InspirasiKesehatan

WHO Tetapkan Kecanduan Game sebagai Gangguan Kesehatan Mental

biem.co – Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) telah menjawab kekhawatiran orang tua dan masyarakat perihal kecanduan game. Pasalnya, WHO menetapkan kecanduan game sebagai gangguan kesehatan mental. Sehingga otomatis menjadi klasifikasi penyakit terbaru yang telah diteliti WHO.

Alasan WHO menetapkan kecanduan game termasuk gangguan mental adalah karena ditandai dengan perilaku yang berulang baik online maupun offline. WHO berharap dengan adanya keputusan ini, masyarakat diminta waspada dan melakukan pencegahan dini.

Kecanduan ini dalam jangka waktu tertentu, akan mengakibatkan hal yang sangat berbahaya seperti rusaknya hubungan sosial, pendidikan, juga kesehatan. Seseorang yang kecanduan game akan mengabaikan segala hal disekelilingnya terutama waktu istirahat.

“Gejala gangguan kesehatan mental ini, dapat diketahui dari pengulangan permainan game, meskipun ada efek negatifnya,” kata ahli kesehatan mental dan penyalahgunaan zat untuk WHO Vladimir Poznyak, seperti dikutip dari cnnindonesia.com. 

Shekhar Saxena, pakar kesehatan mental dan penyalahgunaan zat menyatakan kasus terburuk dalam penelitian global terdapat seorang yang benar-benar telah kecanduan game dan menghabiskan waktu selama 20 jam di depan monitor.

Dirinya melanjutkan bahwa memang pengguna video game hanya sebagian kecil saja. Namun, adanya penanganan awal dapat mencegah masalah besar terjadi.

Gangguan kesehatan mental ini dapat dibuktikan, jika telah mencapai waktu 12 bulan. Bahkan diagnosisnya dapat diketahui lebih cepat oleh tenaga medis profesional dibidangnya.

Di sisi lain keputusan ini menuai banyak kontroversi karena dinilai terlalu dini, mengingat landasan yang tak mendukung. Menurut psikolog dan peneliti dari Stetson University di DeLand, Christopher Ferguson menilai keputusan WHO tidak berdasarkan landasan kuat dan dinilai gegabah.

“Ada kekhawatiran yang luas bahwa ini adalah diagnosis yang tidak benar-benar memiliki landasan yang kuat,” sahutnya.

Hal tersebut di dukung pernyataan Anthony Bean seseorang Psikolog dari The Thelos Project bahwa banyak dari mereka menggunakan game hanya untuk sekedar melepas diri dari rasa kecemasan dan tekanan pekerjaan.

Sementara itu koalisi industri video games yang merupakan industri lobby game menyatakan bahwa produknya masuk akal dan mengandung nilai pendidikan, rekreasi dan hiburan serta digunakan lebih dari 2 milyar orang diseluruh dunia. Pihaknya mendesak WHO untuk mempertimbangkan kembali keputusan tersebut. (rai)

Editor : Esih Yuliasari

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar