InspirasiSosok

Sholahuddin Yazid, Menginjak Puncak Tertinggi Eropa Hingga Bersepeda Malang-Tangerang

biem.co — “Cobalah untuk tidak menjadi orang sukses, melainkan mencoba menjadi orang yang berharga,” begitu kata Albert Einstein, karena tidak dipungkiri bahwa kita pun setuju ketika telah menjadi orang yang berharga tanpa sadar telah menjadi orang yang sukses. Definisi sukses sendiri dari setiap individu jelas berbeda, tapi yang paling penting dalam merayakan kesuksesan itu sendiri adalah memperhatikan pelajaran tentang kegagalan.

Seperti kisah anak muda asal Tangerang yang menginspirasi ini, Sholahuddin Yazid. Baru-baru ini, Sholah berhasil masuk dalam 15 besar Wrangler True Wanderer 2018, dari ajang tersebut Sholah berhasil mencetak sebuah pengalaman berharga yang jarang sekali didapati oleh pemuda kebanyakan.

Tidak hanya itu, 2017 silam, Sholah juga berhasil menjinakkan puncak tertinggi di Eropa, yaitu gunung Elbrus, wah! Luar biasa sekali ya sobat biem! Pria kelahiran September 1995 ini awalnya membuat ekspedisi internasional bersama Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Brawijaya. Sebelumnya ekspedisi tersebut memang sebuah ekspedisi tahunan dalam program kerjanya, yang dimana masih tingkat nasional.

“Kita coba buat ekspedisi internasional, tadinya kita coba siapin buat di Pegunungan Himalaya, karena baru beberapa orang Indonesia yang bisa naik kesana, emang tingkat level gunungnya juga jauh di atas Elbrus, karena sudah kepilih beberapa atlitnya dan persiapannya juga terlalu mendadak, dananya juga gak ada, akhirnya digeser ke Elbrus. Kemudian saya dan teman yang lain daftar untuk ikut atlit, Alhamdulillah lolos jadi atlit, pendanaan juga sudah aman, izin rektorat juga sudah masuk, akhirnya kita berangkat,” ujar Sholah pada biem.co.

Jelas sangat tidak mudah untuk bisa mencapai puncak gunung tersebut, yang d imana masyarakat Indonesia notabenenya adalah manusia tropis dan dibawa ke negara yang memiliki empat iklim.

“Pelajaran yang saya ambil, sih, lebih gimana caranya kita ngalahin egois kita, karena ketinggian di atas 3000 atau ketinggian di atas tekanan oksigen yang sedikit bisa membuat otak kita kerjanya kurang. Jadi, kalau apa-apa gitu gampang emosi, gimana pintar-pintarnya kalian koordinasi saja sama tim, apalagi Elbrus dari basecamp benar-benar penuh salju, jadi ya gimana caranya kita aklimatisasi, kan kalau dalam pendakian gunung es itu, berhasil nggaknya seseorang sangat dipengaruhi dari aklimatisasi, jadi kalau aklimatisasi kita gagal ya kita juga gak bakal nembus puncak. Aklimatisasi itu penyesuaian badan sama lingkungan baru, jadi misal kita naik ke ketinggian 3000 balik lagi ke ketinggian 2000 untuk tidur,” lanjutnya.

Tak hanya menceritakan keberhasilannya untuk bisa sampai ke puncak gunung tersebut, Sholah juga berbagi pengalaman mengenai sedikit banyak kebiasaan orang-orang Eropa khususnya Rusia yang ditemuinya itu.

“Di luar pengalaman saya yang baru pertama kali ke luar negeri dan langsung nyobain salju, ada juga pengalaman yang saya dapat di Rusia mengenai masyarakatnya. Masyarakat Rusia itu lebih ke tepat waktu, ya. Kebanyakan orang-orang Eropa begitu, tapi aktivitas orang Eropa itu ternyata lebih lama dari orang Indonesia, jam 6 itu belum ada aktivitas, waktu itu pas saya mau lari pagi jam 6 keluar hotelnya masih dikunci, mereka mulai aktivitas itu sekitar jam 7’an, tapi diakuin mereka benar-benar menghargai waktu, dari cara jalannya saja lebih cepat. Banyak juga sih pengalaman yang unik lainnya di Rusia, kayak misalnya kalian ada di Rusia naik pesawat, pas pesawat itu mendarat penumpangnya tepuk tangan, semacam menghargai pilot, karena pas landing kan detik-detik bahaya juga,” paparnya.

Kesuksesan Sholah dan teman-temannya sampai ke puncak gunung Elbrus dan kembali lagi ke tanah air, membuat nama baik baru bagi kampusnya dan juga Indonesia. Namun, kesuksesan Sholah tidak berakhir sampai disitu, walau banyak sekali kendala untuk sampai ke puncak gunung tersebut, keberanianlah yang akan terus membuat kita melanjutkannya.

Kini, Sholah kembali berani melanjutkan sebuah kesuksesan yang belum pernah dijalani. Setelah ia dinyatakan lulus sidang di kampusnya, Sholah berupaya untuk kembali ke Tangerang dengan menggunakan sepeda. Bersepeda dari Malang hingga Tangerang jelas tidak mudah bagi Sholah, banyak pula rintangan yang tiada habisnya.

“Saat itu saya cuma ingin mencari perjalanan, saya butuh perjalanan sendiri, yang sebenarnya saya juga bukan pesepeda, saya main sepeda juga baru dan saya tidak terlalu tahu teknis-teknis touring sepeda, banyak banget kendala di jalanan yang cukup bahaya. Sebelum berangkat izin sama orang tua, awalnya kurang diizinin sama Ibu, ngapain sih aneh-aneh, capek-capek gitu kan, tapi saya jelasin saya mau kayak gini, mau nyoba ngelakuin sesuatu yang menurut saya bermanfaat, tapi Ayah saya sih dukung, jadinya Ibu ngikut Ayah,” tuturnya.

Sholahuddin Yazid

Lagi-lagi kegigihan Sholah membuahkan hasil, ia pun bisa menghadapi segala kendala dan selamat sampai kediamannya bertemu kedua orang tua. Tidak selesai disitu, dari pengalamannya tersebut, ia mencoba mendaftarkan diri untuk ikut Wrangler True Wanderer 2018. Dari 1000 finalis yang mendaftar, Sholah berhasil lolos 15 besar. Wah, hebat ya sobat biem!

“Untuk pemuda Indonesia, sebenarnya saya sendiri juga belum benar, tapi paling nggak pesan saya coba buang hal-hal yang kurang bermanfaat, jangan sering buang-buang waktu, manfaatin waktu kalian minimal buat diri kalian dulu lalu buat orang lain, jadi jangan dipakai untuk hal negatif, atau hal-hal yang gak negatif tapi buang-buang waktu, itu kalau bisa kurangin. Dan untuk mencoba sesuatu hal itu harus siap mental, kalian harus bisa melatih mental untuk kedepannya, siap sendiri menerima konsekuensi,” tutup Sholah.

Dari pengalaman-pengalaman Sholah di atas, jelas sangat menginspirasi ya sobat biem. Tidak ada alasan lagi untuk takut memulai hal-hal baru dan terus belajar. Semoga kedepannya akan banyak pemuda Banten yang seperti Sholah. (uti)

Editor : Happy Hawra

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar