimal hutang adalah 60 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

“Kita baru sekira 30 persen, artinya jika kita ingin genjot hingga 60 persen. Permasalahannya apakah kita cukup liquid untuk membayar hutangnya,” serunya.

Rahmat mempertanyakan, kalau melihat, apakah kita memiliki primary balance?

“Jadi pengeluaran itu apakah bisa tercukupi. Namun saat ini, APBN (red: Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) kita primary balance-nya masih negatif,” ungkapnya.

Kalau tidak salah dari tahun 2014, lanjut Rahmat, mulai kenaikan BBM hingga semua harga mempengaruhi.

“Dalam keadaan seperti ini, Sri Mulyani, Menteri Keuangan mulai membenahi struktur APBN. Jadi struktur APBN kita bisa disubsidi mulai dari BBM (red: Bahan Bakar Minyak), listrik, karena itu kita tida bisa banyak investasi,” tuturnya.

Maka dari itu, terus Rahmat, di switch dengan menaikan harga BBM. “Hasilnya akan terasa sepuluh tahun mendatang, jika tidak hutang negara akan terbakar dengan subsidi. Itu membuat balance,” terangnya.

Kalau di Jepang, kata Rahmat, kurang lebih aturannya sama. Di sana pun ada perbedaan kultur, kalau A tetap A, berbeda dengan di Indonesia. (Dion)

Editor : Andri Firmansyah

Related Articles

Berikan Komentar